Keutamaan Jihad fi Sabilillah

Keutamaan jihad – dalam hal ini berperang – diterangkan mulai ayat 16 sbb:

  1. Jihad dan tdk mencari penolong selain kpd Allah, atau berpihak atau berteman dekat selain dg Nabi SAW (khusus bagi para sahabat Nabi) dan orang2 beriman adalah bbrp indikator benarnya iman kita kpd Allah (16)
  2. Mereka yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah dg harta dan jiwa masih lebih mulia daripada orang yang mengurus Masjidil Haram, walaupun mereka beriman kpd Allah dan hari Akhir, serta taat mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tdk takut selain kpd Allah (18-20).

Terkait memakmurkan masjid, Allah menegaskan bhw masjid hanya boleh diurus oleh orang beriman dan taat melaksanakan ibadah serta hanya takut kpd Allah. Masjid tdk boleh diurus oleh orang musyrik dan orang kafir yang menunjukkan kekafirannya terang2an, spt Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) (18). Rasulullah bersabda:

Yang memakmurkan masjid hanyalah keluarga Allah (HR Bukhari, Muslim, Al Bazzar dan Abd bin Humaid)
3. Mereka yang berjihad ini akan dibalas dg surga (21-22). Kalau pun dlm berjihad ini meninggal (syahid), maka Allah menjelaskan di ayat lain bhw mereka yg syahid ini sebenarnya tdk mati, bahkan mereka hidup di sisi Allah dan tetap mendapat rezeki sbgmana manusia yg masih hidup.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.
Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Ali Imran 3:169-170)
4. Panggilan jihad wajib ditaati dan mengalahkan kecintaan kpd hal lain, yakni cinta kpd keluarga (orangtua, anak2, istri, sanak-saudara), harta kekayaan, pekerjaan / usaha bisinis, dan rumah tempat tinggal. Ini semua harus diletakkan di bawah setelah prioritas menaati panggilan jihad (24).

Terkait orang2 yang dekat dg kita, spt bapak dan sanak saudara, Allah menegaskan bhw kita dilarang menjadikan mereka membantu atau mewakili urusan kita kalau mereka ternyata berpihak kpd kaum kafir yg memusuhi kita (23). Ayat ini konsisten dg larangan di ayat lain untuk menjadikan kaum kafir sbg pemimpin:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al Maa’idah 5:51)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.