Melanjutkan perilaku Yahudi, Allah menerangkan bhw hanya sebagian kecil dari mereka yg mau mengikuti perintah Taurat secara kaffah. Disebutkan bhw hanya sebagian kecil yg menerima syariat bertaubat (dg cara bunuh diri) dan perintah Allah utk berhijrah ke tanah yang dijanjikan setelah mereka terusir dari Mesir krn mereka takut dan enggan berperang (66), spt yg juga dijelaskan di ayat lain:

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. (Al Maaidah 5:24)

Sedangkan perintah bunuh diri sbg jalan taubat bagi umat Nabi Musa dijelaskan di ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (Al Baqarah 2:54)

Kemudian disebutkan juga, janji Allah kpd mereka kalau saja mereka taat dan menerima secara kaffah (menyeluruh) perintah Allah, tdk memilih2nya:

  1. Menjadi kebaikan bagi mereka; misalnya krn kota yg lebih aman dan berkah daripada tempat tinggal mereka sekarang
  2. Menjadi penguat iman mereka kpd Allah. Membuat kepercayaan mereka kpd Allah dan rasulNya tdk mudah goyah dan tdk mudah ingkar kpd (apalagi sampai membunuh) rasul2 yg diutus kpd mereka (spt Yahya)
  3. Pahala yg besar di sisi Allah (67)
  4. Ditunjukkan oleh Allah, bimbingan yg jelas kpd jalan yg lurus (68)
  5. Dimasukkan ke dlm golongan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan org Saleh (69)

Di sini, Allah mengatakan bhw golongan di atas ini sbg orang-orang yang diberi nikmat. Inilah yg dimaksud dg doa yg kita baca min 17x dlm sholat, dari ayat 7 surat Al Fatihah:

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al Fatihah 1:7)

Perintah Berperang

Bila panggilan berperang sudah diumumkan oleh Ulil Amri dan difatwakan oleh para ulama (terkait bahasan ODOP kemarin) maka mereka yang memenuhi kriteria wajib-ikut-perang harus taat dan ikut berperang, yakni:

  1. Siap siaga, melatih diri siap utk diterjunkan ke medan perang

Di ayat lain, dijelaskan juga perintah utk bersiap siaga ini:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al Anfaal 8:60)
2. Maju, berangkat ke medan perang, bergelombang dlm kelompok2 yg kecil ataupun sekaligus bersama2 dlm jumlah yg besar (71)

Di ayat lain dijelaskan juga kewajiban berangkat perang ini:

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (At Taubah 9:41)

Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (At Taubah 9:39)

Sikap Kaum Muslim terhadap Perintah Berperang

Allah selanjutnya menjelaskan sikap bbrp org dari kaum muslim ketika perintah berperang diumumkan oleh Ulil Amri dan diwajibkan atas mereka:

Kelompok Pertama

Mereka yang enggan, sengaja mengulur2 waktu agar tdk usah berperang.

Kalau ternyata perang kalah, mereka berpandangan, “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kpd saya krn saya tdk ikut berperang bersama mereka” (72)

Kalau ternyata perang menang, mereka pun akan berkata, “Wahai kiranya saya ada bersama2 mereka, tentu saya mendapat kemenangan” (73)

Kelompok Kedua

Mereka yg taat kpd Allah dan rasulNya, mereka inilah yg bersegera memenuhi perintah berperang.

Allah menegaskan bhw mereka ini adalah mereka yg rela menukar kehidupan dunianya dg kehidupan akhirat yg abadi (74).

Utk menguatkan tekad org beriman yg memenuhi panggilan berperang ini, Allah menegaskannya berkali2 di dalam Al Quran, spt di ayat berikut:

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (At Taubah 9:111)

Kelompok Ketiga

Mereka yg dibolehkan tdk ikut berperang (75), yakni:

  • Orang yg lemah (fisik dan mental)
  • Perempuan
  • Anak-anak

Mereka yg tdk ikut berperang ini diperintahkan agar memperbanyak berdoa agar segera keluar dari daerah konflik, dan memohon perlindungan serta pertolongan Allah sbb:

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا

“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”. (75)

Kelompok Keempat

Ayat 77 ini menarik, krn ternyata Allah menjelaskan ada orang dari kalangan kaum muslim, yg mereka taat dlm menjalankan ibadah2 individual (spt mendirikan sholat) dan juga taat dlm mengerjakan ibadah2 sosial (spt menunaikan zakat), tetapi mereka tdk mau ikut berperang krn takut. Sangat takutnya, shg dikatakan takutnya mereka kpd musuh jauh melebihi rasa takutnya kpd siksa Allah krn menolak turun berperang.

Allah kemudian implisit berpesan kpd kita agar tdk terjerumus menjadi kelompok ini dengan menguatkan ke dlm jiwa kita bhw:

  • Dunia hanya sementara. Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik utk orang2 yg bertakwa, dan (amal) kamu tdk akan dianiaya sedikit pun. (77)
  • Kematian adalah takdir, ketetapan yg sudah ditentukan dan tdk bisa dihindari sedikit pun. Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, walaupun kamu (bersembunyi) di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (78)

Terakhir Allah menegaskan juga, bhw kemenangan dan kekalahan dlm perang adalah semua terjadi atas izin Allah SWT – maksudnya kekalahan dan kemenangan itu pasti mengikuti hukum sebab akibat, sunnatullah (spt yg dijelaskan dlm teknik ilmu perang militer) (78).

Akan tetapi Allah mengingatkan, kebaikan apa pun yg kita alami dlm peperangan (spt keselamatan, kesehatan dan kemenangan) adalah karena karunia dan Rahman Rahim Nya. Sedangkan kesulitan, bahaya dan keburukan yang dialami dlm peperangan adalah berasal dari kurangnya ilmu (strategi peperangan) atau lemahnya iman dan banyaknya dosa kita (79).

Di sini implisit Allah berpesan kpd kita agar kita tdk menyerah, pasrah ketika mengalami kekalahan, ttp justru menjadikan kekalahan tsb sbg introspeksi thd penguasaan ilmu yg dibutuhkan (spt ilmu strategi militer atau ilmu kedokteran), aplikasi ilmu2 tsb dlm situasi peperangan yg kita hadapi, dan juga introspeksi atas keimanan dan ketakwaan kita kpd Allah SWT.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam