Kisah Nabi Musa as dan Nasib Fir’aun

Allah menjelaskan kisah Musa as secara singkat di ayat 96-99. Disebutkan, bhw Musa as adalah salah satu rasul utusan Allah, yang diiringi oleh tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yg diperlihatkan kpd Fir’aun dan para pembesarnya, spt angin topan, wabah belalang, kutu, katak dan darah. Juga disebutkan Musa diberikan mukjizat yang nyata, maksudnya adalah mukjizat yang besar, yang nyata jelas mengalahkan orang-orang yang menentangnya, spt terbelahnya Laut Merah shg menenggelamkan Fir’aun dan tentaranya dan ular yang mengalahkan sihir dari para ahli sihir berilmu paling tinggi di seluruh Mesir shg menyebabkan para ahli sihir tsb spontan bersujud dan beriman kpd Allah SWT dan tetap dalam keimanannya walaupun mereka dipotong tangan dan kaki serta disalib (96).

”…demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya.” (Al A’raaf 7:124)

Ayat 97 menarik krn Allah menekankan sebab dihukumnya para pembesar Fir’aun (sama dg yang dialami oleh Fir’aun) adalah krn mereka patuh, taat kpd Fir’aun, walaupun hati nurani mereka tahu bhw kezaliman yang dilakukan Fir’aun spt menyiksa bangsa Israil dan mengangkat dirinya tuhan adalah salah. Di sini, kembali kita implisit diingatkan Allah, bahwa sikap abai thd kezaliman di sekitar kita dapat menjadi sebab kita mendapat siksa Allah SWT.

Kemudian, diceritakan bhw di hari kiamat kelak, Fir’aun yang akan mendatangi pengikutnya dan menariknya ke dalam neraka (98). Allah SWT menegaskan bhw Fir’aun dan para pembesarnya mendapatkan siksa bukan hanya di dunia (dlm bentuk penderitaan mereka ketika mengalami berbagai macam wabah hingga ditenggelamkan di Laut Merah), ttp juga di akhirat (dlm bentuk siksa neraka yang kekal) (99).

Hikmah Kisah Para Rasul

Allah kemudian menutup rangkaian cerita para rasul ini dg menerangkan bbrp lesson learned sbb:

  1. Bekas peninggalan kaum mereka sbg sarana tafakkur.

Di antara kisah para rasul tsb ada yang bekas peninggalannya masih tampak hingga sekarang, dan ada yang sdh hilang sama sekali (100) Di ayat lain, kita diperintahkan untuk mengunjungi situs2 peninggalan tsb sbg napak tilas kita thd perjalanan para rasul dan mengingatkan akan kekuasaan Allah SWT:

Katakanlah, “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (Al An’aam 6:11)

Katakanlah, “Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa. Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan.” (An Naml 27:69-70)
2. Bukti Keadilan Allah SWT

Allah menegaskan, bukanlah Dia yang berlaku tidak fair thd hambaNya yg ingkar krn mengazab mereka, melainkan justru turunnya azab tsb sbg kepastian akan ancaman-Nya yang telah disampaikan oleh para rasul yang diutus kpd mereka (100). Dan azab Allah tsb diperuntukkan hanya bagi orang2 yang berbuat zalim dan sangat pedih (memusnahkan mereka semua dg tiba2) (102).

Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan; untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim. (Asy Syu’araa’ 26:208-209)

…Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al Israa’ 17:15)

Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (Al Qashash 28:59)

Para rasul ini memberi peringatan serta mengajak kaumnya memohon ampun dan bertaubat. Mereka juga membawa mukjizat sbg bukti kebenarannya serta menolak mengambil keuntungan duniawi apa pun, seperti finansial, kekuasaan atau ketenaran atas usaha dakwahnya. Mereka berdakwah all-out sampai ada yg terbunuh, atau hingga akhirnya mereka dg berat hati menyerahkan kaumnya yg kafir kpd Allah krn sdh tdk bisa diubah lagi. Para rasul tsb ditolak termasuk oleh anak dan istri mereka. Nabi Nuh as bahkan sampai berdakwah ratusan tahun dan hanya berhasil mengajak beriman 13 atau 40 org saja. Di ayat lain, disebutkan juga:

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 4:165)

Di ayat lain, disebutkan bhw seluruh umat manusia sdh melakukan perjanjian dg Allah ketika mereka masih di alam ruh, yakni mengakui adanya Tuhan yang Maha Esa dan yang Maha Mencipta dan berjanji menaatiNya sbg tanda pengabdian hamba kepada Tuhannya:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:,“Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”
atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” (Al A’raaf 7:172-173)

