Kisah Musa as dan Harun as (2)

Ahli Sihir Fir'aun: Sirnanya Kebatilan setelah Hadirnya Keimanan

Melanjutkan kisah perjuangan Musa as, maka Fir'aun mengikuti saran para pembesarnya untuk mengundang ahli-ahli sihir terbaik dari penjuru negeri untuk melawan Musa as dan Harun as (39-40).

Para ahli sihir ini sangat antusias dengan janji imbalan yang besar dari Fir'aun, yakni berupa kedudukan yang terhormat dan status sebagai orang dekat kerajaan serta harta melimpah bila menang melawan Musa as dan Harun as (41-42).

Maka pertandingan pun dimulai. Musa as meminta mereka memulai lebih dahulu (43). Para ahli sihir pun melempar tali dan tongkat mereka dengan mengucapkan, "Demi kekuasaan Fir'aun, sesungguhnya kami pasti akan menang" sebagai tanda ketaatan mereka menjadikan Fir'aun sebagai tuhan (44).

Di ayat lain dijelaskan, Musa as awalnya merasa takut dengan ular-ular ciptaan sihir tersebut hingga Allah menenangkannya:

Berkata Musa, "Silahkan kamu sekalian melemparkan." Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata, "Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang)." (Thaha 20:66-68)

Allah kemudian memerintahkan Musa as melemparkan tongkatnya sehingga berubah menjadi ular besar yang menelan seluruh benda palsu ciptaan sihir tersebut (45). Di sini, tampak jelas bahwa sihir yang bersifat palsu dan tipuan mata tidak akan bisa menang melawan mukjizat bersifat material dan nyata. Kejadian ular Musa memakan seluruh ular-ular ciptaan sihir tidak mungkin merupakan sihir juga, krn memakan hingga habis adalah bukti nyata yg bersifat material yang tidak mungkin dilakukan secara tipuan mata.

Mengetahui sihir mereka dikalahkan, para ahli sihir Fir’aun segera bersujud dan berkata, ”Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, yakni Tuhan Musa dan Harun” (46-48).

Menurut ar-Razi, para ahli sihir Fir’aun ini segera menyerah dan bersujud karena pengetahuan spiritual mereka yang tinggi sehingga cepat mengenali bahwa yang dilakukan Musa sama sekali bukanlah sihir.

Fir’aun kemudian murka kepada para ahli sihir tersebut, karena mereka spontan mengakui kebesaran Tuhannya Musa as, padahal Fir'aun lah yang mengundang dan menjanjikan mereka imbalan yang besar. Fir'aun juga menuduh mereka tidak lain adalah murid Musa as dalam ilmu sihir. Fir’aun kemudian mengancam menghukum mereka dengan dipotong tangan dan kaki serta disalib (49).

Di dalam kisah ini, diceritakan teguhnya keimanan para ahli sihir Fir'aun. Mereka yang awalnya sepenuh hati mencari imbalan yang besar dari Fir'aun, sangat mempercayai Fir'aun sebagai tuhan sehingga mengucapkan, "Demi kekuasaan Fir'aun, sesungguhnya kami pasti akan menang" namun setelah melihat mukjizat Musa as hati mereka langsung berubah total. Mereka segera bersujud mengakui kebenaran risalah Musa as. Ancaman, siksaan dan kematian pun diterima dengan penuh ridha dan kerelaan hati (50). Al-Qur'an melukiskan dengan indah harapan mereka ini:

"Sesungguhnya kami sangat menginginkan Tuhan kami mengampuni kesalahan kami, (mudah-mudahan kami mendapat ridhoNya) karena kami adalah orang-orang yang pertama beriman" (51).

Inilah yang diterangkan di ayat lain, bahwa hati yang sudah menerima kebenaran dan cahaya Allah pasti akan sirna semua kebatilan di dalamnya.

Dan katakanlah, "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Al Isra' 17:81)

Sebenarnya Kami melontarkan kebenaran kepada kebatilan lalu kebenaran itu menghancurkannya, maka dengan serta merta kebatilan itu lenyap... (Al Anbiyaa' 21:18)

Terbelahnya Lautan: Pertolongan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang

Musa as dan Harun as kemudian memimpin Bani Israil mengungsi meninggalkan negeri Mesir (52). Di dalam berbagai riwayat disebutkan rombongan Bani Israil ini mulai bergerak pada malam hari yang sangat gelap karena bersamaan dengan terjadinya gerhana bulan.

Digambarkan kekuatan tentara Fir'aun yang ada di pelosok kota dan berkekuatan besar. Saat itu pun digambarkan Fir'aun dan pembesarnya sangat marah kepada Bani Israil sehingga sudah tiada ampun bagi mereka kecuali pasukan Fir'aun akan memburu dan membunuh mereka (53-56).

Pada pagi menjelang siang hari, tentara Fir'aun akhirnya tampak dari kejauhan, hampir menyusul rombongan Bani Israil (61). Mereka mulai panik. Musa as kemudian menenangkan dengan mengatakan, bahwa Allah yang mendampingi Musa as (sebagaimana janji Allah pada ayat 15 sebelumnya) pasti akan memberi pertolongan (62).

Allah berfirman, "Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan)" (15)

Allah kemudian mewahyukan kepada Musa as untuk memukulkan tongkatnya ke tepi pantai Laut Merah hingga terbentang jalan yang membelah lautan dengan dikelilingi oleh dinding air yang tinggi seperti gunung (63). Setelah semua Bani Israil sampai di seberang laut Merah, maka laut pun ditutup kembali. Fir’aun beserta tentaranya tenggelam dg disaksikan oleh Musa as dan Bani Israil (65-66) sebagaimana juga dijelaskan di ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan (Al Baqarah 2:50)

Allah kemudian menegaskan bahwa proses penyelamatan Bani Israil ini adalah benar-benar mukjizat yang besar. Namun demikian belakangan diketahui bahwa tetap saja sangat sedikit dari Bani Israil ini yang benar-benar beriman kepada Allah swt dan menaati Rasul mereka, Musa as dan Harun as (67).

Kisah Musa ini menunjukkan janji Allah yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang yang disebut pada ayat 9 sebelumnya, untuk campur tangan dalam menolong perjuangan dakwah para Rasul. Perjalanan dakwah mereka ini adalah ujian bagi mereka - para Rasul (yakni ujian kesabaran, keyakinan kepada Allah dan persisten/istiqamah) dan juga ujian bagi umatnya (yakni menaatinya atau mengingkarinya).

Menegaskan pertolongan dan campur tangan Allah atas RasulNya, maka kisah Musa as dan Harun as ini ditutup dengan ayat yang identik sama dengan ayat 9 sebelumnya:

Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (68).

Kisah Nabi Ibrahim as (1)

Argumentasi Ibrahim as dengan Kaumnya

Al-Qur'an kemudian mengisahkan argumentasi Nabi Ibrahim as dengan bapak dan kaumnya mengenai ketuhanan.

Ibrahim: "Apakah yang kamu sembah?" (70)

Kaum Ibrahim: "Kami menyembah berhala-berhala dan kami menyembahnya dengan tekun" (71)

Ibrahim kemudian menanyakan nalar rasional kaumnya yang menyembah berhala ini (72-73):

  1. Apakah berhala itu dapat mendengar doa mereka yang menyembahnya?
  2. Apakah berhala itu dapat memberi manfaat atau mudharat pada mereka yang menyembahnya?

Kaum Ibrahim: "Sebenarnya kami mendapati nenek-moyang kami berbuat demikian." (74)

Ibrahim kemudian mempertanyakan kembali nalar kaumnya, "Apakah kalian mengetahui hakikat berhala yang kalian dan nenek-moyang kalian sembah ini?"

Di surah Al-Anbiyaa' 21:58-67 dijelaskan, bagaimana dialog Ibrahim as ini dengan kaumnya, yang juga mempertanyakan nalar logika mereka pada saat Ibrahim as diam-diam menghancurkan seluruh berhala dan menyisakan berhala yang paling besar. Kaumnya kemudian marah dan menangkap Ibrahim.

Kaum Ibrahim: "Apakah kamu yang menghancurkan tuhan-tuhan kami?" (62)

Ibrahim: "Sebenarnya patung yang besar itulah pelakunya. Tanyakan saja kepadanya kalau dia memang dapat berbicara" (63).

Kaum Ibrahim: "Sesungguhnya kamu sudah tahu bahwa berhala-berhala tersebut tidak dapat berbicara" (65)

Ibrahim: "Kalau sudah tahu seperti itu, mengapa kalian masih menyembahnya? Padahal dia tuhan-tuhan tersebut jelas-jelas tidak bisa membawa manfaat ataupun mudharat kepada kalian. Mengapa kalian sulit sekali memahami logika yg sederhana ini?" (66-67).

Ibrahim as kemudian menerangkan sifat-sifat Tuhan semesta alam yang sebenarnya:

  1. Dialah Tuhan yang menciptakan manusia (78)
  2. Dialah Tuhan yang memberi petunjuk kepada manusia (78)
  3. Dialah Tuhan yang memenuhi kebutuhan manusia agar tetap hidup, termasuk memberi makan dan minum (79)
  4. Dialah Tuhan yang menyembuhkan manusia dari sakitnya (80)
  5. Dialah Tuhan yang mematikan dan membangkitkan hidup kembali manusia (di Hari Kebangkitan) (81)
  6. Dialah Tuhan yang menjadi satu-satunya yang berkuasa di Hari Kiamat. Pada saat itu hanya kepadaNya manusia dapat berharap atas ampunan dan rahmatNya (82)

Perjalanan dakwah Ibrahim as kepada kaumnya dapat dilihat di bahasan sebelumnya, pada Al Anbiyaa' dan Al An'aam.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.