Kisah Nabi Ibrahim as (2)

Doa Ibrahim as

Melanjutkan kisah Ibrahim as, Al-Qur'an mendokumentasi 6 permohonan Ibrahim as terkait diri dan keluarganya:

"Ya Tuhanku, (1) berikanlah kepadaku hikmah dan (2) masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan (3) jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan (4) jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan (5) ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan (6) janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan." (83-87)

Ayat selanjutnya menjelaskan bentuk kehinaan yang menimpa manusia pada hari Kiamat yang dikhawatirkan oleh Ibrahim as dalam doanya di atas (88-102):

  • Semua orang akan menjadi fakir. Hartanya, anak-anaknya semua tidak ada yang bisa menolong
    Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. (Al Lail 92:11)
  • Ditunjukkannya surga kepada orang-orang yang bertakwa dan neraka bagi orang-orang yang sesat
  • Mereka para penyembah berhala (tuhan selain Allah) akan ditanya, mengapa berhala/tuhan itu tidak mampu menolong penyembahnya
  • Para penyembah berhala dan berhala yang disembah dimasukkan ke dalam neraka. Ikut juga bersama mereka para tentara Iblis
  • Di neraka mereka menyesali perbuatannya. Pun mereka sadar tidak ada seorang pun yang bisa menolongnya.
  • Mereka berjanji akan beriman kalau saja diberi kesempatan sekali lagi kembali ke dunia. Namun semua sudah menjadi bubur.

Allah kemudian menjelaskan bahwa kisah Ibrahim as dengan kefasihannya dalam dialog dan argumentasi Ketuhanan adalah bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT, walaupun hanya sedikit yang benar-benar mengambil pelajaran dan beriman (103).

Menegaskan pertolongan dan campur tangan Allah atas RasulNya, maka kisah Ibrahim as ini ditutup dengan ayat yang identik sama dengan ayat 9 sebelumnya:

Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (104).

Dialah yang Maha Perkasa melindungi RasulNya, serta menurunkan azabNya bagi umat para penentang Rasul. Namun Dia pula yang Maha Penyayang terhadap hambaNya yang bertaubat.

Kisah Para Rasul

Ayat-ayat selanjutnya menerangkan kisah beberapa orang Rasul, yakni Nuh, Huud, Shalih, Luth dan Syu'aib as. Al-Qur'an menceritakan perjuangan para Rasul ini dalam struktur pembagian ayat-ayat yang sangat sistematis dan konsisten.

Mengapa Kalian Tidak Bertakwa

Pertama-tama, para Rasul menanyakan kepada kaumnya, mengapa mereka tidak bertakwa, mengapa mereka membiarkan diri mereka bergelimang dalam kemusyrikan dan kezaliman dan tidak takut dengan konsekuensi azab Allah? Hal ini dijelaskan dalam ayat-ayat berikut:

Ketika saudara mereka berkata kepada mereka, "Mengapa kalian tidak bertakwa?"

Ayat di atas diulangi persis sama sebagai berikut:

Mengapa Kalian Tidak Bertakwa Referensi Ayat
Nuh as 106
Huud as 124
Shalih as 142
Luth as 161
Syu'aib as 177

Dari ayat ini kita dapat melihat bahwa para Rasul berasal dari masyarakatnya. Mereka bukanlah orang asing. Mereka bagian dari kaumnya dan turut menyaksikan kezaliman dan kemungkaran yang dilakukan kaumnya. Di ayat lain ditegaskan pula,

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat. (Al Furqan 25:20)

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Ibrahim 14:4)

Deklarasi Rasul Utusan Tuhan

Kemudian para Rasul ini menyatakan diri di depan kaumnya sebagai Rasul yang diutus Tuhan serta meminta kaumnya takut kepada Allah dan mematuhi perintah dan larangan Allah yang disampaikan melalui mereka. Hal ini dijelaskan pada ayat berikut:

"Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kalian, maka bertakwalah kepada Allah dan ikutilah nasehatku."

Ayat di atas diulangi persis sama sebagai berikut:

Deklarasi Rasul Utusan Tuhan Referensi Ayat
Nuh as 107-108
Huud as 125-126
Shalih as 143-144
Luth as 162-163
Syu'aib as 178-179

Rasul Tidak Meminta Upah

Para Rasul ini kemudian menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah meminta upah atau mengambil keuntungan ekonomi dari dakwah mereka ini. Cukuplah balasan Allah sebagai imbalannya.

"Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam."

Ayat di atas diulangi persis sama sebagai berikut:

Rasul Tidak Meminta Upah Referensi Ayat
Nuh as 109
Huud as 127
Shalih as 145
Luth as 164
Syu'aib as 180

Kezaliman yang Dilakukan oleh Kaum Rasul

Selain mempersekutukan Allah dan mengabaikan syariat Rasul terdahulu, Al-Qur'an menerangkan berbagai bentuk kezaliman spesifik yang dilakukan oleh kaum para Rasul ini.

Kezaliman Kaum Rasul Referensi Ayat
Nuh as 111-115
Huud as 128-130
Shalih as 146-152
Luth as 165-166
Syu'aib as 181-183

Kaum Nabi Nuh as diceritakan sangat arogan. Mereka menyatakan tidak akan mengikuti dakwah Nabi Nuh as selama orang-orang yang miskin dan status sosialnya rendah juga mengikutinya. Nuh as kemudian membantah dengan menyatakan bahwa tugasnya adalah menyampaikan risalah kepada seluruh umatnya, dan bukan memilah siapa yang diperbolehkan ikut dan yang tidak. Nuh as juga menegaskan bahwa amal setiap orang adalah pertanggungjawaban pribadi masing-masing langsung kepada Allah SWT.

Kaum 'Aad (Nabi Huud as) diceritakan melakukan 3 kezaliman:

  1. Banyak mendirikan bangunan yang kokoh dan tinggi demi kebanggaan dan status sosial; menjadikannya hanya sebagai koleksi dan permainan.
  2. Membangun istana yang megah dan benteng yang kuat seakan-akan mereka hidup selamanya, padahal bangunan tersebut banyak disia-siakan dan tidak ditinggali.
  3. Mereka sering menyiksa kaum yang lebih lemah dengan penuh kesombongan, kejam dan bengis.

Kaum Tsamud (Nabi Shalih as) dikisahkan melakukan 3 kezaliman:

  1. Tidak mensyukuri nikmat karunia alam yang subur dan menghasilkan berbagai jenis buah-buahan.
  2. Berlomba-lomba membangun rumah dengan memahat gunung sebagai kesenangan dan tanda status sosial
  3. Hidup melampaui batas, mengikuti gaya hidup mewah dan boros yang dilakukan oleh para pembesarnya. Di ayat lain disebutkan, yang dimaksud ini adalah sembilan orang dari kota Tsamud:
    Dan adalah di kota itu (kaum Tsamud) sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. (An-Naml 27:48)

Kaum Nabi Luth diceritakan melakukan kezaliman yang belum pernah dilakukan oleh umat manapun sebelumnya, yakni perilaku seksual yang keji, hubungan seks sejenis dengan laki-laki (sodomi). Di ayat lain disebutkan, kaum Nabi Luth ini juga merampok dan memperkosa orang asing yang masuk/singgah.

Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya, "Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?" Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar." (Al Ankabuut 29:28-29)

Penduduk Aikah (Madyan - Nabi Syu'aib as) diterangkan melakukan 3 kezaliman:

  1. Memanipulasi takaran dan timbangan dalam jual beli
  2. Melakukan hal yang merugikan dan mengambil hak orang lain, seperti merampas kepemilikan
  3. Membuat kerusakan seperti menjarah, menyerang, merampok, membunuh dan merusak alam

Penolakan dan Ancaman terhadap Rasul

Kemudian diceritakan bahwa para Rasul mendapat penolakan atas dakwahnya dan ancaman keselamatan jiwanya bila tidak menghentikan dakwah mereka.

Rasul Dibantah dan Diancam Referensi Ayat
Nuh as 116-118
Huud as 136-138
Shalih as 153-157
Luth as 167
Syu'aib as 185-188
  • Nabi Nuh as diancam akan dibunuh dan dirajam oleh kaumnya
  • Kaum 'Aad mengabaikan dakwah Nabi Huud as
  • Nabi Shalih as dikatakan terkena sihir oleh kaumnya (Tsamud). Mereka juga sengaja membunuh unta betina untuk membuktikan Nabi Shalih as hanyalah pembohong
  • Nabi Luth as diusir dari negerinya
  • Nabi Syu'aib dikatakan terkena sihir (sama seperti Nabi Shalih as) dan dianggap sebagai pembohong. Kaumnya bahkan menantang agar diturunkan gumpalan awan awan mendung yang mengandung siksa dari langit sebagai bukti kerasulan Syu'aib as

Kaum Rasul menerima Azab Allah

Setelah benar-benar tidak ada lagi dari kaumnya yang mau menerima risalah, dan kezaliman kaumnya semakin menjadi-jadi sehingga mereka memburu untuk membunuh para Rasul beserta pengikutnya, Allah SWT akhirnya menurunkan azab kepada mereka dan menyelamatkan orang beriman yang mengikuti para Rasul.

Kaum Rasul menerima Azab Allah Referensi Ayat
Nuh as 119
Huud as 139
Shalih as 158
Luth as 173
Syu'aib as 189
  • Kepada Kaum Nuh as, Allah menurunkan banjir besar dan menyelamatkan umatnya di dalam bahtera yang besar

  • Kepada Kaum Huud as, mereka dilanda angin dingin yang sangat kencang sebagaimana digambarkan di ayat berikut:

    Adapun kaum Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka (Al Haaqqah 69:6-8)

  • Kepada kaum Shalih as, mereka ditimpa petir yang menyambar dan diikuti oleh suara guntur yang sangat keras serta gempa bumi seperti digambarkan pada ayat berikut:

    Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang. (Al Qamar 54:30-31)

    Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. (Al A’raaf 7:78)

  • Kepada kaum Luth, kota mereka dibalikkan dan dihujani bertubi-tubi oleh batu dari tanah yang terbakar. Sebagian riwayat menerangkan kota ini meninggalkan tanda khusus berupa batu yang bertumpuk-tumpuk; ada juga yang menyebutkan sebuah danau yang airnya hitam dan berbau busuk.

    Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidak akan jauh dari orang-orang yang zalim. (Huud 11:82-83)

  • Kepada Kaum Syu'aib, Allah menurunkan azab berupa gempa yang menewaskan seluruh penduduknya di dalam rumah-rumah mereka, sebagaimana digambarkan di ayat berikut:

    Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. (Al A'raaf 7:91-92)

Perjalanan Rasul adalah Bukti Kekuasaan Allah SWT

Di akhir kisah para Rasul ini, diterangkan bahwa perjalanan para Rasul tersebut adalah bukti nyata kekuasaan Allah, tampak dari awal mereka diangkat menjadi Rasul, kemudian mengumumkan kerasulannya di depan kaumnya, argumentasi ketuhanan dengan kaumnya, mukjizat yang mereka tunjukkan sebagai bukti kerasulannya, hingga turunnya azab yang membinasakan bagi yang tetap ingkar dan diselamatkannya para pengikut Rasul dari azab Allah tersebut.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

Ayat di atas diulangi persis sama sebagai berikut:

Rasul adalah Bukti Kekuasaan Allah Referensi Ayat
Nuh as 121
Huud as 139
Shalih as 158
Luth as 174
Syu'aib as 190

Janji Allah yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang

Sebagai penutup, Allah kembali menegaskan janjiNya untuk menolong dan tidak berlepas tangan atas RasulNya, sebagaimana disebutkan pada ayat 9 di awal surah ini:

Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Ayat di atas diulangi persis sama sebagai berikut:

Allah Maha Perkasa dan Maha Penyayang Referensi Ayat
Nuh as 122
Huud as 140
Shalih as 159
Luth as 175
Syu'aib as 191

Dialah yang Maha Perkasa melindungi RasulNya, serta menurunkan azabNya bagi umat para penentang Rasul. Namun Dia pula yang Maha Penyayang terhadap hambaNya yang baru beriman dan bertaubat.

Penutup

Dari paparan di atas tampak jelas bahwa perjalanan para Rasul dalam menjalankan misinya, menyampaikan ketauhidan, memberikan berita gembira dan peringatan melalui tahapan dan proses yang seragam antara satu Rasul dengan lainnya, walaupun para Rasul tersebut berbeda periode kehidupannya, kaumnya dan lokasinya. Inilah komitmen dan janji Allah kepada kita hambaNya untuk membimbing sebagaimana diterangkan pada ayat berikut:

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al A'raaf 7:35-36)

Perjalanan para Rasul ini disebutkan pada banyak ayat lain. Kisah dan bahasan yang cukup lengkap dapat dilihat pada ayat-ayat berikut:

Rasul Referensi Ayat
Nuh as Al A'raaf 59, Huud 25
Huud as Al A'raaf 65, Huud 50
Shalih as Al A'raaf 73, Huud 61
Luth as Al A'raaf 80, Huud 77
Syu'aib as Al A'raaf 85, Huud 84

Beberapa hikmah dari kisah para Rasul ini adalah:

  • Rasul adalah manusia biasa. Mereka sangat manusiawi. Memiliki rasa takut dan frustasi. Mereka pun melakukan kesalahan sebelum mereka diangkat sebagai rasul seperti Musa as.
  • Rasul juga mengalami ujian kehidupan. Sama seperti kita. Hanya saja mereka segera diperingatkan bila melakukan kesalahan, spt Yunus as yang dimakan ikan Nuun hingga diselamatkan setelah bertaubat atas kesalahannya.
  • Penolakan dan cemooh bahkan ancaman terhadap para Rasul adalah hal yang lumrah. Pasti terjadi. Bahkan beberapa sampai diancam dibunuh dan diusir dari tempat tinggalnya. Seorang pendakwah pun tidak perlu heran dengan penentangan yang mereka hadapi.
  • Para Rasul tidak berharap, tidak pernah dan tidak akan pernah meng-komersilkan dakwahnya. Harapan mereka hanyalah balasan dari Allah SWT. Mereka memiliki keahlian dan pekerjaan sendiri (yang bukan terkait dakwah) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pendakwah dan ulama pun harus berakhlak sama karena mereka adalah pewaris para Rasul.
  • Hampir seluruh kezaliman yang dilakukan oleh umat terdahulu ternyata terulang dikerjakan oleh masyarakat kita sekarang. Hanya saja Allah SWT sejak diutusnya Rasulullah tidak lagi menurunkan azabNya segera di dunia, melainkan menundanya sampai nanti di akhirat. Di antaranya, menganggap remeh ketauhidan dan syariat Islam (bahkan sampai Atheis), bermegah-megah dalam membangun rumah dan gedung, bergaya hidup mewah, tidak mensyukuri nikmat alam yang subur, tidak jujur dalam jual-beli, merampas hak orang lain, perilaku seksual dengan sejenis, merampok dan merusak lingkungan, diskriminasi terhadap orang miskin dan bodoh, serta ketaatan membabi-buta terhadap penguasa seperti kepada Fir'aun yang tidak pernah salah dan berkuasa tanpa batas.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.