Surah Ar-Rum terdiri terdiri dari 60 ayat dan termasuk dalam kelompok surah Makkiyyah.

Kemenangan Romawi atas Persia

Pada masa Nabi SAW hidup, kerajaan Romawi (Rum) dan Persia menguasai dunia. Persia berkuasa di Timur, sedangkan Romawi di Barat. Keduanya sering berebut kekuasaan atas negeri Syam dan lainnya.

Allah menerangkan masa depan bangsa Romawi yang awalnya dikalahkan oleh bangsa Persia, tetapi beberapa tahun kemudian kerajaan mereka mengalahkan kerajaan Persia kembali (2-4). Sebagian besar ulama (Imam At-Tarmizi, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Al-Bazzar) menyatakan peristiwa pasukan Romawi kembali mengalahkan pasukan Persia ini terjadi bersamaan dengan perang Badar.

Dikisahkan pula, pada saat itu kaum Muslim turut bergembira karena bangsa Romawi secara umum beragama Nasrani yang lebih dekat kepada kaum Muslim dibandingkan bangsa Persia yang beragama Majusi - penyembah berhala dan api. Kedekatan kaum Nasrani dengan kaum Muslim ini dikemukakan pula di dalam ayat lain:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (Al-Maidah 5:82)

Terkait kemenangan Bangsa Romawi ini, Allah menegaskan bahwa sudah menjadi sunnahNya bahwa setiap bangsa pasti akan mengalami masa kejayaan dan kekalahan:

... Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim (Ali Imran 3:140)

Jaminan Pertolongan Allah pada Orang Beriman

Pada ayat-ayat selanjutnya, Allah SWT menerangkan janjiNya untuk memenangkan kaum yang beriman dan bertakwa (beramal saleh) atas musuh-musuh mereka. Dia yang Maha Perkasa akan memenangkan kaum beriman atas bangsa-bangsa lain karena Maha Penyayang-Nya atas kaum yang beriman (5).

Adapun janji Allah ini diterangkan pada ayat berikut:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (An Nuur 24:55)

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al A'raaf 7:96)

Mereka yang Tidak Meyakini Pertolongan Allah

Pada ayat 6 ditegaskan bahwa walaupun Allah sudah menjamin pertolonganNya atas orang-orang yang beriman dan bertakwa namun sebagian besar manusia mengingkarinya. Selanjutnya diterangkan lebih detail, apa penyebab mereka tidak meyakini kepastian turunnya pertolongan Allah SWT ini:

  1. Mereka tidak meyakini sesuatu yang bersifat ghoib atau tidak tampak. Sesuatu dipercaya hanya bila tampak terlihat dan terukur. Iman dan amal saleh yang diperhitungkan kelak di akhirat pun menjadi sesuatu yang musykil dan tidak masuk akal (7).

  2. Mereka tidak merenungkan bagaimana proses penciptaan manusia hingga hadir di dunia ini, bagaimana pula alam semesta terbentuk dan berproses hingga menjadi seperti sekarang (7).

    Allah menegur kepongahan mereka ini pada ayat lain:

    Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. (Al Mulk 67:3-4)

  3. Mereka mengingkari akan kepastian hari Akhirat, hari saat mereka menemui Tuhan yang menciptakannya (8).

  4. Mereka tidak merenungkan apa yang telah terjadi pada umat-umat terdahulu. Para umat ini diceritakan mengalami fase sebagai berikut:

    1. Allah mengaruniai berbagai kelebihan dalam hal fisik, keterampilan dan peradaban yang maju
    2. Allah menjadikan lingkungan tempat tinggal mereka subur dan makmur
    3. Allah mengutus rasul dari kalangan mereka yang menyerukan perbaikan, ketauhidan serta membawa mukjizat sebagai bukti kerasulannya
    4. Mereka berlaku melampaui batas. Para rasul tersebut diancam dibunuh dan diusir. Mereka pun meminta agar siksa Tuhan disegerakan turunnya
    5. Allah kemudian menurunkan siksaNya dan membinasakan mereka

    Allah menegaskan bahwa azab yang turun bukanlah karena mereka yang dizalimi, melainkan karena mereka sendirilah yang memilih berlaku zalim, mendustakan para Rasul yang diutus kepada mereka serta mencemooh ayat-ayat Allah yang disampaikan para Rasul (9-10). Keadilan (fairness) Allah ini ditegaskan dalam beberapa ayat berikut:

    Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (Al Qashash 28:59)

    Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya. (Yunus 10:47)

    Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Faathir 35:24)

Perintah Mengingat Allah (Dzikrullah)

Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk bertasbih mengingatNya pada ayat 17.

Menarik kalau diperhatikan bahwa perintah ini diawali dengan penjelasan mengenai siklus kehidupan manusia, dari penciptaan awalnya, kemudian mati dan dibangkitkan, serta kesudahan mereka di akhirat - yakni balasan surga bagi yang beriman dan beramal saleh dan azab neraka bagi yang kafir, mendustakan ayat-ayat Allah dan yang tidak meyakini kepastian akhirat (11-16). Implisit di sini, kita diperintahkan untuk merenungkan mengenai diri kita. Siapa diri kita. Darimana dan mau kemana kah diri ini.

Setelah merenungkan keberadaan diri ini, barulah kemudian Allah SWT memerintahkan untuk berdzikir setiap saat. Setiap saat ini digambarkan dalam perintah dzikir/tasbih pada waktu pagi dan petang (17) dan zuhur (18), termasuk pada malam hari:

Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang (Qaaf 50:40)

Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. (Al Insaan 76:26)

Di ayat lain dijelaskan pula, bahwa selain dilakukan setiap saat, dzikrullah juga diperintahkan dilakukan sebanyak-banyaknya:

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. (Al Ahzab 33:41-42)

Dzikir sebanyak-banyaknya ini juga diperintahkan untuk keperluan khusus, sebagaimana dijelaskan di ayat berikut:

Berkata Zakariya, "Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)." Allah berfirman, "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari." (Ali Imran 3:41)

Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (Al Anfaal 8:45)

Setelah perintah dzikir ini, Allah pun memerintahkan kita untuk merenungkan berbagai ciptaanNya di alam semesta dan pada lingkungan di sekitar kita termasuk pada diri kita. Sidik jariNya akan tampak jelas pada seluruh ciptaanNya.

  1. Terciptanya kehidupan. Munculnya makhluk kehidupan dari zat yang mati, dan hal yang sebaliknya, dikeluarkannya zat yang mati dari makhluk yang hidup (19).

  2. Tumbuh hidupnya rumput dan pepohonan dari tanah tandus yang sebelumnya tidak ada kehidupan. Proses kejadian ini disebutkan adalah proses yang sama dengan kebangkitan manusia kelak di hari Akhir (19), sebagaimana diterangkan pula di ayat lain:

    Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (Az Zukhruf 43:11)

  3. Proses terciptanya manusia dari tanah dan proses berkembang biak manusia sejak dari pembuahan hingga lahirnya bayi (20)

  4. Diciptakannya manusia dalam bentuk berpasangan, laki-laki dan perempuan yang saling tertarik satu sama lain, menjadikannya satu sama lain saling menentramkan hati, serta menumbuhkan cinta kasih sayang pada keduanya (21)

  5. Diciptakannya alam semesta, langit dan bumi (22), sebagaimana disebutkan di ayat lain,

    Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab, "Kami datang dengan suka hati". (Fushshilat 41:11)

  6. Diciptakannya manusia dengan beragam warna kulit dan bahasa (22)

  7. Diciptakannya siklus malam dan siang. Malam sebagai istirahat, dan siang untuk bekerja (23)

  8. Proses terjadinya fenomena kilat dan hujan yang menimbulkan ketakutan sekaligus harapan karena turun hujan yang menyuburkan tanaman serta hewan ternak (24)

  9. Proses diturunkannya hujan dan bagaimana air hujan tersebut kemudian menghidupkan kembali tanah yang sebelumnya tandus gersang tidak ada kehidupan (24)

  10. Terjaganya benda-benda langit yang berputar pada garis edarnya dengan tidak berbenturan satu sama lain dengan mengikuti hukum tertentu (amri) (25). Prof T. Djamaluddin menafsirkan amri di sini sebagai kekuatan gravitasi. Di ayat lain disebutkan,

    Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (Ar Ra'd 13:2)

  11. Proses kebangkitan manusia pada hari Akhir yang digambarkan dilakukan dengan mudah, hanya dengan satu tiupan sangkakala (25), sebagaimana juga disebutkan di ayat berikut:

    Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. (Yasin 36:51)

    Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Luqman 31:28)

Allah kemudian menutup rangkaian ayat-ayat tanda kebesaran Allah di atas dengan memperkenalkan siapa diriNya - Dzat yang namaNya kita sebut di dalam dzikir:

  1. Dialah Pemilik dari segenap yang ada di langit dan bumi yang kesemuanya tunduk hanya kepadaNya (26)
  2. Dialah yang Maha Tinggi, Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Dzat yang menciptakan segalanya dari ketiadaan, kemudian menghancurkannya dan membangkitkan kembali pada hari Akhir dengan mudah (27)
  3. Dialah Tuhan satu-satunya yang patut disembah, tempat bergantung dan tempat memohon bagi seluruh makhlukNya (28)

Dari ayat di atas, dapat disimpulkan adab dalam dzikrullah sebagai berikut:

  1. Dzikir dilakukan setiap saat dan sebanyak-banyaknya
  2. Dzikir dimulai dengan perenungan diri kita sebagai manusia yang serba terbatas, yang dilahirkan, yang pasti akan mati, akan dibangkitkan dan akan dihisab segala perbuatannya di hadapan Allah SWT
  3. Dzikir diisi dengan perenungan akan kebesaran Allah, dengan berbagai kekuasaanNya yang melingkupi diri kita, keseharian kita serta alam semesta beserta proses-proses di dalamnya
  4. Dzikir ditutup dengan pengakuan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan - Pemilik segenap alam semesta dan diri kita, yang menciptakan segalanya dari ketiadaan serta tempat bergantungnya seluruh makhluk

Menarik pula memperhatikan, bahwa Allah berulang kali menutup ayat-ayat perenungan tanda-tanda kekuasaanNya di atas dengan kalimat:

  • Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (21)
  • Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui (22)
  • Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan (23)
  • Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akalnya (24)
  • Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal (28)

Implisit melalui ayat-ayat ini, Allah berpesan agar hendaknya kita tidak berhenti pada dzikrullah saja, melainkan juga harus melanjutkannya kepada eksplorasi alam semesta dan penguasaan berbagai ilmu pengetahuan untuk membuktikan ayat-ayat Allah ini secara ilmiah (mental eksplorer) serta mencari hikmah di balik berbagai fenomena alam tersebut. Mereka inilah yang disebut sebagai Ulil Albab, sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab (orang-orang yang berakal), (yaitu) mereka yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berdoa), "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Ali Imran 3:190-191)

Terakhir, Allah menyebutkan mereka yang zalim karena tidak menggunakan akalnya. Dikatakan mereka menolak adanya Tuhan yang Maha Menciptakan tidak lain karena ego dan hawa nafsunya; tanpa dasar ilmu pengetahuan. Selama mereka bersikap seperti ini, maka Allah akan menutup pintu-pintu hidayahNya bagi mereka (29). Na'udzubillahi min dzaalik.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.