Jumlah Bulan dalam Hukum Allah dan Waktu yang Diharamkan Berperang

Di ayat 36 Allah membenarkan perhitungan bulan yang dilakukan oleh masyarakat Arab saat itu, menetapkan jumlah bulan dlm setahun adalah 12 bulan utk digunakan sbg salah satu dasar penentuan atas syariat ibadah di dalam Islam (spt waktu shaum dan haji).

Kemudian Allah pun juga menetapkan 4 bulan yang disebut bulan haram (bulan suci), yang merupakan syariat dari Nabi Ibrahim as dan Ismail as yang juga sdh dilaksanakan oleh masyarakat Arab saat itu. Pada bulan haram ini, kita diharamkan melakukan peperangan dan agar menghindari segala perbuatan yang merusak kesucian bulan tsb. Perang tetap boleh dilakukan di bulan haram jika yang memulai bukanlah kaum Muslimin. 4 bulan haram tsb adalah:

  1. Dzulqa’idah
  2. Dzulhijjah
  3. Muharram
  4. Rajab

Namun demikian, Allah melarang kebiasaan masyarakat Arab saat itu yang mengulur2 bulan haram, shg mereka tetap berperang walaupun sdh masuk bulan haram (37).

Perintah Jihad Perang

Jihad perang adalah salah satu bentuk jihad. Mengutip pendapat Yusuf Qardhawi, jihad perang di sini adalah peperangan yang bertujuan melepaskan diri dari dari penindasan shg kaum Muslimin terusir dari tempat tinggalnya dan tdk bisa melaksanakan ibadah sesuai syariat Islam.

Jihad perang hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib bagi sebagian orang), namun menjadi fardhu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim) jika tercapai kondisi2 sbb:

  1. Jika Imam memberikan perintah mobilisasi umum. Imam di sini adalah pemimpin pemerintahan yang adil atau ulama yg sepakat diangkat sbg pemimpin umat
  2. Jika pasukan kaum Muslimin sdh berhadap2an bertemu dg pasukan kaum kafir.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). (Al Anfaal 8:15)

Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (Al Anfaal 8:16)
3. Jika musuh menyerang wilayah kaum Muslimin.

Kemudian ayat 38 Allah mengingatkan kpd kita – orang beriman – utk jangan merasa berat melaksanakannya bila kondisi wajib jihad perang di atas sudah tercapai. Allah menegaskan bhw kenikmatan hidup di dunia sangatlah kecil dibandingkan dg kehidupan akhirat (38). Di dalam satu hadits, Nabi SAW bersabda,

”Kehidupan dunia di akhirat tdk lain adalah seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya di laut. Hendaklah dia melihat berapa banyak air yang tertinggal?” Sambil beliau menunjuk pada jari telunjuknya (HR Imam Ahmad, Muslim dan Tirmidzi)

Mereka yang menolak melaksanakan jihad perang ini diancam dg siksa yang pedih atau masyarakatnya dimusnahkan (digantikan dg masyarakat lain) (39).

Melalui ayat ini implisit Allah memerintahkan kita utk selalu siap secara mental melepaskan duniawi, anak, keluarga, pekerjaan, rumah, kendaraan dan bisnis dan memilih berangkat melaksanakan jihad perang bila syarat2 kewajibannya sdh terpenuhi. Wallahu a’lam.

Kisah Gua Tsur

Dalam perjalanan Nabi SAW berhijrah dari Mekkah ke Madinah, beliau ditemani oleh Abu Bakar. Di tengah jalan mereka menginap 3 hari di dalam gua Tsur utk menghindari kejaran kaum Musyrikin Mekkah. Pada saat kritis hampir tertangkap inilah Nabi SAW menenangkan Abu Bakar dg mengatakan, ”Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita” (40).

Sikap Orang Munafik thd Perintah Jihad Perang

Allah menerangkan bhw bila jihad perang sudah diwajibkan (syarat2nya sudah terpenuhi), maka kita diperintahkan melaksanakannya dg segera, tdk menunggu sampai adanya kelapangan baru dilaksanakan (41), kecuali bagi orang yang memiliki uzur yang diperbolehkan spt lemah dan sakit.

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan (tertinggal rombongan), apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At Taubah 9:91)

Allah kemudian mengingatkan kita utk menghindari sikap spt orang munafik sbb:

  1. Mereka mencari2 alasan agar tdk ikut berperang. Spt dg berandai-andai, kalau jaraknya dekat, atau kalau waktunya pas maka pasti mereka ikut (42). Nabi SAW pun sempat mempercayai alasan bohong mereka ini dan mengizinkan mereka tdk ikut berperang. Kemudian Allah menegur Nabi SAW dan memaafkan beliau (43).
  2. Mereka terus dlm keraguan dan bimbang antara ikut dlm jihad perang atau tdk. Allah menjelaskan mereka spt ini krn tdk memiliki 2 hal berikut (44-46)
  • Iman kpd Allah. Keyakinan bhw segala ketentuan, termasuk ajal (mati di Medan perang) adalah murni di tangan Allah. Juga, menang dan kalah dlm peperangan adalah takdir yang sdh ditetapkan Allah dg segala kebaikan dan hikmah di baliknya
  • Iman kpd hari akhir. Keyakinan bhw dunia dg segala kenikmatannya tdk ada artinya dan sangat singkat dibandingkan keselamatan dan kenikmatan akhirat yang jauh lebih besar dan permanen selamanya. Dan balasan Allah atas segala amal perbuatan (termasuk melaksanakan jihad perang) akan diperhitungkan dg seadil-adilnya di akhirat kelak.
  1. Mereka berusaha menghasut, melemahkan semangat orang Muslim lain shg jadi ikut ragu2 spt mereka. Allah menjelaskan di ayat 47, utk melarang mereka ikut dlm jihad perang krn akan kontra-produktif dan mengacaukan orang Islam lain di dalam pasukan. Di ayat lain ditegaskan juga:

Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka (kaum Munafik), kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.” (At Taubah 9:83)
4. Mereka tdk senang kalau pasukan Islam mendapat kebaikan (spt menang atau selamat). Sebaliknya, mereka senang dan menyindir, “Tuh kan, gue bilang juga apa…” kalau terjadi hal buruk yang menimpa pasukan Islam (49-50)

Menghadapi mereka ini, Allah mengingatkan kita utk tdk lupa, bhw:

  • Segala yang terjadi sudah menjadi ketetapan Allah (51)
  • Melaksanakan jihad perang pasti akan mendapatkan salah satu dari 2 kebaikan besar, yakni: 1) kemenangan, 2) mati syahid (52)
  • Azab Allah pasti akan diturunkan kpd mereka yang menolak melaksanakan jihad perang ini (52)

Dalam salah satu hadits Nabi SAW bersabda,

Allah menjamin org yg berjihad fi sabilillah (jihad perang), jika meninggal Dia akan memasukkannya ke dalam surga, atau (jika selamat) mengembalikannya ke rumahnya dg memperoleh pahala atau harta rampasan (HR Bukhari, Muslim dan an-Nasa’i)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab