Dua Cahaya Allah

Di ayat 34-35, Allah memperkenalkan dua cahaya-Nya.

Pertama adalah cahaya pada kalamNya, yakni ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung hikmah. Ini diterangkan di dalam beberapa ayat berikut:

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Asy-Syura 42:52)

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran). (An-Nisa 4:174)

Ayat 34 menerangkan cahaya Allah pada ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung 3 hal pokok:

  1. Penjelasan atas permasalahan yg sebelumnya diperselisihkan (seperti kisah Isa AS)

  2. Kisah teladan orang-orang saleh terdahulu, para Nabi dan shiddiqin, sebagaimana dinyatakan dalam ayat lain:

    Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Maryam 19:58)

    Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (An Nisaa 4:69)

  3. Pelajaran hikmah yang diperuntukkan bagi orang yang bertakwa (34), sebagaimana dinyatakan juga di beberapa ayat lain:

    (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Ali Imran 3:138)

    Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Haqqah 69:48)

Kedua adalah cahaya yang meliputi keseluruhan alam semesta, yang memberi denyut kehidupan pada segala yang ada di langit dan di bumi, sebagaimana diterangkan di awal ayat 35 berikut:

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi... (35)

Hati yang Diterangi Cahaya Allah

Selanjutnya digambarkan hati yang diterangi cahaya Allah yang pertama, yakni Al-Qur'an yang penuh hikmah, pada lanjutan ayat 35:

...Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (MISYKAT), yang di dalamnya ada pelita besar (MISBAH). Pelita itu di dalam kaca (ZUJAJAH). Kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis)... (35)

Menurut Ath-Thabari (wafat 310 H) di dalam tafsirnya dan dikutip oleh banyak Mufasir lain, ayat ini menjelaskan kondisi hati yang dipenuhi oleh cahaya Allah yang digambarkan sebagai berikut (35):

  1. Dada manusia diibaratkan seperti lubang cerukan di dinding yang ajeg, kokoh, tidak tembus, terlindungi (MISYKAT).
  2. Di dalam dada tersebut terdapat pelita besar (MISBAH), perlambang cahaya Allah, yakni ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung hikmah. Misbah ini gambarannya seperti api yang menyala pada sumbu lampu, tetapi sangat terang hingga tidak tampak lagi sumbunya.
  3. Pelita tersebut berada di dalam kaca (ZUJAJAH) - yang menggambarkan hati hamba pilihanNya.
  4. Kaca yang berisi pelita yang menyala ini dari luar tampak indah bak mutiara dan terang bersinar seperti cahaya bintang
  5. Di bawah pelita ini terdapat minyak zaitun yang menyalakan apinya. Minyak zaitun ini menggambarkan bahan dasar hati manusia.
  6. Minyak zaitun ini sangat terpilih, berasal ekstrak buah dari pohon zaitun yang penuh berkah. Ini mengumpamakan hati yang dipupuk kesuciannya melalui amal saleh yang bermanfaat - sebagaimana pohon zaitun yang sangat banyak manfaatnya
  7. Kemudian digambarkan minyak zaitun ini berasal dari buah yang sempurna matangnya karena mendapat panas matahari sempurna (pohonnya tumbuh tepat di tengah menghadap matahari, tidak condong miring ke barat atau ke timur). Ini mengumpamakan hati yang lurus, hanif, mengesakan Allah semata, menggantungkan segala harapan dan kekhawatirannya hanya kepada Allah semata
  8. Sedemikian murninya minyak zaitun ini hingga minyaknya saja sudah berpendar terang walaupun belum disentuh oleh api. Sedemikian murni dan sucinya hati hamba pilihan ini hingga seakan dia sudah menerima kilasan-kilasan kalam Ilahi, memahami makna ayat-ayatNya - bahkan sebelum cahaya Allah tersebut sampai ke dalam hatinya, sebelum Al-Qur'an tersebut dibacakan ke hadapannya.
  9. Maka pelita besar di dalam kaca mutiara yang bercahaya tersebut tampaklah seperti cahaya yang berlapis-lapis. Cahaya di atas cahaya. Cahaya yang berasal dari pertemuan hati yang murni, hati yang dipupuk kesuciannya (melalui amal saleh dan ketauhidan) dengan cahaya Allah.

Di dalam satu hadits, Nabi SAW bersabda,

"Waspadalah dan hati-hatilah kalian terhadap firasat seorang Mukmin karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah SWT." (HR Bukhari dan Abu Dawud)

Allah kemudian menutup ayat ini dengan dua penekanan:

... Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (35)

  1. Hati yang seperti ini hanyalah diberikan kepada hamba pilihanNya. "Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki."
  2. Hanya Dialah yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu. Tidak seorang pun yang mengetahui gambaran perumpamaan hati di atas kecuali hanya Allah SWT semata.

Sebagai tambahan, di ayat lain Allah juga memberikan perumpamaan dengan pohon untuk amal yang baik dan buruk, mirip dengan perumpamaan pohon zaitun yang menghasilkan minyak zaitun pilihan di atas.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. (Ibrahim 14:24-26)

Ciri Hamba Pilihan yang Mendapat Cahaya Allah

Setelah menggambarkan keadaan hati hamba yang diterangi cahaya Allah, ayat selanjutnya menggambarkan ciri karakter khas hamba pilihan ini:

  1. Mereka adalah penghuni masjid, yang tekun berlama-lama berdzikir di dalam masjid (36)
  2. Hati mereka tidak terlena oleh dunia, selalu berdzikir mengingat kepada Allah, mendirikan sholat dan menunaikan zakat
  3. Mereka sangat takut dengan dahsyatnya azab hari kiamat, dan khawatir apakah dirinya akan selamat atau binasa (37)

Allah kemudian menjanjikan dua hal bagi mereka, yakni (38):

  • Balasan keberkahan yang lebih baik daripada amal mereka
  • Tambahan karunia dan jaminan atas rezeki mereka tanpa batas

Hati yang tidak Mendapatkan Cahaya Allah

Kontras dengan balasan yang diterima oleh hamba pilihan di ayat sebelumnya, Allah menerangkan bahwa balasan atas amal orang kafir adalah hampa dan penuh penyesalan. Dijelaskan di ayat 39, amal mereka laksana fatamorgana, disangkanya amal tersebut akan menambah timbangan kebaikan di akhirat namun apa daya semua hampa dan sia-sia. Yang tertinggal hanyalah penyesalan karena perhitungan amal di akhirat tersebut sudah menjadi ketetapan Allah yang tidak dapat diubah. Penyesalan akan hampanya amal ini dijelaskan dalam beberapa ayat lain sbb:

Katakanlah, "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (Al Kahfi 18:103-104

Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Ali Imran 3:117)

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Al Furqan 25:23)

Ayat selanjutnya menerangkan keadaan hati orang kafir ini sebagai kontras keadaan hati yang dipenuhi cahaya Allah di ayat sebelumnya (40):

  • Hatinya gelap. Hitam, laksana gelapnya dalam lautan di malam hari yang diliputi awan tebal yang hitam pekat. Maka dikatakan, dia mengalami kegelapan hati yang bertumpuk-tumpuk, sebagai kontras cahaya di atas cahaya pada hamba pilihanNya.
  • Sedemikian gelapnya hingga dia tidak mampu melihat tangannya sendiri, yang bermakna, dia bahkan sudah tidak lagi mengenali jati dirinya sendiri.

Di akhir ayat 40, ditegaskan bahwa kegelapan itu tidak lain karena tidak adanya cahaya Allah, dan tidak ada yang mampu memberikan cahaya Allah kecuali Allah SWT sendiri, sebagaimana juga dijelaskan di ayat lain:

Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk. Allah membiarkannya terombang-ambing di dalam kesesatan. (Al A'raf 7:186)

Alam Semesta yang Bertasbih kepada Allah SWT

Ayat berikutnya menerangkan bahwa alam semesta termasuk semua yang ada di langit dan bumi adalah aktif beribadah dan bertasbih kepada Allah. Mereka ini disebutkan memiliki cara beribadah dan bertasbihnya sendiri (41).

Lebih luas lagi, bukan hanya beribadah dan bertasbih, tetapi juga mereka diciptakan oleh Allah dan semuanya pasti akan kembali kepada Allah (42). Allah menerangkan bukti Dia sebagai Pencipta dengan menerangkan beberapa contoh proses di alam, yang tidak mungkin ada yang mengetahui proses alam ini kecuali Penciptanya:

  • Proses terjadinya hujan sebagai hasil interaksi awan, air, es dan kilat yang menyertainya (43).
  • Proses pergantian siang dan malam. Ayat ini menggunakan kata "yuqallibu" yang bermakna membalikkan sesuatu sehingga berganti posisi. Belakangan secara ilmiah diketahui bahwa pergantian siang dan malam tersebut karena proses bumi yang berotasi (berbalik berganti posisi) (44). Menarik di sini, di akhir ayat diberikan clue bahwa proses ini akan dimengerti oleh orang-orang yang mempunyai penglihatan. Saat ini kita tahu, bahwa proses rotasi bumi ini diketahui dengan pengamatan terhadap benda-benda langit menggunakan alat bantu penglihatan seperti teleskop.
  • Proses awal kemunculan makhluk hidup yang berasal dari air. "Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air." Hal ini sama dengan penelitian geologis modern yang menyimpulkan bahwa makhluk hidup paling awal (Prokaryote life) dimulai dari kehadiran air di bumi yang terjadi pada fase Archean eon, sekitar 4 - 2,5 milyar tahun yang lalu (45)

Inilah ayat-ayat yang menerangkan apa yang tidak diketahui manusia (pada saat turunnya Al-Qur'an - 1400 tahun yang lalu) - dengan tujuan agar kita meyakini kebenaran risalahNya, dan Allah akan membimbing hambaNya yang mencari kebenaran ke jalan yang lurus (46).

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.