Perintah Mengikuti Agama yang Lurus

Allah SWT memerintahkan kita mengikuti agama yang lurus, agama Nabi Ibrahim as (millah Tauhid - agama Hanif). Millah Tauhid ini sebenarnya sudah menjadi fitrah bawaan kita sejak lahir:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (30)

Hal ini mengacu pada peristiwa dialog para ruh di hadapan Allah berikut:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Al A'raaf 7:172)

Di dalam satu hadits qudsi Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu sebagai manusia yang hanif (mengakui Tuhan yang Esa), dan sesungguhnya syetan mendatangi mereka dan membawa mereka pergi menjauh dari agama mereka itu" (HR Muslim dan Imam Ahmad)

Nabi SAW bersabda dalam hadits lain:

"Setiap anak terlahir menurut fitrah hingga orangtuanya lah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi, sebagaimana binatang terlahir dalam kondisi sempurna..." (HR Bukhari dan Muslim)

Allah SWT menyatakan bahwa tidak ada perubahan pada fitrah manusia ini. Sejak manusia terdahulu hingga generasi terakhir menjelang hari Kiamat. Semua sama, dilahirkan dalam keadaan bertauhid dan beriman kepada Allah.

Pada ayat selanjutnya diterangkan beberapa amal perbuatan baik di dalam agama yang lurus ini:

  1. Bertaubat (31). Di ayat lain disebutkan,

    Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (Thaahaa 20:82)

    kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Furqaan 25:70)

  2. Bertakwa (31). Takut kepada Allah dan istiqamah dalam melaksanakan perintahNya.

  3. Menegakkan sholat secara sempurna dan lengkap syarat rukunnya dengan penuh kekhusyu'an dan mahabbah kepada Allah (31)

  4. Menghindari dari perbuatan yang menjurus mempersekutukan Allah (31)

  5. Bersatu dalam agama. Menghindari perpecahan dalam agama sehingga terbagi menjadi kelompok-kelompok yang berselisih dan saling merasa bangga akan kelompoknya terhadap kelompok lain (32). Di ayat lain dijelaskan:

    Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (Ali Imran 3:103)

  6. Istiqamah dalam beragama. Menghindari sikap oportunis. Bila ditimpa musibah segera mendekat dan bertaubat kepada Tuhan. Namun sedikit saja mendapat nikmat, mereka langsung kembali mengangkat tuhan-tuhan lain sebagai Tuhan, mempersekutukan Tuhan (33)

  7. Mensyukuri nikmat karunia yang diberikan Allah (34)

  8. Tidak menjadikan tuhan-tuhan tandingan di samping Allah SWT (35), sebagaimana disebutkan di dalam ayat berikut:

    Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Al Baqarah 2:165)

  9. Tidak berputus-asa dalam menghadapi musibah (36). Di ayat lain diterangkan larangan keras berputus-asa ini sebagai berikut:

    Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Az Zumar 39:53)

  10. Meyakini setiap orang berbeda dalam hal pendapatan rezekinya. Adalah Allah SWT yang melapangkan sebagian hambaNya dan menyempitkan sebagian hambaNya yang lain sebagai ujian bagi orang yang beriman (37). Di ayat lain dijelaskan pula:

    Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (Ar Ra'd 13:26)

  11. Menunaikan hak atas harta yang dititipkan Allah sembari berharap ridho Allah, dalam bentuk infaq kepada keluarga dekat, fakir miskin dan kaum musafir (38).

  12. Menjauhi praktek riba. Harta yang diperoleh melalui riba tidak menambah apa-apa di sisi Allah, sementara harta yang dijadikan infaq dan zakat akan dilipatgandakan pahalanya (39). Di ayat lain dinyatakan juga:

    Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. (Al Hadiid 57:11)

  13. Mentauhidkan Allah SWT. Meyakini, Dialah Tuhan yang Esa, Dzat yang menciptakan manusia, memberinya rezeki dan mewafatkannya serta kemudian menghidupkannya kembali. Tidak ada sesuatu pun yang pantas dianggap tuhan setara dengan Allah SWT (40).

  14. Tidak berbuat kerusakan, menjaga alam dari kerusakan, baik lingkungan darat maupun laut. Manusia akan merasakan dampak kerusakan lingkungan ini, sebagai peringatan bagi mereka untuk segera berhenti dan memperbaiki diri (41). Di ayat lain dijelaskan pula:

    Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (Al Baqarah 2:205)

    Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (Al A'raaf 7:168)

  15. Mengadakan perjalanan napak tilas ke daerah-daerah peninggalan kaum yang dahulu binasa karena mengingkari Rasul dan mempersekutukan Allah (42). Perintah mentadabburi umat-umat terdahulu ini banyak disebutkan pada ayat-ayat lain:

    Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Ali Imran 3:137)

    Katakanlah, "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu." (Al An'aam 6:11, An Naml 27:69)

Rangkaian amal kebaikan di atas kemudian ditutup dengan pengulangan perintah untuk mengikuti agama yang lurus - sama seperti ayat 30 sebelumnya, namun dengan penekanan, jangan sampai menyesal kemudian karena masih belum beriman dan beramal saleh hingga tiba ajal kematian atau hari Kiamat:

Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya); pada hari itu mereka terpisah-pisah (43)

Terakhir, Allah SWT menegaskan bahwa setiap orang akan menanggung dosa dan pahala atas perbuatannya masing-masing. Mereka akan mendapatkan balasan, surga atau neraka tergantung timbangan amal mereka (44-45). Hal ini ditegaskan pula di ayat lain:

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sholat. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali(mu). (Faathir 35:18)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.