Nasib Mereka yang Menolak Al Quran sebagai Petunjuk

Allah kembali menekankan bahwa Al Quran mengandung kebenaran dan diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia agar tidak tersesat (41). Bagi mereka yang menolak kebenaran Al Quran, Allah mengingatkan sbb:

  1. Ingatlah bahwa setiap dari mereka akan mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing di hari kiamat (41). Bukan tanggung jawab Rasul atau pun orangtua/saudara mereka, sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

    Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka. (Ar Ra’d 13:40)

  2. Ingatlah bahwa kematian itu sebenarnya sangat dekat. Allah yang memegang jiwa setiap manusia ketika mereka tidur. Mudah saja bagiNya untuk mewafatkan mereka bila Dia berkehendak (42). Hal ini tercermin di dalam doa sebelum tidur yang dicontohkan oleh Nabi SAW:

    Dengan namaMu, wahai Tuhanku, aku letakkan tubuhku dan dengan (nama)-Mu aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan jiwaku, rahmatilah ia; dan jika Engkau melepasnya, jagalah ia seperti Engkau menjaga hamba-hambaMu yang saleh. (HR Bukhari Muslim, dari Abu Hurairah)

  3. Ingatlah di hari kiamat kelak tidak ada syafaat atau pertolongan selain seizin Allah SWT (43-44). Juga tidak bagi sesembahan (Ilah) selain Allah yang mereka tuhankan, mereka puji dan muliakan di dunia (45). Disebutkan juga, di hari kiamat para sesembahan tersebut menolak mereka dijadikan sesembahan sehingga Allah akhirnya memutuskan perselisihan tersebut (46). Hal ini disebutkan di dalam salah satu ayat berikut:

    Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka. (Maryam 19:81-82)

    Allah kemudian menggambarkan besarnya penyesalan mereka yang zalim ini sehingga bila mereka diberikan kekayaan sebesar dua kali lipat dari yang ada di seluruh dunia beserta isinya – mereka pasti rela menukar itu semua agar bisa terhindar dari siksa neraka. Hal ini tidak lain karena dahsyatnya azab yang mereka saksikan di hari kiamat tersebut belum pernah terbayangkan sebelumnya sama sekali (47).

Tabiat Manusia yang Menghapuskan Amal

Allah menjelaskan salah satu tabiat manusia, yakni bila dia ditimpa bahaya maka dia segera mengingat Allah, namun bila mendapat nikmat maka segera pula kembali kepada sesembahannya (ilah), yakni egonya dengan berpendapat bahwa nikmat itu semua tidak lain dari kecerdasan dan hasil usahanya semata (49). Allah menegaskan bahwa amal ibadah dan kebaikan mereka ini akan sia-sia dan tidak masuk ke dalam timbangan amal (50). Sebagai contoh, Al Quran menyebutkan kisah Qarun sebagai berikut:

Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Al Qashash 28:78)

Kemudian, Allah menegaskan kembali bahwa di Hari Pembalasan nanti, setiap manusia PASTI akan menerima balasan sesuai apa yang mereka usahakan. Berlaku bagi segenap makhlukNya tanpa terkecuali (51).

Tidak Boleh Berputus Asa dari Rahmat Allah

Setelah menerangkan azab bagi mereka yang menolak kebenaran Al Quran di atas, Allah menyatakan fairness hukumNya sebagai berikut:

  1. Allah menurunkan rezeki kepada hambaNya sesuai ukuran masing-masing. Kita tidak boleh risau dengan rezeki yang sedikit sehingga menjadi alasan tidak beramal. Juga bagi yang diberi kelebihan rezeki pun tidak boleh merasa aman pasti akan masuk surga karena hartanya, karena hanya harta yang diamalkan dengan ikhlas dan berlandaskan keimanan yang benar yang dapat membawa seseorang masuk surga (52).

  2. Allah akan mengampuni dosa sebesar apapun – selama orang tersebut bertaubat sebelum datang sakaratul maut atau tanda-tanda besar hari kiamat. Tidak ada alasan bagi seseorang berputus-asa betapa pun besar dosanya. Allah mengajak mereka yang bergelimang dalam dosa ini dalam redaksi yang sangat mengharukan di ayat 53 berikut:

    Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (53)

    Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Ibnu Abbas, ayat ini adalah jawaban atas beberapa orang musyrik yang datang kepada Nabi SAW untuk masuk Islam tetapi ragu-ragu karena mereka sebelumnya banyak melakukan pembunuhan dan berbuat zina. Allah kemudian mewahyukan ayat 53 dan ayat berikut:

    kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Furqan 25:70)

    Di dalam salah satu hadits Qudsi disebutkan Allah berfirman:

    Wahai anak Adam, selagi kamu minta dan berharap kepadaKu, maka Aku akan mengampuni bagimu segala yang telah berlalu dari dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, kemudian kamu meminta ampun kepadaKu, niscaya Aku ampuni kamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika kamu datang kepadaKu dengan kesalahan (dosa) sepenuh bumi, kemudian kamu mendatangiKu dengan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (Shahih Al-Jami’ 5/584)

Allah kemudian menerangkan how-to, step-by-step bagi mereka yang bergelimang dosa ini untuk kembali kepada jalan Allah SWT, yakni:

  1. Memohon ampun kepada Allah, bertaubat atas seluruh perbuatan dosa yang lalu (53). Disebutkan di ayat lain sbb:

    Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An Nisaa’ 4:110)

  2. Melepaskan segala sesembahan (ilah), segala sesuatu yang diletakkan laksana tuhan, seperti kekuasaan, kekayaan dan keturunan, dan kembali kepada Allah. Menjadikan ibadah dan ridha Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam menjalani kehidupan dunia (54)

  3. Memasrahkan diri kepada Allah, dengan menerima Islam sebagai satu-satunya jalan keselamatan dunia dan akhirat (54)

  4. Menaati segala yang diperintahkan Allah dan RasulNya. Melaksanakan syariat agama dengan ikhlas dan sebaik-baiknya (55)

Penyesalan Manusia

Allah mengingatkan kita bahwa ada tiga jenis penyesalan orang yang zalim di akhirat:

  1. Sesal karena lalai dalam beramal, menunaikan kewajiban terhadap Allah karena menganggap kewajiban tersebut adalah hal yang remeh dan tidak perlu dikhawatirkan (56).

  2. Sesal karena tidak aware ketika petunjuk atau hidayah Allah datang kepada dirinya. Mereka yang menyesal berpikir, kalau saja mereka benar-benar memperhatikan ketika hidayah itu datang, niscaya mereka sudah menjadi orang yang bertakwa (57).

  3. Sesal karena tidak cukup waktu di dunia karena menunda-nunda urusan akhirat, dan kematian yang datang dengan tiba-tiba. Mereka yang menyesal berpikir, kalau saja mereka diberi kesempatan sekali lagi hidup di dunia, pasti mereka akan beramal sebanyak-banyaknya (58).

Allah kemudian mengingatkan bahwa semua penyesalan di atas sebenarnya berpangkal dari kesombongan mereka ketika di dunia yang menolak dan tidak mau mendengarkan kebenaran yang sampai kepada mereka, sehingga hati dan pikiran mereka bertambah tertutup dari kebenaran (kafir) (59).

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab.