Hikmah dan Pelajaran dari Berbagai Fenomena Alam

Allah SWT menerangkan dalam ayat-ayat berikut, proses dan fenomena alam sebagai perumpamaan dan pelajaran atas berbagai hal bagi orang yang beriman.

Perumpamaan Diutusnya Rasul

Berhembusnya angin yang membawa harapan akan datangnya hujan serta mendorong kapal berlayar dijadikan perumpamaan atas diutusnya Rasul yang membawa berita gembira dan peringatan, sebagaimana digambarkan dengan indah pada ayat 46 dan 47 berikut:

Ayat A Ayat B Makna (A) = (B)
Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira (46) Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya (47) Allah SWT menurunkan rasul kepada umat manusia
untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahan kamu bersyukur (46) membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (47) Rasul datang membawa risalah dan kitab wahyu sebagai petunjuk, serta menetapkan standar etika benar - salah (orang berdosa dan orang beriman)

Terjadinya Hujan dan Dibangkitkannya Manusia dari Matinya

Allah SWT kemudian menerangkan detail proses turunnya hujan sebagai berikut (sumber: Panjimas.com):

Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira (48).

Tahap pertama, “Dialah Allah Yang mengirimkan angin…”

Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut “perangkap air”.

Tahap kedua, “…lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal…”

Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.

Tahap ketiga, “…lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya…”

Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel-partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan. Hujan pun turun membasahi bumi, yang disambut gembira oleh manusia dan makhluk hidup lainnya.

Dijelaskan pula, adakalanya hujan baru turun setelah masa kemarau yang sangat panjang sehingga banyak makhluk hidup yang putus-asa dan mati karena tidak ada makanan dan air (49). Namun setelah turunnya hujan, tanaman yang mati dan tanah yang gersang tadi kembali hidup dan menjadi subur. Allah SWT menjelaskan bahwa seperti inilah proses dibangkitkannya manusia kelak pada hari Akhir nanti (50).

Melalui peristiwa alam ini, Allah SWT memberikan dua pelajaran kepada kita:

  • Proses terjadinya hujan, yang pada masa Nabi SAW hidup, saat ayat ini turun, belum ada pengetahuan mengenai proses alam ini. Ini menjadi salah satu bukti kebenaran Al-Qur'an diturunkan oleh Pencipta alam semesta yang juga menciptakan proses turunnya hujan.

  • Proses dibangkitkannya manusia di hari Akhir, sebagai pengetahuan mengenai masa depan yang bersifat ghaib karena belum terjadi hingga saat ini.

Perumpamaan Orang yang Sesat

Masih melanjutkan pelajaran dari fenomena alam. Digambarkan bahwa kalau pun orang kafir menyaksikan dengan mata kepala mereka, tanaman di suatu perkebunan dapat mati kering dengan tiba-tiba hanya dengan hembusan angin, maka peristiwa itu tetap tidak akan membuat mereka sadar akan fananya dunia dan kelemahan serta keterbatasan mereka sebagai makhluk (51).

Di ayat lain digambarkan peristiwa sekelompok pemilik kebun di Mekkah pada masa Nabi SAW sebagai berikut:

Sesungguhnya Kami telah menguji mereka sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik hasilnya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita (Al Qalam 68:17-20)

Siklus kehidupan tanaman pun dijadikan perumpamaan kehidupan dunia yang bersifat fana, yakni berawal dari benih, kemudian tumbuh mekar tampak indah berkembang, dan berakhir menjadi mati, kering dan hancur, yang digambarkan pada ayat berikut:

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Kahfi 18:45)

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 57:20)

Selanjutnya Allah SWT mengibaratkan orang yang sesat dan menolak kebenaran itu dengan dua perumpamaan, yakni (52):

  1. Orang yang mati. Jasad mereka sudah mati, semua metabolismenya sudah berhenti, dan panca inderanya tidak lagi berfungsi, sehingga tidaklah mungkin mereka dapat mendengar.

  2. Orang yang tuli dan berpaling (membuang muka) ketika kita berbicara kepada mereka

Maka petunjuk apa pun, betapa pun kuatnya usaha kita menyodorkan bukti-bukti kebenaran kepada mereka yang kafir, menolak kebenaran ini, tetap tidak akan bisa mereka tangkap, pahami dan mengerti (53). Di ayat lain Allah SWT mengambil perumpamaan atas mereka yang kafir ini sebagai manusia (bahkan hewan) yang hatinya sudah mati, pendengarannya sudah tuli dan penglihatannya sudah buta:

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. (An Naml 27:80)

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj 22:46)

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. (Al Furqaan 25:73)

Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)? (Huud 11:24)

Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (Al Baqarah 2:171)

Siklus Kehidupan Manusia dan Penyesalannya

Allah SWT kemudian menerangkan bahwa manusia pun tidak terlepas dari proses alam dalam siklus kehidupannya. Diawali dari kelahirannya dalam kondisi lemah kemudian menjadi kuat pada usia dewasa dan kembali melemah ketika memasuki usia tua (54). Siklus kehidupan manusia ini diuraikan lebih detail di Surah Al Mu'minuun pada bahasan sebelumnya.

Hal ini dijelaskan sebagai pelajaran bagi kita bahwasanya diri kita adalah fana, memiliki tahapan dan waktu yang terbatas. Janganlah sampai kita lalai beramal sehingga menyesal kemudian sebagaimana digambarkan pada ayat berikut:

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (Al Baqarah 2:266)

Ayat di atas memberikan perumpamaan seseorang yang memasuki usia tua, sementara masih banyak tanggungannya (anak-anaknya, urusan bisnisnya, tanah, aset dll). Dia sangat yakin sudah mempersiapkan segala keperluan untuk masa tuanya. Hingga tiba-tiba dicabutlah sebagian kenikmatan tersebut (diibaratkan kebunnya yang terbakar habis). Maka di saat itulah dia menyesal karena setelah dihitung-hitung baru tersadar amat sedikit bekalnya utk 'melanjutkan perjalanan' berikutnya ke akhirat, sementara dirinya sudah melemah tidak lagi kuat seperti dulu.

Di sini kemudian Allah menerangkan penyesalan yang dialami manusia ketika mereka dibangkitkan.

Pada orang yang berdosa, mereka merasa hanya berdiam di alam kubur sangat singkat (55). Sementara bagi orang yang beriman, mereka segera menyadari bahwa inilah hari kebangkitan yang dulu dijanjikan Allah SWT, dimana semua manusia dibangkitkan dari kuburnya (56). Pada saat itulah timbul penyesalan yang tidak terkira pada diri orang yang berdosa ini karena amal dan taubatnya sudah tidak lagi diterima (57). Penyesalan yang sangat mendalam inilah digambarkan di ayat berikut:

Dan sekiranya orang-orang yang zalim memiliki apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka (pasti) akan menebus dirinya dengan itu (demi terhindar) dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. (Az Zumar 39:47)

Na'udzubillahi min dzaalik.

Sikap Orang Kafir terhadap Al-Qur'an

Terakhir, Allah SWT menegaskan bahwa Al-Qur'an mengandung banyak perumpamaan-perumpamaan (seperti yang telah dijelaskan di atas). Bagi orang yang meyakini, perumpamaan itu menjadi pelajaran dan menguatkan keimanan mereka. Sebaliknya, bagi orang kafir mereka akan menganggapnya sebagai dusta dan cerita bohong saja (58). Di ayat lain diterangkan juga bahwa, tidak hanya itu, bahkan mereka membenci dan alergi terhadap segala sesuatu yang berasal dari Al-Qur'an:

Dan apabila kamu membaca Al-Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya. (Al Israa' 17:45-46)

Allah SWT menerangkan mereka ini sudah dikunci-mati hatinya karena terus menolak, merasa paling benar, selalu benar, dan tidak mau menerima apa pun yang disampaikan melalui kitab suci dan rasulNya (59).

Menghadapi mereka ini, Allah SWT membesarkan hati Rasulullah dan para pendakwah agar bersabar, tidak menjadi berhenti atau putus asa, serta tetap persisten/istiqamah tidak terpengaruh oleh sikap penolakan mereka (60).

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.