Mengulang sedikit dari ayat 97, Allah menjelaskan bbrp kelompok manusia dan karakter mereka pada masa Nabi SAW sbb:

  1. Orang kafir dari kalangan Badui (97-98). Suku Badui Arab ini adalah suku tradisional yg kurang berpendidikan. Mereka tinggal nomaden di padang pasir dan tdk mau menyatu dg masyarakat perkotaan.
  • Kikir, menganggap rugi dan sia2 kalau harus menginfakkan hartanya
  • Berharap dan senang kalau terjadi hal buruk yang menimpa orang muslim yg beriman
  1. Orang beriman dari kalangan Badui (99)
  • Mereka beriman kpd Allah dan hari akhir
  • Memandang harta yang dinafkahkan di jalan Allah sbg jalan mendekatkan diri kpd Allah dan dan agar Nabi SAW ridho kpd mereka.
  1. Orang yang pertama2 beriman dan menerima Islam, dari kalangan Muhajirin dan Anshar (100)
  • Mereka ridha kpd Allah, menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang Allah
  • Allah pun ridha kpd mereka. Mereka dibalas dg keridhaan Allah dan surga yang kekal
  1. Orang Munafik dari kalangan Badui dan penduduk Madinah yang sangat membenci Nabi SAW dan kaum Muslimin. Allah menjelaskan bhw keberadaan mereka ini samar, tdk mudah diketahui oleh Nabi SAW dan kaum Muslimin (101)

Tiga Kelompok Orang yang Menolak Ikut Perang Tabuk

Menurut Ibnu Abbas dll ayat 102-106, menerangkan tiga golongan yang menolak ikut dlm Perang Tabuk:

  1. Orang munafik yang sangat keterlaluan dan mereka mayoritas yang menolak ikut perang
  2. Kaum Muslimin yang akhirnya bertobat, mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf kpd Nabi SAW
  3. Orang beriman yang ragu2. Menurut riwayat, ayat ini terkait dg 3 org yg bertaubat ttp takut meminta maaf kpd Nabi SAW krn tdk ikut perang. Akhirnya setelah berselang 50 hari turun lah ayat 106 yang menjelaskan diterimanya taubat mereka. Di ayat lain disebutkan juga:

dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (At Taubah 9:118)

Terkait dg org beriman yg bertaubat ttp ditangguhkan ini, implisit Allah memerintahkan sikap kita thd mereka sbb:

  • Tetap menerima sedekah mereka krn bisa jadi sedekah mereka ini sbg jalan Allah membersihkan dan mensucikan mereka dari dosa dan kesalahan (103)
  • Mendoakan mereka krn bisa jadi doa kita dapat menentramkan hati mereka (103)
  • Tdk men-judge mereka pasti masuk neraka, celaka atau sampai memutuskan silaturahim. Ditegaskan bhw menerima taubat dan menerima amal hamba adalah semata hak prerogatif Allah SWT (104).
  • Fokus pada diri kita sendiri, bgmn kita melaksanakan amal sebaik2nya sebelum kita wafat dipanggil kembali kpdNya (105). Di ayat lain Allah menjelaskan ini dg lebih lengkap sbb:

…Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (Al Maa’idah 5:49)

Adab Mendirikan/Mengelola Masjid

Asbabun nuzul ayat 107-108 ini adalah mengenai Bani Ghunmun bin ‘Auf yang membangun Masjid Dhiraar sbg tandingan Masjid Quba. Pembangunan ini diprakarsai oleh Abu ‘Amir ar-Raahib (salah satu pemimpin Nasrani Madinah) dg tujuan agar dia dapat kembali menjadi pemimpin umat (dan bukan Rasulullah). Dana pembangunan pun disponsori oleh Raja Romawi saat itu. Kemudian mereka menemui Nabi SAW saat beliau akan berangkat ke perang Tabuk, meminta agar berkenan mendoakan dan sholat di masjid tsb. Nabi SAW pun setuju dan berjanji akan sholat di masjid tsb sekembalinya dari perang Tabuk. Dalam perjalanan pulang, turunlah ayat ini. Nabi SAW memerintahkan utk menghancurkan dan membakar masjid tsb.

Allah kemudian menerangkan pendirian (dan pengelolaan) masjid hanya boleh dilakukan atas dasar ketakwaan dan mengharapkan keridhaan Allah SWT (108-109). Perumpamaan mereka yang mendirikan masjid tanpa dasar takwa dan keridhaan Allah SWT seperti membangun rumah di tepi jurang. Susah payah dan menghabiskan banyak resource ttp pahalanya nihil, amalnya sia2, runtuh krn tdk ada ‘fondasi’ nya, yakni niat krn takwa dan keridhaan Allah SWT. Bahkan disebutkan hanya akan menambah siksaan mereka kelak di neraka (109-110). Na’udzubillah…

Perniagaan Allah dg Orang Beriman

Ayat 111 menerangkan, Allah membeli dari orang2 beriman jiwa dan harta mereka dg harga yakni surga. Bahwa balasan bagi orang yang beriman dan melaksanakan jihad perang adalah surga. Disebutkan juga bhw perniagaan ini sebenarnya sudah tertulis di dalam Taurat dan Injil.

Perniagaan Allah dg orang beriman ini pun disebutkan juga di ayat lain:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
(yaitu) (1) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan (2) berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (Ash Shaff 61:10-12)

Mereka yang beriman dan berjihad ini kemudian diperintahkan agar menjaga adab sbb (112):

  1. Memperbanyak taubat, introspeksi diri, mawas akan kesalahan dan khilaf pribadi
  2. Menjaga keikhlasan dlm beribadah
  3. Menjaga syahwat dan kenikmatan dunia
  4. Menjaga sholat fardhu
  5. Saling mengingatkan sesama (amar ma’ruf nahi munkar)
  6. Menjaga tegaknya hukum Allah, tetap istiqamah dalam kondisi darurat sekali pun (misalnya krn di tengah hutan), menjaga keadilan, serta menjaga perlakuan terhadap perempuan dan anak-anak.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab