Kisah Nabi Syu’aib

Nabi Syu’aib diutus kepada kaum Madyan yang letaknya di Yordania sekarang. Beliau dikenal sbg org yang lemah lembut, penyantun, berasal dari keluarga yg terpandang dan cerdas shg beliau dikenal sbg Khathibul Anbiya’ (Ahli Pidato dari kalangan para nabi). Menurut riwayat, beliau adalah salah satu dari 4 Nabi/Rasul yang berasal dari bangsa Arab (garis keturunan Ismail), Huud as, Shalih as, dan Muhammad SAW. Tidak banyak yang diketahui mengenai Nabi Syu’aib as ini. Juga, tdk dijelaskan apa mukjizat beliau, walaupun implisit di dalam ayat 88 diterangkan bhw beliau memiliki mukjizat yang diperlihatkan kpd kaum Madyan, yg juga disebutkan di ayat berikut:

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu…

Allah mengutus Nabi Syu’aib as utk mendakwahkan 2 hal (84):

  1. Pemurnian tauhid, menyembah hanya kpd Allah (84). Menurut riwayat, kaum Madyan ini menyembah pohon dan berhala.
  2. Berlaku jujur dan adil dalam takaran/timbangan (jujur dlm transaksi jual beli) dan tdk tamak, merugikan org lain dg mengambil hak org lain (84-85). Allah menerangkan, bhw keuntungan dari sisi Allah berupa ridho dan berkahNya krn menjaga kejujuran adalah lebih baik daripada keuntungan dari tdk jujur dalam timbangan dan jual-beli (86).

Di ayat lain, ditegaskan larangan Allah utk berbuat curang dlm timbangan:

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (Al Muthaffifin 83:1-3)

Kaum Madyan kemudian mempertanyakan, mengapa Syu’aib meminta mereka meninggalkan sesembahan berhala yang sdh dilakukan sejak nenek moyang mereka. Juga, mengapa Syu’aib melarang mereka mengurangi takaran padahal yg mereka jual-belikan adalah harta mereka sendiri. Terlebih2 mereka heran krn Syu’aib org yang cerdas dan memiliki garis keluarga yang terpandang (87).

Beliau juga mengajak kaumnya utk memohon ampun, bertaubat kpd Allah atas perbuatan musyrik dan ketidakjujuran mereka dalam timbangan dan jual-beli (90).

Akhirnya kaum Madyan mengusir Nabi Syu’aib dan pengikutnya, spt digambarkan kekecewaan beliau pada ayat berikut,

Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. (89)

Diusirnya Nabi Syu’aib ini diterangkan juga di ayat lain:

Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata, “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami.” Berkata Syu’aib, “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?” (Al A’raaf 7:88)

Kemudian diceritakan bagaimana Nabi Syu’aib as di saat terakhir sebelum meninggalkan Madyan, berkata kepada kaumnya dg sedih utk yg terakhir kali:

“Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu.” (93)

Maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?” (Al A’raaf 7:93)

Setelah Nabi Syu’aib dan pengikutnya meninggalkan kota Madyan, turunlah azab Allah berupa gempa dan suara guntur yg keras yang memusnahkan semua penduduk Madyan, menjadikan kota tsb mendadak spt kota mati. Allah menerangkan juga, azab kpd penduduk Madyan ini sama dg azab yg membinasakan kaum Tsamud – kaum Nabi Shalih as (94-95).

Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka (Al A’raaf 7:91)

Na’udzubillahi min dzalik…

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab