Manusia Dibangkitkan di Hari Kiamat

Allah menggambarkan situasi pada saat dibangkitkannya manusia di hari kiamat:

  1. Pada saat keluar dari kubur, manusia akan ditanya, “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Mereka serentak menjawab, “Kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan” (16). Jawaban ini sesuai dengan fitrah manusia yang sejak dari alam ruh sudah mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan, sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Al A’raaf 7:172)

  2. Setiap manusia akan menerima balasan atas perbuatannya dengan catatan yang lengkap, perhitungan yang adil dan proses yang cepat (17)

  3. Pada saat itu sangat besar kesedihan yang dirasakan oleh orang yang zalim. Digambarkan hati mereka sesak, kerongkongan mereka tercekat tidak mampu berkata apa-apa karena menanggung kesedihan yang teramat besar. Mereka saat itu sendiri, tidak ada teman yang menemani, termasuk keluarga dan teman dekat. Selain itu mereka juga tidak memiliki sesuatu atau seseorang yang bisa menolong atau meringankan hasil perhitungan amal mereka (18). Putus asanya mereka ini digambarkan di banyak ayat lain, diantaranya:

    Dan kalau setiap diri yang zalim (muayrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka membunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya. (Yunus 10:54)

    Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal. (Asy Syuraa 42:45)

    Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). (Al Haqqah 69:25)

  4. Saat itu dalam pandangan Allah, tampak jelas sifat khianat dari mata orang yang zalim dan segala yang mereka sembunyikan di dalam hati (19)

  5. Allah kemudian melaksanakan pengadilan atas mereka. Hanya Allah yang memberi keputusan atas mereka. Tidak ada satu pun yang mampu mengubah keputusanNya, termasuk tuhan-tuhan dan sesembahan yang dulu mereka sembah (20)

Akhir Kesudahan Kaum yang Ingkar

Allah secara implisit meminta kita untuk merenungkan beberapa umat terdahulu yang diazab Allah SWT dari bekas-bekas peninggalan mereka. Disebutkan mereka diberi kelebihan (dlm bentuk fisik, kecerdasan dan kekuasaan) tetapi Allah menurunkan azab kepada mereka karena mereka mendustakan rasul yang diutus kepada mereka (21-22).

Kisah Fir’aun dan Kaumnya

Salah satu contoh kaum yang ingkar ini adalah Fir’aun, Qarun dan Haman. Qarun mewakili kalangan pengusaha, dan Haman penasehat politik Fir’aun.

Allah mengutus Musa as kepada mereka dengan membawa Taurat dan mukjizat (23). Mereka menganggap Musa as tidak lebih dari seorang tukang sihir dan pendusta (24).

Di ayat lain dijelaskan bahwa ini adalah perilaku umum umat yang mendustakan para rasul:

Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila” (Adz Dzariyat 51:52)

Kembali ke kisah Musa as, bukan hanya menolak dakwah beliau, Fir’aun bahkan memerintahkan tentaranya membunuh seluruh anak laki-laki pengikut Musa as dan membiarkan hidup wanita dengan tujuan untuk merendahkan, menjadikan mereka pelayan dan menghinakannya sehingga tidak ada lagi anak-anak laki-laki yang bisa memperkuat Musa as (25). Selain itu, Fir’aun juga menyusun rencana untuk membunuh Musa as (26).

Menghadapi tekanan Fir’aun ini, Musa as mengatakan kepada Fir’aun,

“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari perhitungan.” (27)

Menarik memperhatikan redaksi jawaban Musa as di atas, yang menunjukkan kedekatan hubungan Musa as dan Fir’aun dengan menyebut “Tuhanku dan Tuhanmu.” Menurut sebagian riwayat Fir’aun yang memungut Musa ketika kecil adalah ayah dari Fir’aun yang menentang kerasulan beliau kemudian.

Nasehat Seorang Beriman kepada Fir’aun dan Kaumnya

Allah kemudian menceritakan mengenai salah seorang penasehat Fir’aun yang diam-diam beriman mengikuti Musa as. Tidak dijelaskan di dalam ayat lain atau hadits identitas orang ini. Orang ini mempertanyakan motif Fir’aun yang hendak membunuh Musa as dan seluruh anak laki-laki pengikut Musa as hanya karena mereka menyembah Tuhan yang berbeda dengan Fir’aun. Padahal belum jelas juga bagi Fir’aun apakah Musa as itu memang benar-benar penipu atau mungkin saja orang yang benar (28).

Fir’aun menolak pendapat orang beriman ini dan menganggap keputusan tersebut adalah sesuai dengan apa yang terbaik bagi bangsa Mesir (29). Ayat ini sejalan dengan ayat lain yang menyatakan Fir’aun menyesatkan rakyat Mesir dan petinggi kerajaannya:

Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk (Thaaha 20:79)

kepada Fir’aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikut perintah Fir’aun, padahal perintah Fir’aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar. (Huud 11:97)

Disebutkan juga, orang beriman ini bahkan mengingatkan kepada Fir’aun dan kaumnya:

  • Ingatlah akan bencana kehancuran yang akan menimpa mereka (azab dunia) seperti yang terjadi pada kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan kaum-kaum yang lain. Mereka mendapat azab karena bersekutu mendustakan Rasul yang diutus kepada mereka (30-31).
  • Ingat juga akan konsekuensi azab di akhirat, ketika pintu taubat sudah ditutup dan tidak ada seorang pun yang bisa menolong saat itu (32-33).
  • Ingatlah Yusuf yang sebelumnya juga pernah menjadi petinggi Fir’aun yang dikenal bijaksana dan adil serta diberi keistimewaan menafsirkan mimpi. Sangat mungkin Musa as adalah sosok yang seperti Yusuf as yang membawa kebenaran (34)

Fir’aun kemudian memerintahkan Haman untuk membangun bangunan yang tinggi agar dapat melihat pintu langit dan berjumpa dengan Tuhan Musa as (36-37), sebagaimana disebutkan juga di ayat lain:

Dan berkata Fir’aun, “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (Al Qashash 28:38)

Di ayat selanjutnya dijelaskan peringatan dari orang beriman tadi kepada bangsa Mesir sbb:

  • Kehidupan dunia ini hanyalah sementara sedangkan kehidupan yang kekal dan sejati adalah nanti di akhirat (39). Hal ini sejalan dengan banyak ayat lain yang juga menerangkan siklus kehidupan dunia diantaranya:

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 57:20)

    Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al Ankabuut 29:64)

  • Setiap orang akan mendapat balasan tepat sama dan sebanding dengan perbuatan jahatnya. Sedangkan perbuatan baik yang disertai keimanan akan dibalas dengan surga (40).

    Menurut Ar Razi, ini merupakan salah satu prinsip Islam, dimana hukuman tidak pernah lebih berat dari perbuatan jahat yang dilakukan. Sedangkan bagi mereka yang berbuat baik diberikan imbalan yang berlipat seperti diterangkan di ayat yang lain:

    Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al An’aam 6:160)

    Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu. (An Naml 27:89)

  • Janganlah mengikuti sesuatu yang tidak diketahui. Klaim bahwa Fir’aun itu tuhan tidak dapat dibuktikan. Fir’aun tidak dapat menghentikan turunnya berbagai musibah ke bangsa Mesir, seperti wabah belalang, katak, darah dan lain-lain. Sesungguhnya Tuhan yang sebenarnya adalah yang menciptakan alam semesta, yakni Allah yang Maha Esa, tidak ada tuhan lain selain Dia. KepadaNya lah semua makhluk akan kembali (41-43).

  • Bagi mereka yang tetap ingkar dan melampaui batas akan menerima siksa neraka (43).

Terakhir, orang beriman ini menutup dengan menyatakan, bahwa kelak kaumnya akan mengingat nasehatnya ini; yang juga disaksikan oleh Allah yang Maha Melihat (44).

Diceritakan, Allah menyelamatkan orang beriman ini dari rencana jahat Fir’aun, sedangkan Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan di laut (45) – sebagai azab di dunia. Kemudian mereka pun mendapat siksa di alam kubur dan azab neraka di akhirat (46).

Nabi SAW dalam haditsnya menerangkan mengenai alam kubur yang dijelaskan di ayat 46 di atas:

Sesungguhnya salah satu di antara kalian ketika mati akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya setiap pagi dan sore. Jika ia termasuk ahli surga maka ditampakkan surga. Jika termasuk ahli neraka dikatakan kepadanya, “Inilah tempat tinggalmu, Allah akan mengirimkan ke tempatmu tersebut di hari Kiamat. (HR Bukhari dan Muslim)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab