Surah ini dinamakan juga Surah Al Mu’min dan masuk kelompok Surah Makkiyyah.

Surah ini dibuka dengan menyebutkan kemuliaan Al Quran yang diturunkan oleh Allah, Tuhan yang Maha Perkasa yang kekuatanNya meliputi seluruh alam semesta, dan Maha Mengetahui yang pengetahuannya meliputi bumi dan langit serta yang ada di antaranya (2).

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) (Al An’aam 6:59)

Kemudian diterangkan beberapa sifatNya yakni (3):

  • Maha Pengampun atas dosa-dosa hambaNya yang bertaubat, tetapi memiliki azab yang keras bagi mereka yang mengingkari risalahNya, sebagaimana disebutkan juga di ayat lain:

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih. (Al Hijr 15:49-50)

  • Maha Pemberi Rizki kepada seluruh hambaNya.

Allah berfirman, “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (Al A’raaf 7:156)

  • Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia yang layak disembah

Di akhir ayat 3 kita kembali diingatkan, bahwa kita semua akan kembali kepada Allah. Tidak ada jalan lain, selain hanya jalan kembali menuju kepadaNya, Tuhan yang juga menciptakan kita pertama kalinya.

Adab dalam Berdakwah

Ayat 4 menerangkan bahwa bagi orang yang terbuka hatinya akan terang benderang mudah melihat kebenaran ayat-ayatNya, baik ayat Kauniyah (dalam bentuk fenomena alam semesta) maupun ayat Kauliyah (dalam bentuk ayat tekstual di kitab yang diturunkan melalui RasulNya). Hanya mereka yang tertutup hatinya dari hidayah Allah (kafir) yang meragukan dan menolak ayat-ayatNya.

Allah kemudian memberi dua pedoman dalam berdakwah:

  1. Tidak risau dengan perilaku orang kafir yang menentang dakwah beliau. Bahwa fokus dakwah adalah menyampaikan dengan cara yang sebaik-baiknya, sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl 16:125)
2. Gigih, persisten, tidak mudah putus asa atas sikap mereka yang menolak, karena perlakuan yang sama juga dialami oleh umat-umat para rasul terdahulu (5-6)

Doa Malaikat bagi Orang Beriman

Diceritakan, para malaikat mengelilingi ‘Arsy. Mereka senantiasa bertasbih memuji Allah dan mendoakan kaum beriman sebagai berikut:

  • Doa memohon ampunan bagi orang beriman yang bertaubat dan dijauhkan dari siksa neraka (7)

“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala”

  • Doa memohon balasan surga bagi orang beriman dan keluarganya yang beramal saleh (8)

“Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

  • Doa agar diturunkan rahmat agar orang beriman dihindarkan dari balasan kejahatan atas amal buruk mereka (9)

“dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”

Orang Musyrik Tidak Diampuni Allah

Ayat selanjutnya menerangkan dialog antara Allah dengan orang musyrik di akhirat. Disebutkan di ayat 10 bahwa kebencian Allah kepada mereka melebihi besarnya kebencian mereka kepada diri mereka sendiri karena penyesalan mereka, padahal penyesalan mereka ini sangat besar (karena lalai tidak beramal dan tidak beriman ketika di dunia), yang digambarkan di ayat berikut:

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. (Al Baqarah 2:167)

Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal. (Asy Syuraa 42:45)

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (Al Furqaan 25:27-29)

Orang-orang kafir ini mengakui dosa-dosa mereka dan memohon (nego) apakah bisa mereka dihindarkan dari azab neraka (11) dalam redaksi yang indah sbb:

Mereka menjawab, “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?”

Namun Allah menolak permohonan mereka karena dosa syirik mereka (menolak menuhankan hanya Allah yang Esa) (12). Hal ini ditegaskan juga di ayat lain:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (An Nisaa’ 4:48)

Allah kemudian menjelaskan tertutupnya hati mereka terhadap ketauhidan ini karena dua sebab berikut (13):

  • Tidak memperhatikan atau mentadabburi terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah yang tersebar di alam semesta dan di dalam diri mereka
  • Tidak mensyukuri segala nikmat yang dikaruniakan Allah kepada mereka

Penegasan Perintah Bertauhid

Allah memerintahkan kepada kita untuk beribadah dengan memurnikannya sebersih mungkin ditujukan hanya kepada Allah SWT (14), yakni Tuhan yang Maha Tinggi, yang Memiliki ‘Arsy dan yang mengutus Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada para Rasul dan hamba pilihanNya (15).

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab