Permohonan Ampunan utk Orang Musyrik

Allah melarang Nabi SAW dan orang beriman utk memohonkan ampunan bagi orang Musyrik, walaupun mereka itu masih sanak saudara (113).

Al Quran mengisahkan Nabi Ibrahim yang berjanji memohonkan ampunan bagi bapaknya, ‘Azar sbb:

Berkata Ibrahim, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (Maryam 19:47)

Kemudian beliau berdoa, memohonkan ampunan thd bapaknya, sbgmn disebutkan di ayat berikut:

dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat (Asy Syu’araa 26:86)

Sehingga akhirnya Allah melarang beliau ketika sudah tampak jelas kemusyrikan bapaknya menyembah selain Allah SWT (114). Sikap ‘Azar ini pun disebutkan di dalam ayat berikut:

Berkata bapaknya, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (Maryam 19:46)

Allah pun menjelaskan betapa beratnya ini bagi Nabi Ibrahim as dengan menyebutkan bhw Ibrahim as adalah seorang yg sangat lembut hatinya dan murah hati (penyantun).

Di sini implisit Allah berpesan kpd kita bhw hubungan darah, bahkan hubungan anak dg orangtua pun dikalahkan oleh hubungan keimanan. Ini juga tampak ketika Allah menegur Nabi Nuh ketika mendoakan anaknya yg tetap musyrik:

Allah berfirman: ”Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”.
Nuh berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi”. (Huud 11:46-47)

Di dalam bbrp hadits, Nabi SAW diceritakan,

Rasulullah pernah mendatangi kuburan ibunya, kemudian beliau menangis dan membuat orang2 yang ada di sekitar beliau pun menangis, lantas beliau berkata, “Aku meminta izin kpd Tuhanku utk memohon ampunan bagi ibuku, ttp Allah tdk mengizinkanku. Aku meminta izin utk menziarahi kuburnya, Allah mengizinkan aku. Maka lakukanlah ziarah kubur krn itu mengingatkan kalian akan kematian” (HR Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)

Allah kemudian menjelaskan fairness ketentuanNya, bhw setiap org hanya dianggap sesat setelah dia jelas2 sdh mengetahui apa2 yang diperintahkan dan dilarang Allah SWT dan dia kemudian mengingkarinya (115). Pada ayat lain pun disebutkan sebagai berikut:

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al Isra’ 17:15)

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa' 4:165)

Allah pun menegaskan Dia-lah Dzat yang Maha Mulia, tidak ada ketergantungan sedikit pun thd keimanan hamba-Nya. Dia yang memiliki kerajaan langit dan bumi, Dia pula yang menghidupkan dan mematikan segala yang ada di dalamnya. Serta tdk akan ada apa pun yang bisa menolong kecuali atas izinNya (116).

Dalam satu hadits Qudsi Allah berfirman:

“Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bertakwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun juga tidak mengurangi kekuasaan-Ku” (HR. Muslim, no.2577)

Diterimanya Taubat Nabi SAW dan Orang Beriman dlm Perang Tabuk

Allah SWT memuliakan dan meridhai RasulNya, serta menerima taubat para sahabat beliau yang beriman dan ikut dlm perang Tabuk pada saat sulit shg dikenal sbg Ghazwatul ‘Usrah (Perang Masa Sulit). Menurut Jabir bin Abdullah, saat itu pasukan Muslim mengalami susah unta (transportasi), susah logistik dan susah air. Diceritakan, 10 org harus bergantian naik 1 ekor unta, 1 butir kurma di-share oleh 2 org krn tdk ada makanan, dan menyembelih unta yang jumlahnya terbatas utk mendapatkan air minum krn tdk ada air bersih.

Di perang Tabuk pula, Nabi SAW mengizinkan org Munafik tdk ikut berperang krn mudah percaya thd alasan mereka hingga Allah menegur Nabi SAW sbgmn disebutkan di ayat sebelumnya:

Semoga Allah mema’afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? (At Taubah 9:43)

Sebagian org beriman saat itu pun ada yang merasa berat, setengah hati ikut berperang krn terpengaruh provokasi kaum Munafik. Setelah mengalami kesulitan yang amat sangat dlm perjalanan menuju medan perang Tabuk ini, mereka pun bertaubat kpd Allah, memohon ampun atas kurang ikhlasnya mereka ikut berperang.

Di tengah kondisi sulit inilah, Allah menurunkan ayat 117 yang menerangkan bhw Allah sdh menerima taubat Rasulullah dan juga pasukan org beriman atas kesalahan mereka; juga taubat 3 orang yang tdk ikut berperang krn malas ttp malu utk meminta maaf kpd Nabi SAW – spt dijelaskan di ayat 106 sebelumnya (118). Allah kemudian memerintahkan mereka utk menjaga ketakwaan serta tetap bersama2 dg Rasulullah dan org beriman, tdk lagi ragu dan terpengaruh oleh provokasi org2 Munafik (119).

Teguran Allah thd penduduk Madinah dan orang Arab Badui

Ayat 120-121 menjelaskan teguran Allah thd penduduk Madinah dan suku Badui yang menolak ikut perang Tabuk bersama Nabi SAW.

Allah kemudian menegaskan bhw setiap langkah dan kesabaran pasukan Islam saat itu yang mengalami kepayahan dan kondisi sulit dlm perjalanan ke Tabuk – sekecil apa pun – pasti dibalas Allah dg balasan yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.

Kewajiban Jihad Perang, Menuntut Ilmu dan Berdakwah

Ayat 122 menjelaskan mengenai pilihan orang beriman bila perintah jihad perang sudah diserukan oleh ulama atau pemimpin pemerintahan yang adil:

  1. Ikut dalam jihad perang
  2. Memperdalam pengetahuan agama
  3. Memberi peringatan, berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar thd masyarakat

Menurut jumhur ulama, hukum jihad perang menjadi wajib bagi semua orang (fardhu ‘ain) jika tercapai kondisi sbb:

  1. Jika Imam memberikan perintah mobilisasi umum. Imam di sini adalah pemimpin pemerintahan yang adil atau ulama yg sepakat diangkat sbg pemimpin umat
  2. Jika pasukan kaum Muslimin sdh berhadap2an bertemu dg pasukan kaum kafir.
  3. Jika musuh menyerang wilayah kaum Muslimin.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab