Oportunis: Mental Orang Munafik

Di Madinah terjadi kasus persengketaan seorang Munafik bernama Bisyr dengan seorang Yahudi menyangkut persoalan tanah. Lalu orang Yahudi itu pun mengajak Bisyr menghadap Nabi SAW untuk memberi putusan hukum di antara mereka. Namun justru Bisyr menolak dan mengajaknya menghadap Ka'b bin Asyraf seraya berkata, "Sesungguhnya Muhammad suka menzalimi kami, bersikap tidak adil, tidak netral, bias dan tendensius terhadap kami." Lalu Allah pun menurunkan ayat 47-50 ini.

Orang Munafik pada hakikatnya bukanlah orang beriman (47). Mereka adalah kelompok oportunis dalam beriman dan menaati Allah dan RasulNya. Mereka akan taat kalau menguntungkan atau tidak beresiko, serta sebaliknya kalau tidak menguntungkan atau membahayakan (48-49), sebagaimana diterangkan juga di ayat berikut:

Apakah engkau (Muhammad) tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul," niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (An-Nisa' 4:60-61)

Allah menjelaskan, sikap mereka ini sebagai kezaliman, yang disebabkan oleh 3 hal berikut (50):

  1. Hati mereka ada penyakit. Di dalam Al-Qur'an penyakit hati ini terkait dengan hilangnya perasaan ridha dan tenang. Hati dipenuhi oleh perasaan dengki, kasar, permusuhan dan dendam terhadap segala yang berhubungan dengan Nabi SAW dan risalah Allah SWT, seperti dijelaskan di ayat berikut:

    Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka ? (Muhammad 47:29)

    agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat. (Al-Hajj 22:53)

  2. Hati mereka selalu dalam keraguan terhadap kebenaran Islam, sebagaimana juga disebutkan di ayat lain:

    Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya. (At-Taubah 9:45)

    Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. (Al A'raf 7:186)

  3. Mereka takut mendapat perlakuan tidak adil kalau mengikuti hukum syariat yang ditetapkan Allah

Selain itu, mereka juga dikenal mudah bersumpah palsu untuk menyembunyikan niat buruknya (53), sebagaimana juga disebutkan di ayat lain:

Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu. (At-Taubah 9:96)

Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan. (Al-Mujadalah 58:16)

Allah kemudian menegur kelompok oportunis ini untuk meluruskan niat mereka menaati Allah dan RasulNya, karena tugas Rasul hanyalah menyampaikan risalah Allah, bukan menjamin mereka beriman dan masuk surga (54). Hal ini juga diterangkan di ayat lain sbb:

Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Al Maa’idah 5:92)

Sami'na wa atha'na: Mental Orang Beriman

Kontras dengan mental orang Munafik di ayat sebelumnya, bagi orang beriman mereka patuh menerima tanpa syarat. "Sami'na wa atho'na - Kami mendengar dan kami menaatinya" terhadap ketentuan Allah dan RasulNya (51).

Allah SWT menjanjikan bagi orang yang beriman (tidak menyekutukan Allah) dan beramal saleh (mendirikan sholat dan melaksanakan perintah Rasul) keutamaan dalam aspek sosial kemasyarakatan sbb (55-56):

  1. Menjadikan mereka sebagai penguasa, pemimpin dan pemegang otoritas umat manusia
  2. Diteguhkannya kebenaran Islam, semakin meluasnya syiar Islam pada masyarakat
  3. Hilangnya rasa takut dan ketidakadilan, digantikan dengan kondisi masyarakat yang aman sentosa

Hal ini pernah terbukti pada masa kejayaan Islam yang menguasai daerah-daerah di Eropa dan Asia/Afrika, menguasai sebagian besar kerajaan Kisra (Persia) dan Romawi sejak masa kekhalifahan 4 sahabat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali RA) hingga Bani Umayyah di Syams, Bani Abbasiyah di Andalusia dan terakhir Turki Utsmani sampai tahun 1924.

Allah kemudian menegaskan, bahwa sungguh tidak mungkin kaum kafir itu dapat melemahkan kaum beriman selama kaum beriman tidak menyekutukan Allah dan istiqamah melaksanakan amal saleh, karena janji Allah untuk mengazab kaum kafir itu di dunia dan akhirat (57).

Adab Permisi sebelum Memasuki Ruang Pribadi

Allah memperbolehkan hamba sahaya dan anak-anak yang belum baligh langsung masuk ke ruang pribadi kita (seperti kamar tidur dan tempat istirahat) - selain pada tiga waktu berikut dimana mereka wajib meminta izin terlebih dahulu (58):

  1. Pagi, sebelum Subuh
  2. Siang, pada saat jam istirahat dan tidur siang
  3. Malam, setelah sholat Isya ketika kita bersiap tidur

Sedangkan bagi anak-anak yang sudah mencapai usia baligh, maka harus selalu meminta izin sebelum memasuki ruang pribadi orang lain seperti orang dewasa lainnya (59).

Adab Berpakaian bagi Orang Tua

Allah pun memperbolehkan perempuan yang sudah lanjut usia, yang sudah menopause dan tidak lagi memiliki hasrat menikah untuk melepas pakaian terluarnya (pakaian yang jika dilepas, semua aurat tetap tertutup, seperti jilbab dan baju lapis luar) selama tidak sengaja bermaksud menunjukkan keindahan tubuhnya dan bersikap tetap menjaga diri (60).

Adab Makan dan Masuk Rumah

Allah memperbolehkan makan bersama dengan orang-orang yang cacat (seperti buta, pincang) dan sakit di rumah kita, rumah orangtua dan saudara keluarga serta rumah teman atau yang kita punya kuncinya - tanpa permisi minta izin secara eksplisit selama tidak bertentangan dengan kebiasaan dan kelaziman masyarakat yang berlaku.

Kita pun diperintahkan agar mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah, baik yang ada penghuninya maupun yang rumah kosong (61). Menurut Hasan al-Bashri, termasuk juga mesjid walaupun di dalamnya sedang tidak ada orang.

Adab Berinteraksi dengan Rasulullah

Allah juga menetapkan etika berinteraksi dengan Rasulullah pada masa beliu hidup:

  1. Kewajiban meminta izin kepada beliau ketika hendak pergi meninggalkan majelis beliau (62). Di dalam satu hadits, Nabi SAW menerangkan adab mendatangi dan meninggalkan majelis sbb:

    "Apabila kalian datang ke suatu majelis, hendaklah ia mengucapkan salam. Lalu, jika ia melihat untuk ikut duduk, maka duduklah. Jika ia ingin pergi meninggalkan majelis itu, maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi karena salam yang pertama (ketika datang) tidaklah lebih utama daripada salam yang terakhir (ketika hendak pergi meninggalkan majelis)." (HR Ahmad, Abu Dawwud, At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

  2. Memuliakan beliau dengan panggilan yang berbeda dari orang lain, seperti "Wahai Rasulullah" atau "Wahai Nabi Allah" (63). Adab santun terhadap Rasulullah SAW ini juga diterangkan di ayat lain:

    Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Hujurat 49:3)

Di dalam Surah An-Nuur, Allah SWT banyak menjelaskan mengenai hukum-hukum terkait wanita dan interaksi sosial kemasyarakatan. Surah ini kemudian ditutup dengan penegasan, bahwa Allah - Dialah Dzat yang memiliki bumi, langit dan segala yang ada di dalamnya, Dia pula yang Maha Mengetahui bagaimana manusia menaati hukum dan ketentuanNya, sebagaimana alam semesta yang juga beribadah dan berdzikir kepadaNya (64). Allah SWT memiliki pengetahuan yang komprehensif dan menyeluruh mengenai segala sesuatu, sebagaimana ditegaskan di ayat berikut:

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus 10:61)

Catatan tambahan mengenai sami'na wa atha'na

Ketaatan ini - khususnya dalam bidang ibadah - haruslah diiringi oleh pengetahuan mengenai perbedaan fiqh di antara mazhab (fiqh ikhtilaf), agar pandangan tidak menjadi sempit menganggap hanya ada satu cara yang benar - hanya satu cara yang paling sesuai sunnah dan menganggap cara lain adalah bid'ah. Padahal khilafiyah di antara para sahabat dalam beribadah pun sudah ada sejak zaman Nabi SAW. Perbedaan dalam cara mengambil hukumlah yang menyebabkan perbedaan pandangan dalam menafsirkan sunnah Nabi SAW. Penjelasan detail dan beberapa contohnya dapat dilihat di referensi berikut.

Jadi sami'na wa atha'na di sini adalah kewajiban kita untuk taat, tunduk, pasrah dan mengesampingkan keinginan ego, gengsi dan status ketika perintah Allah tersebut berlaku atas diri kita - setelah kita memeriksa dengan seksama pandangan pendapat dan argumen ulama-ulama klasik terdahulu dan kontemporer dari salah satu 4 mazhab ahlu sunnnah wal jama'ah (Syafi'i, Hanafi, Hambali dan Maliki).

Kita sebagai pengguna syariah yang awam tidaklah etis menetapkan pendapat A lebih benar daripada pendapat B. Cukuplah perbedaan pendapat (khilafiyah) berada pada kalangan ahli fiqh, sedangkan umat secara umum memilih dan menaati salah satu pendapat ulama dengan tetap respek menghormati sesama kita yang berbeda pilihan mazhabnya.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.