Surah An-Nuur termasuk kelompok surah Madaniyah. Surah ini banyak menjelaskan mengenai berbagai aspek persoalan perempuan dan etika hukum dalam pergaulan dan bermasyarakat. Di dalam satu hadits, Nabi SAW bersabda,

Ajarkanlah surah Al Maaidah kepada kaum laki-laki kalian, dan ajarkanlah surah An-Nuur kepada kaum perempuan kalian

Surah An-Nuur ini dibuka dengan penjelasan atas keistimewaan kandungan surah ini, yakni ayat-ayat muhkamat sebagai dasar halal, haram dan penetapan hukum Islam, dimana kita diwajibkan melaksanakannya.

Hukum Pelaku Zina

  1. Sanksi atas perempuan dan laki-laki yang berzina yang belum menikah dalam bentuk pukulan/dera 100 kali per individu (2). Menarik di sini, Allah menyebutkan 2 hal yang harus diperhatikan - agar hukuman ini efektif:
  • Hukuman harus dilaksanakan dengan tegas, tidak pandang belas kasihan kepada pelakunya, tidak meringankan hukuman yang sudah ditetapkan Allah ini
  • Eksekusi hukuman harus dapat disaksikan oleh masyarakat agar memberikan efek takut dan jera, untuk menggugah kesadaran mereka yang beriman kepada Allah dan meyakini akan kepastian balasan amal di akhirat.
  1. Dilarangnya seorang pelaku zina menikahi orang beriman. Mereka hanya pantas menikah dengan sesama pezina dan orang musyrik (3). Menurut pendapat kebanyakan ulama, ayat ini digantikan (nasakh) dengan ayat 32 surah yang sama sbb:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Hukum Menuduh Seseorang Berzina

Allah memberikan pedoman yang jelas bagi mereka yang menuduh berzina kepada orang lain atau istri/suaminya.

  1. Sanksi atas mereka yang menuduh berzina kepada perempuan dengan tidak ada saksi yang cukup, berupa 80 kali pukulan/dera dan tidak diterimanya kesaksian mereka selama-lamanya (4), sampai mereka bertaubat dan memperbaiki diri (5)

  2. Hukum suami yang menuduh istrinya berzina (dalam bentuk sumpah dengan nama Allah), dan istri bila menolak tuduhan suaminya tersebut (dalam bentuk sumpah dengan nama Allah) (6-10)

Ayat 4-10 di atas menunjukkan betapa Islam menjunjung tinggi hak orang lain di dalam masyarakat sehingga taubat personal dianggap belum cukup untuk mengembalikan nama baik orang lain yang sudah tercemar.

Hukum Menyebarkan Berita Bohong

Ayat 11-22 menjelaskan peristiwa Al-Ifk, ketika Aisyah RA menemani Nabi SAW dalam perjalanan pulang dari peperangan Bani Al-Mushthaliq (Perang Al-Muraisi'). Sebagaimana diceritakan oleh Aisyah RA di dalam tafsirnya dan juga tafsir Ibnu Hatim (8/2545), saat itu Aisyah RA tertinggal dari rombongan karena mencari kalungnya yang terjatuh di tempat peristirahatan pasukan. Akhirnya beliau tertidur dan ditemukan oleh Shafwan bin Mu'aththal RA, yang membawanya hingga berhasil menyusul rombongan utama pasukan. Sesampainya di Madinah, Aisyah RA sakit selama sebulan, sementara berita bohong mengenai beliau dalam peristiwa tersebut ramai disebarkan oleh Abdullah bin Ubay dan dibantu oleh Hasan bin Tsabit, Misthah dan Hamnah binti Jahsy kepada masyarakat Madinah. Nabi SAW pun terpengaruh oleh berita tersebut hingga memanggil Ali bin Abi Thalib RA dan Usamah bin Zaid RA untuk dimintakan pandangan mereka. Hingga dua bulan setelah peristiwa tersebut, barulah turun wahyu ayat 11-22 yang mengklarifikasi peristiwa tersebut dan memberikan teguran kepada kaum Mu'minin di Madinah sbb:

  1. Mengapa ketika mereka (kaum Mu'minin Madinah) mendengar berita miring mengenai Aisyah RA, mereka tidak mendahulukan prasangka baik kepada Aisyah RA? (12)

  2. Mengapa mereka tidak mendatangkan empat orang saksi untuk mengklarikasi berita miring tersebut? (13)

  3. Kalau saja bukan karena rahmat Allah kepada mereka, pasti sudah disegerakan hukuman atas kesalahan mereka dalam menghadapi berita tersebut (14). Kesalahan ini dijelaskan lebih rinci:

  • Menerima berita bohong dengan mulut mereka: sengaja menanyakannya, menyebarkannya dari mulut ke mulut, tidak hanya sekedar mendengarnya tidak sengaja

  • Membicarakan sesuatu yang mereka tidak memiliki pengetahuan tentangnya, dan tidak memiliki dalil dan bukti (15). Padahal ini dilarang Allah dalam ayat yang lain:
    Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Israa 17:36)
    ...Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya... (Ali Imran 3:167)

  • Menganggap perbuatan tersebut adalah hal yang biasa dan remeh, padahal di sisi Allah SWT hal itu sangat serius, sangat besar dosanya dan ancaman sanksi hukuman yang keras (15)

Penegasan rahmat dan karunia Allah ini diulangi kembali di ayat 20, yang menunjukkan betapa besarnya dosa dari perbuatan mereka ini.

  1. Mengapa mereka tidak sungkan dan malu membicarakan berita miring mengenai istri Nabi SAW yang begitu mereka muliakan? Padahal mereka mengetahui benar sosok Aisyah RA dan juga sosok Nabi SAW dan perjuangannya membawa Islam kepada mereka (16)

  2. Allah mengancam dan melarang mereka agar jangan pernah mengulangi perbuatan tersebut selama-lamanya sebagai salah satu bukti kesempurnaan keimanan mereka (17)

  3. Allah kemudian menerangkan azabNya yang keras di dunia dan akhirat bagi mereka yang sengaja bermaksud agar berita miring tersebut tersebar di kalangan orang beriman (19)

  4. Kepada mereka yang terlibat aktif menyebarkan fitnah ini (Abdullah bin Ubay, Hasan bin Tsabit, Misthah dan Hamnah binti Jahsy), Allah membuka pintu ampunanNya bagi mereka yang bertaubat. Allah akan membersihkan dosa mereka yang benar-benar bertaubat kepadaNya (21)

  5. Terakhir, Allah menegur Abu Bakar RA (ayah Aisyah RA) yang bersumpah menghentikan bantuannya kepada saudara sepupunya yang yatim yang ikut menyebarkan berita miring tersebut: Misthah RA. Sepupunya ini sebelumnya ikut dalam perang Badar dan dalam pengasuhan Abu Bakar RA. Allah memerintahkan agar Abu Bakar berlapang dada dan memaafkan kesalahannya karena dia sudah bertaubat, agar kembali bersikap seperti sebelum terjadinya peristiwa tersebut. Di dalam redaksi ayat 22 Allah mencontohkan DiriNya yang tetap mengampuni hambaNya yang sudah bertaubat (22).

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (24:22)

Ayat 23-25 menjelaskan laknat dan azab yang besar bagi mereka yang menuduh perempuan baik-baik (salah satunya dalam kisah Aisyah RA di atas), dan merupakan salah satu dari tujuh dosa besar sebagaimana hadits Nabi SAW:

"Jauhilah tujuh dosa besar yang membinasakan." Para sahabat bertanya kepada beliau, "Apakah tujuh dosa besar itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "(1) Berbuat syirik terhadap Allah SWT, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang diharamkan Allah SWT membunuhnya melainkan dengan alasan yang benar, (4) memakan riba, (5) memakan harta anak yatim, (6) melarikan diri dari pertempuran, dan (7) menuduh berzina kepada perempuan yang terhormat, terjaga, terlindungi dan beriman" (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Allah kemudian menegaskan bersihnya Aisyah RA dan Shafwan bin Mu'aththal RA dari tuduhan perselingkuhan tersebut dan menyebutkan bahwa keduanya adalah ahli surga (26).

Kehati-hatian dalam menerima berita, berprasangka baik terhadap berita miring mengenai orang beriman serta besarnya ancaman siksa Allah kepada mereka yang terlibat di dalamnya (menanyakan, menyebarkan, dan membicarakannya) menjadi sangat penting saat ini dimana setiap orang dapat menuliskan apa saja dan membaginya kepada siapa saja di media sosial. Nabi SAW di dalam satu hadits berkata,

Janganlah kamu sekalian menyakiti para hamba Allah SWT: janganlah kalian mencela dan menjelek-jelekkan mereka, dan janganlah kalian mencari-cari aib dan kekurangan mereka, karena siapa pun yang mencari-cari aib dan kekurangan sesama Muslim, maka Allah SWT akan mencari-cari aib dan kekurangannya sekalipun yang ia lakukan di rumahnya (HR Ahmad)

Di ayat lain, Allah SWT mengibaratkan menyebarkan berita miring sesama orang beriman sebagai perbuatan yang menjijikkan, sama hinanya seperti memakan daging mereka yang sudah mati:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (Al Hujuraat 49:12)

Na'udzubillahi min dzalik. Semoga kita semua terhindar dari menyebarkan berita miring, keburukan dan aib sesama orang beriman. Aamiin.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.