Surah As-Sajdah terdiri dari 30 ayat dan termasuk kelompok Makkiyyah.

Ayat 1-11 menerangkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT pada ayat-ayat Qauliyah (Al-Qur'an) dan ayat-ayat Kauniyah (berbagai fenomena pada alam semesta). Selanjutnya sampai ayat 16, diterangkan profil mereka yang mengingkari dan yang meyakini peringatan Allah melalui ayat-ayatNya ini, beserta balasan yang mereka terima, sampai ayat 22. Terakhir Allah memerintahkan kita untuk tidak meragukan ayat-ayatNya dengan merenungi kisah-kisah umat terdahulu dan ayat-ayatNya pada berbagai fenomena alam semesta.

Bukti Kebesaran Allah SWT pada Al-Qur'an (Ayat Qauliyah)

Surah ini dibuka dengan penjelasan mengenai Al-Qur'an - ayat-ayat Qauliyah - sebagai bukti kehadiran dan kekuasaanNya. Diterangkan, keistimewaan Al-Qur'an sebagai kitab yang dijamin otentitasnya dan kebenarannya, yang ayat-ayatnya diwahyukan dari Allah SWT Tuhan semesta alam (2), sebagaimana disebutkan pula pada ayat lain:

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (Al-Baqarah 2:2)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr 15:9)

Di ayat yang lain, dijelaskan pula bahwa kandungan Al-Qur'an dijamin lengkap, mencakup pedoman yang diperlukan oleh manusia untuk selamat menjalani kehidupan dunia sebagai bekal ke Akhirat.

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (An-Nahl 16:89)

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Al-An'am 6:38)

Ayat selanjutnya kemudian menerangkan sikap orang kafir terhadap Al-Qur'an. Alih-alih menjadikan Al-Qur'an sebagai peringatan, mereka menganggapnya tidak lebih dari karya buatan Nabi SAW (3).

Bukti Kebesaran Allah SWT pada Alam Semesta (Ayat Kauniyah)

Setelah menjelaskan mengenai keagungan Al-Qur'an, Allah SWT kemudian memperkenalkan diriNya melalui kekuasaanNya yang tampak pada alam semesta (ayat-ayat Kauniyah), yakni:

  1. Dialah yang Maha Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi berikut dengan segala apa yang ada di dalam dan di antara keduanya dalam enam tahap (4)

  2. Dialah yang bersemayam di atas 'Arsy (4). Menurut Tabari di dalam tafsirnya, 'Arasy ini erat kaitannya dengan penciptaan langit dan bumi:

    Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya… (Hud 11:7)

    "(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), "Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala." (QS. Ghafir: 7)

    "Allah telah ada dan sesuatu apapun selain-Nya belum ada. Arsy-Nya berada di atas air. Dia mencatat segala sesuatu dalam ad-Dzikr (al-Lauh al-Mahfudz). Dan Dia menciptakan langit dan bumi." (HR. Bukhari 3191 dan Baihaqi dalam al-Kubro 17702).

  3. Dialah yang berkuasa mutlak atas makhlukNya. Tidak ada seorang pun yang dapat menolong hambaNya, juga tidak seorang pun yang dapat mendoakan orang lain (memberi syafa'at) kecuali semua dengan seizinNya (4). Di ayat lain, dijelaskan:

    Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. (Fussilat 41:31)

    Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah. (At-Taubah 9:116)

  4. Dialah yang mengurus seluruh urusan ciptaanNya di langit dan di bumi. Digambarkan, kesibukan para malaikat yang menuju kepada 'Arasy Allah dalam waktu 1 hari yang setara dengan 1000 tahun dunia (5)

  5. Dialah yang pengetahuanNya meliputi segala perbuatan makhlukNya yang ghaib maupun yang tampak kasat mata. Allah SWT memberikan balasan atas segala perbuatan makhluk ciptaanNya ini dengan keseimbangan sifatNya: Maha Perkasa dan Maha Penyayang (6). Pengetahuan Allah SWT akan makhlukNya ini diterangkan pada ayat berikut:

    Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Al-An'am 6:59)

    Sedangkan keseimbangan sifatNya dalam memberi balasan atas perbuatan makhlukNya tampak pula di ayat berikut:

    Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At-Taghabun 64:18)

  6. Dialah yang menciptakan segala sesuatu dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan sempurna (7). Kesempurnaan ciptaanNya ini dijelaskan juga pada ayat berikut:

    Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. (Al Mulk 67:3-4)

Allah SWT kemudian menjelaskan proses penciptaan manusia sebagai contoh ciptaanNya yang sempurna sebagai berikut:

  • Manusia pertama kali (Adam as) diciptakan dari tanah (7)
  • Kemudian manusia berketurunan yang berawal dari sperma yang tampak menjijikkan (8)
  • Kemudian terbentuklah janin hingga setelah berusia 3 bulan, ditiupkan ruh kepada janin tersebut (9)
  • Kemudian janin tersebut berkembang dan menyempurnakan indera pendengaran, penglihatan dan hati (kesadaran) (9)
  • Kemudian malaikat maut akan mematikan manusia, untuk dibangkitkan kembali pada hari Akhir menghadap Allah SWT (11)

Spesifik atas manusia, di ayat lain diterangkan pula, bahwa spesies manusia dilebihkan dari makhluk lain - dalam berbagai hal seperti fisik jasmani, jiwa, akal, dan kesadaran.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al-Isra' 17:70)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At-Tin 95:4)

Mereka yang Meragukan Kebenaran Ayat Allah SWT

Allah SWT kemudian menerangkan respon orang kafir terkait akhir kehidupan manusia:

  1. Mereka meragukan peristiwa dibangkitkannya manusia setelah matinya (10). Padahal, di ayat lain dijelaskan bahwa menghidupkan manusia ini adalah sangat mudah, bahkan lebih mudah daripada penciptaan manusia pertama kali (dari yang tidak ada menjadi ada):

    Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ar-Rum 30:27)

    Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Luqman 31:28)

  2. Mereka mengalami penyesalan yang sangat mendalam ketika dibangkitkan. Digambarkan, mereka berdoa, "Wahai Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengat (azab-Mu di depan mata kami); maka kembalikanlah kami (ke dunia), agar kami dapat mengerjakan amal saleh. Sungguh, kami (sekarang) sangat meyakini (akan kedatangan hari pembalasan ini)" (12). Gambaran penyesalan mereka ini dijelaskan pada banyak ayat, di antaranya:

    Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim, "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul"... (Ibrahim 14:44)

    Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). (Al-An'am 6:27)

    Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. (Az-Zumar 39:47)

    Allah kemudian menegaskan bahwa permohonan mereka di atas hanya sia-sia belaka, disebabkan ketentuanNya atas balasan amal baik-buruk yang sudah tetap, tidak akan pernah berubah (13-14), yang ditegaskan juga di ayat berikut:

    Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (Yunus 10:64)

Mereka yang Meyakini Kebenaran Ayat Allah SWT

Allah SWT kemudian menjelaskan mereka yang benar-benar meyakini ayat-ayatNya, yakni memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Bila mereka diperingatkan, dibawakan ayat-ayat Allah ke hadapannya, mereka segera bersujud, serta bertasbih dan memuji kebesaran Allah Tuhan yang menciptakan mereka dan alam semesta, dengan merendahkan diri (15).

    Terkait peringatan dari Al-Qur'an (ayat Qauliyah), sifat mereka di atas ini diterangkan pada ayat berikut:

    Katakanlah, "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi." (Al Isra' 17:107-108)

    Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Maryam 19:58)

    Sedangkan peringatan berupa fenomena alam semesta (ayat Kauniyah), sifat mereka di atas digambarkan pada ayat berikut:

    (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Ali Imran 3:191)

  2. Mereka sholat dan berdzikir pada tengah malam, berdoa kepada Allah dengan penuh harap dan rasa takut (16)

  3. Mereka menginfakkan sebagian rezeki mereka (16)

Balasan atas Mereka yang Meyakini dan Mengingkari Ayat Allah SWT

Bagi mereka yang meyakini ayat-ayat Allah ini, akan diberikan balasan surga yang tidak pernah mereka alami sebelumnya (di dunia) (17-19). Di dalam satu hadits, Nabi SAW bersabda,

"Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang salih kenikmatan (surga) yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan terlintas dalam hati manusia" (HR Bukhari, No.3.072 & Muslim, No.2.824)

Sedangkan bagi mereka yang fasik mengingkari ayat-ayat Allah diberikan balasan neraka Jahannam (20). Allah juga menurunkan siksaan di dunia sebagai peringatan agar mereka kembali dan bertaubat kepadaNya (21).

Allah kemudian menegaskan bahwa tidak ada kezaliman yang lebih besar daripada mengabaikan dan berpaling dari peringatan ayat-ayatNya. Tidak ada balasan bagi mereka ini kecuali neraka (22).

Menerima Ayat Allah SWT tanpa Keraguan

Allah SWT memerintahkan kita untuk menerima ayat-ayatNya tanpa keraguan.

Meyakini Al-Qur'an sebagai Ayat Allah

Janganlah ragu sedikit pun terhadap Al-Qur'an. AyatNya di dalam Al-Qur'an memiliki kedudukan yang sama dengan ayatNya di dalam Taurat yang diturunkan kepada Musa as. Keduanya sama-sama petunjuk bagi umatnya, mengandung ajaran Tauhid serta memiliki ayat-ayat hukum yang menetapkan syariat baru menggantikan syariat sebelumnya (23).

Terhadap Bani Israil, Allah SWT menurunkan pemimpin-pemimpin yang dengan sabar mengajak mereka kepada kebenaran dan sangat meyakini kebenaran ayat-ayatNya (24). Namun mereka banyak yang meragukan dan memperselisihkan ayat-ayatNya (25).

Mentadabburi Ayat Allah SWT

Untuk menambah keyakinan akan kebenaran ayat-ayat Allah, kita diperintahkan untuk:

  • Mentadabburi kesudahan umat-umat terdahulu yang mendustakan para Rasul yang diutus kepada mereka. Di antara mereka bahkan menempati daerah tempat tinggal umat terdahulu yang dibinasakan (26), seperti kaum Tsamud (kaum Nabi Salih as) yang menempati daerah yang sama setelah kaum 'Ad (kaum Nabi Hud as). Keduanya sama-sama dibinasakan karena mengingkari rasul mereka. Allah SWT menjelaskan di ayat lain:

    Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). (Al-Anbiya 21:11)

    Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al-An'am 6:6)

  • Mentadabburi proses fenomena alam semesta di sekeliling kita, seperti proses terbentuknya awan sehingga turun hujan yang menumbuhkan tanaman, dan diambil manfaatnya oleh hewan ternak serta manusia sendiri (27)

Sikap terhadap Mereka yang Meragukan Ayat Allah SWT

Pada ayat selanjutnya, dijelaskan keraguan orang kafir terhadap ayat-ayat mengenai kedatangan hari Akhir dimana orang beriman dimenangkan atas orang kafir (28). Allah SWT menjawab keraguan mereka ini dengan menggambarkan putus-asanya mereka (orang kafir) pada hari itu (29) yang diterangkan pada ayat 12 sebelumnya:

Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." (12)

Allah SWT kemudian memerintahkan orang beriman untuk membiarkan orang kafir dalam kesesatannya hingga tiba saatnya kedatangan ajal mereka, atau azab Allah atas mereka, atau hari Kiamat, sebagaimana dijelaskan pada ayat lain berikut:

Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu (hari Kiamat). Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, "Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu (pula)". (Al-An'am 6:158)

Katakanlah, "Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu bersamamu". (At-Taubah 9:52)

Penutup

In summary, tema utama surah As-Sajdah ini adalah mengenai ayat-ayat Allah SWT - baik yang terdapat pada kitab suci melalui para RasulNya (ayat Qauliyah), maupun yang tampak pada alam semesta di sekitar kita (ayat Kauniyah). Kita diperintahkan meyakini dan mentadabburi ayat-ayat Allah ini. Kemudian di akhir surah, diterangkan, bagi orang kafir yang tetap mengingkari ayat-ayatNya, sebenarnya tidak banyak yang dapat dilakukan selain membiarkan mereka dalam kesesatannya.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.