Situasi di Neraka

Melanjutkan kisah Fir’aun di ayat sebelumnya, ayat 47-50 menggambarkan kondisi pemimpin yang zalim seperti Fir’aun beserta pengikutnya di neraka. Allah menyebut pemimpin ini sebagai “orang yang menyombongkan diri” karena dahulu mereka menolak tunduk, pasrah dan taat kepada perintah Allah.

  • Pemimpin yang zalim dan pengikutnya akan berdebat, saling menyalahkan satu sama lain. Para pengikut pemimpin ini menuntut agar bisa mendapat keringanan atau terhindar azab neraka (47). Tuntutan ini dijawab oleh para pemimpin tersebut, “Kita sama-sama di neraka ini tidak lain karena sudah menjadi keputusan Allah (bukan kami yang memutuskan).”
  • Mereka mencoba melakukan negosiasi dengan para penjaga neraka. Mereka meminta kepada penjaga neraka, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari.”

Para penjaga kemudian bertanya, “Apakah belum datang kepada kalian rasul yang membawa risalah Allah?”

Mereka menjawab, “Benar, sudah datang.”

Para malaikat penjaga menjawab, “Kalau begitu silahkan kalian saja yang berdoa sendiri kepada Allah.” Allah menyatakan bahwa doa mereka pada saat itu sia-sia.

Menarik kalau kita melihat jawaban para malaikat penjaga tersebut, yang bertanya balik, apakah belum ada rasul yang datang menerangkan risalah Allah, yang kemudian dibenarkan oleh penghuni neraka. Di sini tampak jelas fairness hukum Allah SWT, dimana seseorang tidak akan dihukum neraka sebelum dakwah kerasulan sampai kepadanya, yang ditegaskan juga di ayat lain:

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al Israa’ :17:15)

Sedangkan di ayat lain, Allah menjamin setiap umat pasti diutus rasul kepada mereka:

Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya. (Yunus 10:47)

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Faathir 35:24)

Di dalam hadits yang diriwayatkan dari Ahmad dan dari Abu Dzar, disebutkan bahwa Allah telah mengutus 124.000 Nabi dengan 315 di antaranya Rasul.

Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu… (An Nisaa’ 4:164)

Jaminan Pertolongan Allah bagi Rasul dan Orang Beriman

Allah menegaskan jaminan pertolonganNya bagi para rasul dan orang yang beriman di dunia dan di akhirat (51-52). Implisit Allah menerangkan cara agar orang beriman ini mendapat pertolongan Allah, yakni:

  1. Berpegang kepada kitab Allah (53). Menjadikannya sebagai guidance dan merenungkannya (Ulul Albaab) (54)
  2. Bersabar dan meyakini bahwa janji Allah pasti benar (55)
  3. Bertaubat, memohon ampun kepada Allah (55)
  4. Bertasbih dan memuji Allah – setiap pagi dan sore (55). Di ayat lain disebutkan juga:

Dan dirikanlah sholat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Huud 11:114)

Mereka yang Mempermainkan Ayat-Ayat Allah

Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran; yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (56)

Ayat 56 di atas menerangkan adanya segolongan manusia yang tampak seperti mempelajari ayat-ayat Allah, berargumen dengan ayat-ayat Allah, padahal mereka tidak beriman dan tujuannya semata agar dia dihargai dan dikenal orang. Allah memerintahkan kita untuk menjauhi mereka dan memohon perlindunganNya.

Di dalam buku Usul Al-Tafsir: The Sciences and Methodology of the Quran (Recep Dogan, Tughra Books, 2014) disebutkan adab akhlak dan spiritual yang harus dimiliki oleh seorang Mufasir yang kredibel:

  1. Dia harus memiliki pemahaman Islam yang benar dan keimanan yang kuat
  2. Dia harus memiliki akhlak sesuai Al Quran dan mengikuti sunnah Nabi SAW dengan ketat
  3. Dia harus rendah hati dalam niatnya, ditujukan semata mengharapkan keridhaan Allah SWT
  4. Dia harus seorang yang bertakwa
  5. Dia harus seorang yang mampu bersikap adil dan obyektif dalam memandang permasalahan.
  6. Dia harus seorang yang sudah mengamalkan / mempraktekkan ilmu yang dikuasainya
  7. Dia harus bebas atau sudah taubat dari dosa-dosa besar
  8. Dia harus mendedikasikan dirinya hanya untuk Islam dan mengabdi kepada Allah SWT

Tanda-Tanda Kebesaran dan Karunia Allah kepada Manusia

Masih terkait dengan ayat-ayat Allah, dijelaskan kemudian tanda-tanda kebesaranNya dalam bentuk ayat-ayat Kauniyah, yakni fenomena alam dan nikmat Allah kepada manusia sebagai berikut:

  1. Penciptaan langit dan bumi – yang memiliki kompleksitas dan skala yang jauh lebih besar daripada penciptaan manusia (57)
  2. Diciptakannya manusia yang memiliki kehendak bebas. Perumpamaan mereka yang beriman dan beramal saleh dengan mereka yang durhaka adalah seperti orang yang dapat melihat dengan orang yang buta (58)
  3. Kepastian datangnya hari Kiamat sebagai akhir kehidupan dunia (59)
  4. Karunia Allah dalam bentuk perintah kepada kita untuk berdoa, sebagai penghambaan kita sebagai hamba yang memohon kepada Allah Tuhan yang Maha Tinggi. Setiap doa pasti akan dikabulkan. Bagi mereka yang enggan berdoa karena tidak merasa butuh dengan Allah diancam masuk ke dalam neraka Jahannam dengan penuh kehinaan (60).

Nabi SAW bersabda,

Barangsiapa yang tidak mau berdoa kepada Allah, maka Allah akan murka kepadaNya (HR Imam Ahmad dan al-Hakim)

Hendaklah seseorang dari kalian meminta semua keperluan hidup kepada Tuhannya, meskipun meminta tali pengikat sandal jika putus (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
5. Karunia Allah dalam bentuk diciptakannya siang dan malam sehingga manusia dapat beristirahat di malam hari (61)
6. Dijadikannya bumi sebagai tempat tinggal manusia (64)
7. Diciptakannya langit (atmosfer) sebagai atap yang melindungi kehidupan di bumi dari berbagai bahaya, seperti meteor, sinar ultra-violet dan suhu ekstrim antara siang dan malam (64)
8. Diciptakannya manusia dalam bentuk yang baik serta dikaruniakan rezeki (64), sebagaimana disebutkan juga di ayat lain:

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al Israa’ 17:70)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At Tiin 95:4)

Allah selanjutnya menerangkan, bahwa seluruh tanda-tanda kekuasaanNya dan karuniaNya yang sangat luas di atas tidak akan dapat dipahami oleh mereka yang hatinya selalu mengingkari dan menolak mengakui kebenaran ayat-ayatNya dan keberadaanNya. Di dalam salah satu ayat dijelaskan juga,

Dan siapakah yang lebih bodoh (zalim) daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; sehingga sekali pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan memahami petunjuk selama-lamanya. (Al Kahfi 18:57)

Hanya mereka yang mau berpikir jernih dan merendahkan hati untuk menerima kebenaranlah yang akan melihat Tuhan di balik seluruh fenomena alam dan nikmat tersebut (62-63). Inilah yang dimaksud dengan ayat berikut:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran 3: 190-191)

Tema yang mirip dengan ini juga diterangkan di Surah Thaaha di sini.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab