Surah ini termasuk kelompok Makkiyyah dengan kandungan utama mengenai kisah perjuangan para Rasul dalam dakwah kepada umatnya. Nabi SAW menyebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan al-Barra, bahwa keutamaan surah ini setara dengan lembaran-lembaran kitab Taurat dan Zabur.

Peneguhan Allah terhadap Kerisauan Hati Rasulullah

Allah SWT mengawali surah ini dengan penegasan bahwa Al-Qur'an mengandung keterangan, kisah perjuangan para rasul terdahulu sebagai pelajaran, lesson learned bagi Rasulullah atas beratnya tantangan dakwah dari kaumnya (2). Rasulullah sebagai manusia pun merasakan kerisauan dan frustasi yang besar karena penentangan umatnya sehingga dikatakan bisa jadi beliau membinasakan dirinya karena beratnya tantangan dakwah yang dihadapi (3). Hal ini juga diungkap di dalam ayat-ayat berikut:

Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (Faathir 35:8)

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran). (Al Kahfi 18:6)

Kemudian Allah meneguhkan hati Rasulullah SAW dengan menerangkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Sebenarnya mudah saja bagi Allah untuk menurunkan mukjizat yang menakjubkan kepadanya sehingga membuat mereka langsung tunduk beriman (4), tetapi Allah sengaja membebaskan mereka untuk beriman atau tidak sebagai ujian bagi mereka dan juga bagi Rasulullah SAW.

    Hal ini ditegaskan dalam banyak ayat sebagai berikut:

    Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (Yunus 10:99 - Lihat juga An-Nahl 16:93 dan Asy-Syuura 42:8)

    Di bahasan sebelumnya, juga telah dijelaskan bahwa para Rasul pun diutus sebagai ujian bagi mereka dan juga bagi umatnya:

    Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? dan adalah Tuhanmu maha Melihat. (Al Furqaan 25:20)

    Ketika Rasul diutus, umatnya tetap diberi pilihan apakah ia akan beriman atau tetap ingkar. Pilihan inilah yang menjadikan mereka masuk ke dalam surga atau neraka.

    Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al-Kahfi 18:29)

  2. Sebenarnya apa yang disampaikan Rasulullah - yakni risalah Tauhid, perintah menaati Allah dan balasan surga-neraka - bukanlah hal yang baru. Hanya saja memang tabiat sebagian besar manusia menolak peringatan Rasul ini (5)

  3. Sebenarnya penolakan dan olok-olok kaum Kafir Mekkah terhadap Al-Qur’an (ayat qawliyah) juga terjadi pada rasul-rasul terdahulu dengan kitab yang dibawa mereka (seperti Zabur, Taurat dan Injil) (6).

  4. Demikian juga, umat-umat terdahulu pun sebagian besar menolak mengakui kebenaran akan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta (ayat kawniyah) (7-8)

Di akhir, Allah meneguhkan hati Rasulullah dengan penegasan bahwa Dialah yang dengan sifat Maha Perkasa dan Maha Penyayang nya telah menurunkan ayat-ayat (berupa ayat kawniyah pada alam semesta dan ayat qawliyah pada kitab suci) serta mengutus para RasulNya (9).

Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (9).

Ayat-ayat selanjutnya menunjukkan betapa Allah yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang campur tangan dalam menolong perjuangan dakwah para Rasul. Perjalanan dakwah mereka ini adalah ujian bagi mereka - para Rasul (yakni ujian kesabaran, keyakinan kepada Allah dan persisten/istiqamah) dan juga ujian bagi umatnya (yakni menaatinya atau mengingkarinya).

Kisah Nabi Musa as dan Harun as (1)

Dialog Musa as dengan Allah SWT

Ayat 10-17 mengisahkan dialog antara Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang dengan Musa as as manusia biasa yang menerima tugas kerasulan:

  • Allah SWT mengutus Musa as kepada Fir'aun yang telah berbuat zalim (10-11) - yakni mengaku dirinya sebagai tuhan, dan menjajah hak-hak kaum Bani Israil

  • Musa as mengutarakan kekhawatirannya yang sangat manusiawi:

    • Ketakutannya akan kekejaman Fir’aun (12)

    • Tidak percaya dirinya karena dia bukan orang yang sabar dan fasih berbicara (13)

    • Ketakutan akan balasan atas pembunuhan yang tidak sengaja dilakukan Musa kepada seorang Mesir sebelum Musa as menjadi Rasul (14). Peristiwa ini diterangkan di ayat lain:

      Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (rakyat Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata, "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)." (Al Qashash 28:20)

  • Allah SWT meneguhkan hati Musa as (15):

    • Allah memperkenankan permintaan Musa as agar saudaranya, Harun as yang sabar dan fasih menjadi pendampingnya.

    • Allah membekali keduanya dengan mukjizat, yakni tongkat menjadi ular dan tangan yang bersinar terang putih bersih.

    • Allah menegaskan Dia akan mendampingi mereka, ikut mendengarkan - tidak akan meninggalkan mereka ketika berhadapan dengan Fir’aun

  • Allah SWT memerintahkan Musa as dan Harun as mendatangi Fir’aun dengan dua tujuan utama:

    1. Menyampaikan risalah Tauhid, bahwasanya hanya ada Tuhan yang Esa, yang menciptakan alam semesta, yang telah mengutus mereka sebagai Rasul (16)

    2. Meminta Fir’aun melepaskan Bani Israil bersama Musa as dan Harun as (17)

Peristiwa dialog Musa as dengan Allah SWT ini diterangkan di ayat lain sbb:

(Allah berfirman), "Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Lemparkanlah tongkatmu."
Maka tatkala Musa melihatnya bergerak-gerak seperti ular yang gesit, larilah ia ke belakang tanpa menoleh.
(Allah berfirman), “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang diangkat Rasul, tidak takut di hadapan-Ku. Akan tetapi orang yang berlaku zalim (itulah yang takut), hingga dia melakukan kebaikan untuk menukar kezalimannya (Allah akan mengampuninya); Akulah yang Maha Pangampun lagi Maha Penyayang."
"Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir'aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (An-Naml 27:9-12)

Argumentasi Musa as dengan Fir’aun

Fir’aun menyatakan keheranannya ketika mendengar Musa as menyatakan diri sebagai utusan Tuhan dan membebaskan Bani Israil, dengan mempertanyakan (18-19):

  • Bukankah dia (Fir'aun) yang menyelamatkan Musa dari bayi dan mengasuhnya, padahal Musa keturunan Bani Israil yang dijadikan budak yang hina dan rendah bagi rakyatnya?
  • Bukankah dia menyaksikan Musa kecil tidak berbeda dengan anak-anak lain, sejak kecilnya hingga dewasa?
  • Bukankah Musa pun berbuat aniaya, dengan membunuh seorang Mesir dan setelah itu melarikan diri karena ketakutan?
  • Bukankah dengan sikap Musa as ini (menasehati Fir’aun dan meminta pembebasan Bani Israil) laiknya seperti anak yang tidak tahu diri dan tidak tahu diuntung? (20)

Musa as mengakui bahwa pembunuhan tersebut dilakukan tidak disengaja dan membenarkan dia melarikan diri karena ketakutan hingga akhirnya Allah mengangkatnya sebagai Rasul (21). Namun Musa as menyanggah perbuatan baik Fir’aun kepadanya, dan menyatakan itu tidak lain sebagai balas budi Fir’aun kepada Bani Israil yang telah memperbudak mereka (22)

Ayat selanjutnya menerangkan argumentasi Musa as dalam menyampaikan ketauhidan kepada Fir’aun yang sangat menarik sbb:

Fir’aun: “Siapa Tuhan semesta alam itu?” (23)

Musa as: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya.” (24)
-> Di sini Musa as mendeskripsikan Tuhan semesta alam sebagai Dzat yang menciptakan langit dan bumi - dua hal yang sangat jelas tampak nyata tidak mungkin dapat dilakukan oleh Fir’aun yang mengaku dirinya sebagai tuhan.

Fir’aun (kepada para pembesarnya): “Apakah kamu tidak mendengarkan” (25)
-> Di sini tampak Fir’aun meminta dukungan para pembesarnya karena tidak bisa membantah jawaban Musa as mengenai Tuhan semesta alam.

Musa as: “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-moyang kamu yang dahulu” (26)
-> Musa as menambahkan deskripsi Tuhan semesta alam, yakni Tuhan yang sebenarnya sudah disembah oleh nenek-moyang Fir’aun terdahulu. Dengan kata lain, Musa as menegaskan bahwa sikap Fir’aun mengaku tuhan adalah sesuatu yang baru diada-adakan oleh dia, yang tidak dilakukan oleh para pendahulunya.

Fir’aun: “Sesungguhnya kamu (Musa as dan Harun as) menjadi orang gila setelah diangkat sebagai Rasul.” (27)
-> Fir’aun akhirnya menyerang pribadi Musa as dan Harun as dengan mengatakan bahwa mereka sudah gila, jawaban yang bukan bantahan atas pernyataan Musa as dan tidak pula menguatkan argumen bahwa dirinya (Fir'aun) adalah tuhan.

Musa as: ”Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal." (28)
-> Musa as melanjutkan ‘serangan’ kepada Fir’aun dengan mempertanyakan nalar rasional Fir’aun, bahwa Tuhan yang sebenarnya itu adalah yang menguasai seluruh penjuru dunia - hal yang juga tampak jelas tidak dimiliki Fir’aun karena di luar kerajaan Mesir banyak terdapat kerajaan-kerajaan lain yang tidak dalam kekuasaan Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan. Di sini secara tidak langsung Musa as membalikkan tuduhan gila kepadanya kembali kepada Fir’aun, bahwa sebenarnya yang gila dan tidak menggunakan akal rasionalnya adalah Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan.

Fir’aun: "Sungguh jika kamu menyembah tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan." (29)
-> Fir’aun berlindung di balik kekuasaannya dengan mengancam akan memenjarakan Musa as, demi menyelamatkan mukanya karena sudah kehabisan argumentasi atas pernyataan Musa as.

Musa as: ”Dan apakah (kamu akan memenjarakan kami) kendati pun aku tunjukkan kepadamu suatu (bukti kebenaran) yang nyata?” (30-31)
-> Musa as kembali mempertanyakan nalar rasional dan keadilan Fir'aun sebagai Raja. Apakah Fir'aun akan tetap memenjarakan orang yang mampu membuktikan kebenaran kata-katanya?

Musa as kemudian menunjukkan mukjizat tongkatnya menjadi ular dan tangannya yang berubah menjadi putih bersinar terang (32-33).

Fir’aun kemudian meminta nasehat kepada para pembesarnya atas tantangan Musa as (34-35). Mereka menyarankan untuk mendatangkan semua ahli sihir terbaik dari penjuru negeri untuk bertanding melawan Musa as dan Harun as (36-37).

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.