Kisah Nabi Hud

Ayat selanjutnya menceritakan kisah Nabi Hud, dg tahapan yang mirip dg tahapan yang dialami oleh Nabi Nuh beserta kaumnya. Menurut riwayat, Nabi Hud masih keturunan Nabi Nuh, lengkapnya, Hud bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh, dari golongan terpandang di kalangan bangsa Ad. Bangsa Ad adalah salah satu kabilah Arab yg tinggal di Yaman, Ahqaf sebelah utara Hadramaut.

Menurut riwayat, kaum Ad diberi kelebihan fisik yang kuat dan tinggi, serta tinggal di daerah yang subur dan banyak hewan ternak.

Kaum Ad, selain menyembah berhala, mereka juga dikenal dengan kekejaman para pemimpinnya atas rakyatnya, sbgmn disebutkan di ayat berikut:

Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. (Asy Syu’araa’ 26:128-130)

Tahap 1: Rasul menyerukan Tauhid serta berita gembira dan peringatan

Nabi Hud as diutus kpd kaum Ad. Beliau berdakwah agar kaumnya meninggalkan penyembahan berhala, dan menyembah hanya kpd Allah (50).

Dijelaskan juga, Hud as mengatakan hal yang sama dg Nuh as, yakni tdk meminta upah dan berharap keuntungan materiil dari dakwahnya, sudah cukup ridha Allah sbg imbalan atas usahanya (51).

Hud as kemudian menjelaskan janji Allah kpd kaumnya, yakni bila mereka memohon ampun dan bertaubat atas dosa2 mereka maka niscaya Allah akan menambah nikmat yang selama ini sdh dikaruniai kpd mereka, berupa hujan deras yang menambah kesuburan daerah mereka dan ditambahkan kekuatan fisik mereka (52).

Tahap 2: Rasul ditentang oleh kaumnya

Kaum Ad kemudian menolak dakwah Hud as, dan menganggap Hud as telah gila (53-54). Di ayat lain juga disebutkan mereka menganggap Hud berbohong:

Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta.” (Al A’raaf 7:66)

Hud as kemudian mengatakan kpd kaumnya, kalau saja mereka merenungi nikmat Tuhan yg selama ini dikaruniai kpd mereka, maka akan jelas terang benderang bhw tdk mungkin itu semua krn berhala yg mereka sembah. Pasti ada Dzat yang mengaturnya, Dzat yg lebih tinggi, Dzat yang kekuasaannya meliputi seluruh makhluk hidup di alam semesta, Tuhan yang patut disembah (56).

Tahap 3: Rasul ditantang utk segera menurunkan siksa sbg bukti kebenaran kerasulan mereka

Kaum Ad meminta disegerakan datangnya azab Allah sbg bukti bahwa Hud adalah benar utusan Tuhan, sbgmn dijelaskan di ayat berikut:

Mereka berkata, “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Al A’raaf 7:70)

Tahap 4: Rasul menyerahkan urusan mereka yg masih ingkar kpd Allah

Hud as kemudian mengatakan kpd kaumnya, bhw seluruh pesan kerasulan sdh beliau sampaikan kpd mereka. Terserah kpd mereka apakah akan mengikuti atau mengingkarinya. Serta ancaman Allah kalau mereka tetap ingkar, yakni akan mengganti mereka dg kaum yg lain yang taat kpd Allah (57).

Tahap 5: Diturunkan azab yang membinasakan mereka yg ingkar kpd Allah

Akhirnya Allah menurunkan azab-Nya, menyelamatkan Hud as dan org yg beriman, serta memusnahkan kaumnya yang tetap ingkar dan musyrik (58). Dahsyatnya azab Allah thd kaum Ad ini digambarkan sbb:

Kaum Ad pun mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang. (Al Qamar 54:18-20)

Dan juga pada (kisah) Ad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. (Adz Dzaariyaat 51:41-41)

Adapun kaum Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka (Al Haaqqah 69:6-8)

Allah kemudian menerangkan turunnya azab kpd kaum Ad adalah karena sebab berikut (59):

  1. Bersikap abai, ignorance atas tanda2 bukti adanya Dzat yang Maha Kuasa, satu2nya Tuhan yang disembah; bukan malah berhala yang tdk bisa berbuat apa2
  2. Mendurhakai rasul, utusan Allah. Mengingkari seruan dakwahnya dan menganggapnya gila.
  3. Tidak berani menolak pemimpin kaumnya yang berlaku sewenang-wenang dan kejam/bengis thd rakyatnya dan menentang kebenaran.

Menutup kisah Hud, Allah menerangkan kaum Ad ini menerima kutukan di dunia dan akhirat krn kekafiran mereka kpd Allah, dan mereka dibinasakan, dimusnahkan dari muka bumi yg diakibatkan oleh perilaku mereka (60). Na’udzubillah min dzaalik.

Bercermin dari kisah kaum Ad, menarik diperhatikan bhw ternyata salah satu sebab turunnya azab Allah adalah karena mereka tdk berani melawan pemimpin2nya yang sewenang-wenang dan kejam. Hal ini mirip dg murka Allah thd Bani Israil yang mengabaikan sikap amar ma’ruf nahi munkar thd sesama mereka, spt dijelaskan di ayat dan hadits berikut:

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (Al Maa’idah 5:79)

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar mengajak kepada yang ma’ruf dan benar-benar mencegah dari yang munkar atau jika tidak, niscaya Allah akan mengirimkan hukuman/siksa kepada kalian sebab keengganan kalian tersebut, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan. (HR. Tirmidzi No.  2095)

Dengan demikian, tampaknya hamba Allah yang diridhai Allah adalah bukan hanya mereka yang taat melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya dlm bentuk ibadah individual (spt sholat, shaum dan haji) maupun sosial (spt zakat, infaq, mengurus anak yatim, dll), melainkan juga mereka yang berani melawan ketidakadilan, kezaliman dan saling menasehati sesamanya.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab