Perintah Memurnikan Ibadah hanya kepada Allah

Melanjutkan ayat sebelumnya, setelah mentafakkuri tanda-tanda kebesaranNya dengan segala nikmatNya, kita diperintahkan untuk menyembahNya, Allah Tuhan yang Maha Esa dan Yang Maha Hidup, dan memurnikan ibadah kita hanya kepadaNya, Allah Tuhan semesta alam (65), yang diterangkan detailnya sbb (66):

  • Tidak menyekutukan Allah dengan apa pun dalam ibadah dan menyembah kepadaNya
  • Tunduk, patuh, menaati perintah dan laranganNya (yang disampaikan melalui rasulNya)

Allah kemudian menerangkan detail proses kejadian manusia, sebagai bukti bahwa Dia lah Tuhan yang menciptakan manusia (67). Kalaulah bukan dari Yang Menciptakan manusia, maka mustahil Allah bisa menerangkan proses kejadian manusia yang baru terbukti kebenarannya di akhir abad 20, 14 abad setelah turunnya Al Quran.

  1. Manusia diciptakan pertama kali (Nabi Adam as) dari tanah
  2. Kemudian manusia berketurunan melalui proses yang berawal dari sperma, kemudian berubah menjadi segumpal darah, hingga dilahirkan
  3. Manusia berkembang menjadi dewasa. Sebagian hidup sampai tua, sebagian lainnya meninggal sebelum tua.

Proses penciptaan manusia ini diterangkan lebih lengkap dan detail di dalam Surah Al Mu’minuun ayat 12-16 yang dibahas sebelumnya di sini.

Allah menegaskan, proses penciptaan, menghidupkan dan mematikan manusia adalah sangat mudah bagiNya. Dialah yang menetapkan suatu urusan (termasuk menghidupkan dan mematikan manusia) semudah mengatakan, “Kun” (68).

Allah kemudian mempertanyakan kembali sikap orang kafir yang tetap tidak mengakui Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa dan Maha Menciptakan dan menolak kebenaran Al Quran dan seruan Rasul, walaupun banyak sekali bukti-bukti kekuasaan Allah yang ada menempel pada diri mereka (69-70).

Balasan Buruk bagi Mereka yang Menolak Kebenaran

Mereka yang menolak kebenaran ini dijelaskan di ayat 69-70 sebelumnya:

  1. Menolak menyembah hanya kepada Allah SWT
  2. Mempertanyakan kebenaran Al Quran
  3. Menentang risalah yang dibawa oleh Rasulullah

Bagi mereka ini, Allah mengancam azab yang keras yang digambarkan sbb:

  • Mereka dibelenggu dan diseret dengan rantai yang diikatkan ke leher mereka (71)
  • Kemudian mereka dimasukkan ke dalam air yang sangat panas dan dibakar di api yang besar (72).
  • Para penjaga neraka mempertanyakan keberadaan tuhan atau Ilah yang dulu mereka sembah dan dijadikan tujuan hidup mereka di dunia (73-74)
  • Setelah tiba di pintu neraka Jahannam, mereka pun dimasukkan ke dalamnya dan disiksa selamanya di sana. Di ayat lain disebutkan,

“Peganglah dia, kemudian seretlah dia sampai ke tengah-tengah neraka. Kemudian siramkanlah di atas kepalanya siksaan berupa air yang sangat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu (dulu di dunia) benar-benar orang yang perkasa lagi mulia. Sungguh, inilah azab yang dulu kamu ragukan.” (Ad Dukhaan 44:47-50)

Na’udzubillahi min dzaalik…

Perintah Bersabar dalam Berdakwah

Ketika dakwah dalam keadaan genting dan orang beriman mengalami kekalahan, Allah memerintahkan kepada Nabi SAW dan kaum beriman untuk bersabar, terus berusaha serta berprasangka baik, berkeyakinan kuat bahwa Allah pasti menolong perjuangan hambaNya mensyiarkan Islam.

Tidak masalah menjadi syahid walaupun kemenangan belum dicapai. Jangan terlalu merisaukan hasil dakwah yang belum sesuai dengan yang diharapkan, karena pasti usaha dan amal ibadah yang kita lakukan akan diperhitungkan kelak di akhirat, ketika semua makhluk kembali kepada Allah (77).

Di ayat lain, Allah meneguhkan Nabi SAW dan orang beriman,

Sungguh, jika Kami mewafatkan kamu (sebelum kamu mencapai kemenangan) maka sesungguhnya Kami (pasti) akan menyiksa mereka (di akhirat); atau Kami memperlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka. Maka sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka. Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. (Az Zukhruf 43:41-42)

Allah kemudian menegaskan, bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendakNya. Tidak ada pertolongan atau mukjizat – bahkan kepada Nabi SAW sekalipun – kecuali hanya dengan seizin Allah SWT (78).

Azab Dunia bagi Orang yang Menolak Kebenaran

Di dalam rangkaian ayat-ayat penutup Surah Al Mu’min ini, Allah kembali meminta mereka yang masih menolak kebenaran di atas untuk merenungkan dengan jernih pelajaran di balik fenomena berikut:

  1. Diciptakannya sebagian binatang yang jinak sehingga mudah dimanfaatkan bagi manusia (hewan ternak, dimakan, alat transportasi, dll). Hewan yang jinak tersebut seakan khusus diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia (79-80)
  2. Disisakannya bekas-bekas peninggalan umat terdahulu yang mendapat musibah azab karena keingkaran mereka terhadap rasul. Mereka tidak dapat menyelamatkan diri dari azab tersebut, walaupun memiliki banyak keunggulan seperti kekuatan dan kekuasaan yang luas (82-83).

Allah menggambarkan ketakutan umat yang ingkar tersebut, ketika melihat azab yang mengepung mereka. Pada saat terdesak seperti itu, mereka mengakui, “Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami menolak segala sesembahan kami sebelumnya” (84). Namun Allah menyatakan bahwa keimanan dan taubat mereka saat itu sudah tidak diterima. Hal ini sudah menjadi ketetapan Allah sebagaimana juga nasib Fir’aun yang disebutkan di ayat berikut:

…hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (Yunus 10:90-91)

Na’udzubillahi min dzaalik…

Semoga kita semua dibimbing dalam hidayahNya, diberi kelapangan dalam menaati syariatNya dan diwafatkan dalam keadaan beriman dan sedang beramal saleh. Aamiin.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab