Adab Bertamu

Allah menjelaskan kepada orang beriman adab bertamu ke rumah orang lain sbb (27-29):

  1. Meminta izin sebelum memasuki rumah orang lain
    Permisi minta izin disunnahkan sebanyak tiga kali, sebagaimana diterangkan di dalam hadits berikut:

"Apabila salah seorang dari kalian sudah permisi minta izin sebanyak tiga kali, lalu tidak ada yang mempersilakannya masuk, maka hendaklah ia pergi." (HR Malik, Ahmad, Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Kewajiban permisi minta izin ini tidak ada perbedan antara laki-laki dan perempuan, kerabat mahram maupun non-kerabat mahram karena hukum ini bersifat umum, sekalipun orang yang datang berkunjung adalah orangtua atau anak sendiri, sebagaimana dituturkan dalam hadits berikut:

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, apakah aku juga perlu permisi minta izin ketika mau masuk menemui ibuku?" Beliau menjawab, "Ya." Laki-laki itu kembali berkata, "Aku tinggal serumah dengan ibuku." Beliau berkata, "Kamu tetap harus permisi minta izin." Laki-laki itu kembali berkata, "Ibuku tidak memiliki pembantu selain diriku, apakah aku juga tetap permisi minta izin setiap kali aku hendak masuk menemuinya?" Beliau berkata, "Ya. Apakah memang kamu ingin melihat ibumu ketika sedang tidak berpakaian lengkap?" Ia berkata, "Tidak." Beliau pun berkata, "Maka, permisi minta izinlah kamu setiap kali hendak masuk menemuinya." (HR Malik)

  1. Memberi salam kepada penghuninya
    Salam juga dilakukan sebanyak tiga kali sebagaimana keterangan dalam sebuah hadits:

Bahwasanya Rasulullah SAW permisi minta izin masuk menemui Sa'd Ibnu Ubadah RA dengan berucap, "As-Salaamu 'alaikum wa rahmatullahi." Lalu Sa'd Ibnu Ubadah RA pun menjawab salam beliau itu, "Wa 'alaikum salaam wa rahmatullahi," namun dengan suara yang tidak bisa didengar oleh Rasulullah SAW, hingga beliau pun mengulangi ucapan salam sebanyak tiga kali, dan Sa'd Ibnu Ubadah RA pun menjawabnya sebanyak tiga kali juga. (HR Ahmad dari Anas RA)

Di dalam hadits lain, kita juga diminta memperkenalkan diri pada saat permisi minta izin masuk:

Aku permisi minta izin untuk masuk menemui Rasulullah, lalu beliau bertanya, "Siapa itu?" Lalu kau menjawab, "Saya." Lalu beliau berkata, "Saya, saya!" dengan nada sepertinya beliau tidak suka dengan jawabanku itu (HR Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah RA)

  1. Menunggu di luar, kalau ternyata tidak ada orang di rumah, kecuali mendapatkan izin

Di dalam salah satu hadits, dijelaskan sebaiknya menunggu di luar pun bukan dalam posisi yang bisa mengintip ke dalam rumah untuk menghindarkan diri dari melihat aurat dan privasi orang lain:

"Barangsiapa melihat ke dalam rumah suatu kaum tanpa seizin mereka, maka halal bagi mereka memecahkan matanya." (HR Muslim)

  1. Kembali dan meninggalkan rumah, kalau ternyata penghuni rumah sedang keberatan menerima kunjungan
  2. Diperbolehkan memasuki bangunan kosong yang bukan rumah tinggal, selama ada keperluan

Adab Pergaulan Laki-laki dan Perempuan

Kemudian Allah menjelaskan beberapa hukum terkait pergaulan dan penjagaan bagi laki-laki dan perempuan di bawah ini (30-31). Menarik memperhatikan bagaimana bahasan ayat-ayat ini sangat detail dan spesifik. Besar kemungkinan hikmahnya untuk mengantisipasi masa akhir zaman dimana perilaku seksual yang bebas adalah salah satu kezaliman yang sangat umum dan meluas di masyarakat.

  1. Bagi laki-laki, menjaga kesucian diri mereka dengan:
  • Menahan pandangan dari segala yang membangkitkan syahwat. Di dalam satu hadits Nabi SAW menerangkan,

    "Wahai kamu sekalian, hindarilah duduk-duduk di jalanan." Mereka berkata, "Ya Rasulullah, kami tidak bisa meninggalkan majelis-majelis tempat kami bertemu dan berbincang-bincang." Lalu Rasulullah bersabda, "Jika memang kalian tetap terpaksa harus duduk-duduk di majelis itu, maka berikanlah haknya jalan." Mereka bertanya, "Apakah hak jalan itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Menahan penglihatan, menjauhkan gangguan, menjawab salam, amar ma'ruf nahi mungkar." (HR Bukhari)

  • Menjaga organ reproduksinya, tidak menyalahgunakannya dengan cara dan perilaku yang dilarang. Nabi bersabda,

"Peliharalah auratmu kecuali dari istrimu atau sahaya peremupuan milikmu" (HR Imam Ahmad)

  1. Bagi perempuan, menjaga diri mereka dengan:
  • Menahan pandangan dari segala yang membangkitkan syahwat. Di dalam salah satu hadits Qudsi, Allah SWT berfirman,

    Sesungguhnya pandangan adalah salah satu anak panah Iblis yang beracun. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku maka Aku akan menggantinya dengan sebuah keimanan yang ia merasakan manisnya dalam hati. (HR Ath-Thabrani)

  • Menjaga organ reproduksinya, tidak menyalahgunakannya dengan cara dan perilaku yang dilarang. Rasulullah SAW bersabda,

    "Telah ditetapkan atas anak cucu Adam bagiannya dari zina yang pasti akan menimpa dirinya. Zina kedua mata adalah memandang. Zina lisan adalah ucapan. Zina kedua teliga adalah mendengarkan. Zina kedua tangan adalah menyentuh. Zina kedua kaki adalah melangkah. Jiwa mengharapkan dan menginginkan, sementara kemaluan yang menentukan." (HR Bukhari dan Muslim)

  • Menutup anggota tubuhnya agar tidak menarik perhatian publik kecuali apa yang biasa terbuka menurut kebiasaan masyarakat. Di dalam satu hadits, Nabi bersabda,

    Asma binti Abu Bakar RA masuk menemui Rasulullah dengan mengenakan pakaian yang tipis. Lalu Rasulullah pun berpaling darinya dan berkata, "Wahai Asma, jika seorang perempuan telah mencapai usia haid, maka tidak boleh ada bagian tubuhnya yang terlihat kecuali ini dan ini (sambil menunjuk wajah dan kedua telapak tangan beliau)." (HR Abu Dawud)

  • Menyamarkan bentuk dada mereka dengan menutupkan kain kudung ke atasnya

  • Tidak memperlihatkan keindahan tubuh mereka, kecuali kepada:

    • Suami
    • Ayah dan ayah mertua
    • Anak kandung atau anak dari suami
    • Kakak/adik kandung laki-laki
    • Anak dari kakak/adik kandung
    • Perempuan muslimah
    • Budak yang dimiliki
    • Pelayan laki-laki yang tidak mempunyai syahwat
    • Anak kecil yang belum mengerti aurat perempuan
  • Sederhana dalam berjalan, menghindari cara berjalan yang menarik perhatian atau membangkitkan syahwat. Di ayat lain, disebutkan juga, tuntunan untuk sederhana dalam berjalan sebagai bentuk menghindari sikap sombong dan membanggakan diri:

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Luqman 31:18)

Mendorong Pernikahan di dalam Masyarakat

Ayat 32 menjelaskan pernikahan dengan konteks, perintah kepada masyarakat Islam (atau Pemerintah) agar mendorong dan memberikan kemudahan-kemudahan bagi orang yang masih single dan sudah mencukupi umurnya untuk segera menikah.

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan...

Sebagian ulama mazhab Hanafi menjadikan tekstual ayat 32 ini sebagai dalil dibolehkannya laki-laki merdeka menikah dengan perempuan budak walaupun ia memiliki kemampuan membayar mahar perempuan merdeka. Sementara ulama mazhab Syafi'i melarangnya dengan berdasarkan ayat berikut:

Barangsiapa di antara kalian tidak mampu menikahi wanita merdeka yang beriman, maka ia boleh mengawini budak wanita beriman... (An Nisaa 4:25)

Selanjutnya dinyatakan bahwa kondisi ekonomi tidak boleh menjadi penghalang pernikahan karena Allah lah yang menjamin karunia-Nya, dan Dia pula yang akan memampukan mereka - hambaNya ini. Jaminan Allah akan jatah rezeki setiap makhluk ini ditegaskan di ayat berikut:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (Huud 11:6)

Bahkan Allah sangat mencela mereka yang membunuh anak-anaknya karena takut miskin pada ayat berikut:

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (Al Israa 17:31)

Kemudian bagi mereka yang karena satu dan lain hal belum menikah, maka mereka diperintahkan untuk mencari cara-cara (seperti puasa dan olahraga) untuk menjaga kesucian dirinya hingga saatnya mereka menikah (33).

Hukum Berkaitan dengan Budak Mukaatab dan Pemaksaan Melakukan Perzinahan

Ayat 33 juga menjelaskan mereka yang memiliki budak Mukaatab (budak yang bisa mengajukan penebusan dirinya), diperintahkan untuk memberi kemudahan finansial kalau budak tersebut hendak menebus dirinya. Kemudian di akhir ayat yang sama, Allah mengharamkan mereka yang memiliki budak ini, memaksa budaknya bekerja sebagai pelacur.

Ayat ini dan beberapa ayat lain yang mengatur perbudakan menunjukkan misi Islam untuk mengakhiri budaya perbudakan. Islam mengatur masalah perbudakan bukan untuk mendukungnya, melainkan memberikan hukum yang jelas permasalahan perbudakan pada masa itu, dan di saat yang sama mendorong umatnya meninggalkan perbudakan.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.