Perjanjian ini menunjukkan bhw setiap orang dibekali bibit iman yang sama, yakni hati nurani yang mengakui secara spontan keberadaan Tuhan yang Maha Esa yang Menciptakan dirinya. Siapa pun diberi bekal bibit iman yang sama, walaupun orangtua dan nenek moyangnya termasuk org yang sesat, atau dg kata lain, agar setiap manusia mendapatkan kesempatan yang sama mengenal Tuhannya. Fitrah dlm bentuk bibit iman yang mengakui Tuhan yang Esa (tauhid) ini disinggung juga di ayat lain sbb:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar Ruum 30:30)

Juga di dalam hadits berikut:

Setiap anak terlahir dlm kondisi fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi, sebagaimana halnya seekor binatang dilahirkan secara sempurna, maka adakah kalian menemukan kekurangan pada penciptaanNya? (HR Bukhari dan Muslim)

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Aku menciptakan hambaKu dlm keadaan suci dan lurus, lalu datanglah syetan, kemudian dia memalingkan mereka dari agama mereka, dan mengharamkan mereka apa yang telah Aku halalkan” (HR Muslim)

Hikmah kisah para rasul ini kemudian ditutup dg bahwa semua kisah tsb akan menjadi pelajaran yang menggugah jiwa bagi mereka yang percaya dan takut akan azab akhirat, krn kerasnya azab akhirat yang berlipat2 daripada azab dunia (103).

Balasan Amal di Akhirat

Allah menerangkan akan kepastian datangnya hari kiamat (104). Di hari itu, semua terdiam, tdk ada yang bicara kecuali atas izinNya.

Yang menguasai di Hari Pembalasan (Al Fatihah 1:4)

Diceritakan pula, manusia ada yang celaka krn catatan amalnya yang nihil / sia-sia, dan ada pula yang berbahagia krn investasi amal kebaikannya di dunia dan bagi sebagian umat yang menerima syafaat oleh Rasulullah SAW (105). Di ayat lain, digambarkan kontras mereka yang celaka dan berbahagia ini sbb:

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Al Furqaan 25:23)

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya (An Nuur 24:39)

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Faathir 35:29-30)

Bagi orang yang celaka akan ditempatkan di dalam neraka (106-107), dan yang berbahagia akan ditempatkan di surga (108). Allah kemudian menegaskan bhw Dia akan memenuhi azab yang berhak diterima oleh orang2 kafir secara sempurna, tanpa dikurangi sedikit pun, sesuai dg dosa yg mereka lakukan (109).

Adab Menghadapi Perselisihan di dalam Agama

Allah mengisahkan perselisihan (khilafiah) di antara kaum Musa (Bani Israil) thd tafsiran ayat2 Taurat sepeninggal Musa as. Dikatakan, penafsiran tsb ada yang benar dan ada yang sesat, serta perbedaan2 tsb membuat mereka gelisah dan ragu-ragu (110). Allah kemudian menenangkan mereka yang dalam keraguan ini dg menjamin bahwa setiap golongan akan disempurnakan balasan amalnya, walaupun mereka berbeda2 (111), selama mereka:

  1. Istiqamah terus mencari kebenaran, dan menjalani yang diyakininya paling benar dengan sebaik2nya, dengan berpedoman dari ayat2 Allah, petunjuk Rasul dan belajar dari orang2 yang bertaubat (atas semangat/ghirah mereka dlm beribadah dan mencari kebenaran) (112).
  2. Tidak melampaui batas. Menghindari berlebih2an dalam beragama, tetapi juga tdk menganggap enteng ayat2 Allah dan petunjuk Rasul (112)
  3. Menjauhi mengikuti pendapat dan pola pikir org2 yang sdh jelas zalim dan sesatnya dlm menafsirkan ayat2 Allah (113)
  4. Istiqamah dan taat mendirikan sholat dan amal2 ibadah lain krn amal ibadah tsb dapat menghapus dosa akibat perselisihan khilafiyah tsb (114)
  5. Bersabar, tdk putus asa dan istiqamah melaksanakan ketaatan krn Allah Maha Mensyukuri, Dia tdk akan menyia-nyiakan amal hambaNya sekecil apa pun; meyakini semua amal pasti mendapatkan balasanNya (115).

Semoga Allah mengampuni kita atas dosa2 kita yang lalu.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab