Taat kpd Rasul dan Kesempurnaan Al Quran

Allah menjelaskan bahwa siapa pun yg taat kpd Rasulullah berarti dia sdh menaati Allah. Sebaliknya, siapa yg menentang Rasulullah maka akan dilaknat Allah dan bukanlah kewajiban Rasulullah utk melindungi mereka dari azab Allah (80).

Selanjutnya Allah menerangkan bagaimana sikap kaum munafik yang mengiyakan dan bersikap patuh di depan Rasulullah ttp menentangnya di belakang Rasulullah. Kita kemudian diperintahkan utk meninggalkan dan jauh2 dari orang munafik ini sambil menguatkan tawakal kita, meneguhkan bhw Allah lah satu2nya pelindung dari kejahatan hasil rencana kaum munafik tsb (81).

Salah satu sebab org munafik berbuat demikian adalah krn mereka ragu akan kerasulan Muhammad SAW. Maka Allah menantang mereka dg Al Quran yg dibacakan Nabi SAW kpd mereka.

Allah menyatakan bhw kalau saja Al Quran itu berasal bukan dari Dia (misalnya dari kreasi Nabi mengutip kitab Taurat dan Injil atau krn Nabi berbakat dlm berpuisi) maka pastilah akan ditemui pertentangan antara ayat satu dg ayat lainnya (82). Kalau melihat ada 6236 ayat Al Quran, maka sangat sulit membuat ayat2nya satu sama lain konsisten krn diturunkan berangsur2 dlm jangka waktu yg cukup lama, 23 tahun. Ini pun turunnya dilatarbelakangi oleh berbagai macam kejadian insidental yg tdk bisa diatur2 yang dialami oleh Nabi, para sahabat dan juga musuh2nya.

Allah banyak sekali menegaskan kesempurnaan Al Quran ini, bbrp di antaranya sbb:

…Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Al An’aam 6:38)

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. (Huud 11:13)

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Al Baqarah 2:23)

Perintah Tabayun sebelum Menyebarkan Berita

Ayat 83 menjelaskan larangan kita berpendapat, menyebarkan dan mengambil sikap/tindakan atas berita yg belum dicek kebenarannya. Perintah ini berkaitan dg fitnah yang disebarkan oleh kaum munafik yang diterangkan di ayat2 berikutnya (88-91).

Di ayat lain dijelaskan pula larangan kita mengikuti (apalagi menyebarkan) hal yg tdk dikuasai atau diketahui kebenaran beritanya:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Israa’ 17:36)

Adab dlm Berperang

Di ayat 84 Allah menjelaskan sedikit mengenai perintah ketika berada di medan perang:

  • Jangan khawatir atas kegagalan atau ketidakmampuan kita utk berperang di jalan Allah. Cukuplah laksanakan kewajiban kita utk berjihad sebaik dan sesempurna mungkin, dan serahkan hasil akhirnya kpd Allah (krn Allah tdk akan membebani seseorang selain hanya kewajiban kamu sendiri)
  • Menjaga semangat, optimisme, dan menyemangati mereka yg sama2 sedang berperang
  • Terus berdoa agar Allah memenangkan kita dari kaum kafir. Di sini, Allah mencontohkan doa Thalut ketika pasukannya yg tinggal sedikit harus berhadapan dg pasukan Jalut yg jauh lebih besar, di ayat berikut:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. (Al Baqarah 2:250)

Allah kemudian menjanjikan pahala bagi siapa pun yg memberikan bantuan kpd pasukan muslim dan ancaman dosa bagi yg membantu pasukan kafir.

Adab Membalas Penghormatan

Allah kemudian memerintahkan kewajiban membalas penghormatan (dlm bentuk salam, hadiah, dll) kpd siapa pun dg penghormatan yang minimal sama dg yg kita terima, sebab, sesungguhnya Allah selalu memperhitungkan segala sesuatu yang kecil maupun yang besar (86).

Melihat konteks ayat ini di tengah2 pembahasan mengenai perang dan orang munafik, mgkn Allah implisit berpesan kpd kita agar kita tetap berlaku baik, membalas salam, kirim2an makanan dll dari mereka dg yg sama atau yg lebih baik, walaupun kita tahu mereka membenci atau memusuhi Islam.

Terkait ini, mgkn kita ingat juga bagaimana pesan Allah kpd kita dlm menghadapi mereka di ayat sebelumnya (63):

  1. Berpaling dari mereka, tdk perlu menerima maafnya, tdk perlu bermuka manis atau berlebihan menghormati mereka – (berpalinglah kamu)
  2. Memberi nasehat dan petunjuk ke jalan kebaikan dg cara yg berkesan shg hati mereka menjadi lunak – (berilah mereka pelajaran)
  3. Berkata tegas dg perkataan yg membekas di hati mereka akan ancaman konsekuensi kalau mereka terus bersikap munafik, dan pahala serta kebaikan kalau mereka benar2 meninggalkan sikap munafik – (katakanlah kpd mereka perkataan yg membekas jiwa)

Perilaku Kaum Munafik

Allah kemudian memperingatkan agar kita berhati2 tdk terkecoh dan tdk diadu domba (disimbolkan terpecah menjadi 2 golongan – mereka yg pro dan yg kontra) oleh sikap2 orang munafik yang menampakkan keislamannya dan menyembunyikan kekafirannya, shg mengaburkan kita apakah mereka musuh atau kawan. Terhadap yg mendukung mereka, Allah implisit menegur, apakah yakin dg mendukung mereka, masuk ke dlm sistem mereka, maka akan membuat mereka tergugah kembali ke jalan lurus? (88). Bahkan di ayat selanjutnya ditegaskan lagi, bahwa mereka menginginkan supaya kita kembali kafir – menjadi munafik sama spt mereka, membenci, tdk mau taat secara kaffah thd Islam dan ayat2 Al Quran (89).

Di akhir ayat 89, Allah dengan tegas memerintahkan kita:

  1. Tidak menjadikan mereka (kaum munafik) sbg wali (penolong, pemimpin, org yg pendapatnya didengar, pengambil keputusan strategis) sampai mereka kembali taat kpd Allah dan rasulNya
  2. Memproses mereka secara hukum yg berlaku dimana saja kita ketemu dg mereka.

Sbg informasi, kalau dlm adat suku2 di Arab dulu belum dikenal hukum spt sekarang ini shg hukum yg umum dikenakan oleh org yang berbuat kesalahan besar adalah hukum tangkap dan bunuh.
3. Jangan sekali2 seorang pun dari mereka, kita dengarkan pendapatnya, kita mintakan perlindungannya, atau kita jadikan mereka pengambil keputusan strategis

Ketiga hal di atas tidak boleh dilakukan kalau (90):

  • Mereka sdh ada perjanjian damai dg kita
  • Mereka yg terpaksa memusuhi dan ikut memerangi kita dg berbagai sebab
  • Mereka sdh tdk lagi mengganggu, tdk lagi memusuhi dan tdk memerangi kita dan menyepakati perdamaian dg kita

Di ayat 91, Allah mensinyalir adanya kelompok oportunis: mereka takut dan berdamai dg kita, dan mereka juga takut kpd kelompok munafik ttp mereka mudah/cepat mendukung dan terbawa fitnah yg disebarkan oleh kelompok munafik. Utk kelompok ini, Allah memerintahkan kita utk memproses mereka secara hukum, disamakan dg hukum yg diberlakukan kpd kaum munafik yg disebutkan di ayat 88-89.

Sbg catatan akhir, kebanyakan mufasir sepakat bhw yg dimaksud mereka di dalam ayat2 di atas adalah kaum munafik, bukan musyrik dan bukan ahli kitab. Munafik adalah mereka yg tampak beriman kalau di depan umum ttp sebenarnya sangat membenci aturan Allah dan ayat2 Al Quran.

Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam. Mudah2an kita terhindar dari fitnah kaum munafik ini dan juga dari sifat2 mereka, serta diberi pertolongan dan kekuatan utk melawan mereka. Aamiin YRA.