Penolakan terhadap Al-Qur'an

Bila di ayat-ayat sebelumnya, Allah meneguhkan Rasulullah SAW agar tidak berputus asa dan bercermin dari perjuangan para Rasul serta jaminan Allah menyelamatkan mereka dan pengikutnya dari kaum yang ingkar; maka di ayat 192 dan seterusnya, Allah meneguhkan Rasulullah SAW dengan menerangkan kitab Allah, yakni Al-Qur'an yang diragukan oleh kaum Kafir, Musyrik dan Ahli Kitab (Bani Israil).

  1. Al-Qur'an adalah kalam Allah SWT (192) sebagaimana diterangkan di banyak ayat, diantaranya:

    Kitab (Al Quran ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (Az Zumar 39:1-2)

  2. Al-Qur'an diturunkan melalui Jibril (Ar-Ruh Al-Amin) ke dalam hati Muhammad SAW (193), sebagaimana disebutkan juga di ayat lain:

    Katakanlah, "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Al Baqarah 2:97)

    Katakanlah, "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (An Nahl 16:102)

  3. Al-Qur'an diturunkan kepada Muhammad SAW karena beliau diangkat sebagai Rasul (194) sebagaimana diterangkan juga pada ayat berikut:

    Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. (Ad Dukhaan 44:2-6)

  4. Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas dan fasih (195). Bahasa Arab Al-Qur'an ini jelas, mengikuti struktur grammar yang sempurna serta memiliki gaya bahasa yang indah dan puitis. Ini ditegaskan di ayat lain:

    Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, "Sesungguhnya Al-Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)." Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang. (An Nahl 16:103)

    (Ialah) Al-Qur'an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa. (Az Zumar 39:28)

  5. Kedatangan Al-Qur'an sudah dikabarkan di dalam kitab-kitab suci terdahulu (196) seperti kitab Taurat dan Zabur.

    Allah kemudian secara khusus menghibur Rasulullah atas sikap ulama Bani Israil yang menolak keras Al-Qur'an. Dikatakan, mereka ini sebenarnya hanya mencari alasan yang mengada-ada untuk menolak kebenaran Al-Qur'an, sekalipun misalnya Al-Qur'an yang berbahasa Arab sempurna dan indah itu diturunkan kepada orang selain Arab yang tidak fasih berbahasa Arab, tetap saja tidak akan membuat mereka percaya (198-199). Allah mengibaratkan mereka ini seperti orang yang tidak bisa mendengar karena telinganya tertutup (200).

    Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah, "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh." (Fushshilat 41:44)

    Di ayat lain bahkan dikatakan:

    Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang kafir itu (tetap) berkata, "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata." (Al An'aam 6:7)

    Allah menyatakan barulah mereka akan beriman (dan menyesal) pada saat kelak dihadapkan pada azab Allah yang pedih (201-207). Penyesalan saat itu digambarkan sbb:

    Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. (Az Zumar 39:47)

  6. Diturunkannya Rasul (termasuk diutusnya Rasulullah SAW) adalah sebagai bentuk keadilan Allah terhadap hambaNya. Setiap umat tidak akan menerima azab, setiap orang tidak akan dikenakan perhitungan dosa/pahala, kecuali setelah sampai kepada mereka berita kedatangan Rasul yang menyeru kebenaran. Tidaklah mungkin bagi Allah berlaku zalim, tidak fair kepada hambaNya (208-209). Hal ini ditegaskan pula pada beberapa ayat berikut:

    Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al Israa' 17:15)

    Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (Al Qashash 28:59)

  7. Al-Qur'an bukanlah dibawa oleh Syetan. Tidaklah mungkin Syetan mampu berpura-pura menjadi Jibril mendatangi Rasulullah dengan membacakan Al-Qur'an, atau menambah-nambahi sehingga mencemari kemurnian Al-Qur'an (210-212). Allah memberikan jaminan Al-Qur'an tetap otentik ini hingga akhir zaman:

    Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Al Hijr 15:9)

Perintah Melaksanakan Tugas Kerasulan

Setelah meneguhkan hati Nabi SAW melalui penjelasan perjuangan para Nabi dan kemuliaan Al-Qur'an yang diwahyukan kepada beliau, Allah kemudian memberikan perintah kepada beliau untuk melaksanakan tugas kerasulan, yang juga merupakan pedoman bagi para pendakwah, sebagai berikut:

  1. Serulah manusia untuk murni menuhankan dan beribadah hanya kepada Allah SWT semata (213)

  2. Sampaikanlah risalah dimulai dari kalangan kerabat yang terdekat dahulu (214)

  3. Bersikaplah lemah lembut terhadap orang yang telah menerima seruan untuk beriman (215)

  4. Jika mereka ternyata tetap durhaka, maka tidak usah ngoyo. Bukanlah tanggung jawab Rasul untuk memastikan dan menjamin mereka ke dalam surga (216). Allah menegaskan berkali-kali mengenai batasan tugas Rasul ini sebagai berikut:

    Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan." (Yunus 10:41)

    Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Al Maa'idah 5:92)

    Katakanlah: "Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." (An Nuur 24:54)

  5. Tetaplah tenang dan istiqamah. Ingatlah selalu akan Allah dalam berdakwah. Bertakwalah kepada Allah, karena hanya Dia yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui: Maha Mendengar segala permohonan dan curhat yang menggelisahkan hati, serta Maha Mengetahui tantangan yang dihadapi selama berdakwah (218-220). Di ayat lain, dinyatakan pula:

    Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami (Allah SWT) menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Yunus 10:61)

  6. Waspadalah terhadap Penyair/Sastrawan/Penulis yang mengikuti Syetan, yang tulisan dan syairnya mampu menarik bagi siapa pun yang mendengar / membacanya. Mereka ini disebutkan memiliki dua ciri sebagai berikut (221-226):

    • Mereka banyak berbohong dan banyak melakukan dosa/kemungkaran

    • Mereka sering menuliskan atau mengatakan hal yang mereka sendiri tidak mengerjakannya

    Allah kemudian mengontraskan mereka ini dengan Penyair/Sastrawan/Penulis yang dimenangkan oleh Allah SWT dalam dakwahnya, yang implisit merupakan pedoman bagi mereka yang memilih jalan dakwah dalam bentuk tulisan, yakni (227):

    • Mereka beriman, memurnikan keimanannya hanya kepada Allah
    • Mereka melakukan amal saleh dan kebajikan
    • Mereka banyak mengingat Allah
    • Mereka menjadikan tulisannya sebagai sarana melawan kezaliman dan memperjuangkan kebenaran

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.