Surah Ibrahim termasuk surah Makkiyyah. Dinamakan Ibrahim krn mengandung doa Ibrahim di ayat 35-41.

Contoh Rasul dlm Berdakwah

Surah ini dibuka dg penegasan bahwa Rasul diutus dg tujuan membawa umatnya dari kegelapan kpd cahaya yang terang benderang, atas izin Allah. Artinya, Rasul hanya dapat mengusahakan, ttp bagaimana hasilnya adalah ditentukan oleh masing2 individu, yang mana dari sisi Allah, Dia mengetahui lebih dahulu apakah mereka akan beriman atau tdk krn Dia berada di luar dimensi waktu (1).

Kemudian dijelaskan bagi mereka yang tetap kafir, maka sesungguhnya Allah lah Dzat yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi, tdk terpengaruh sedikit pun atas kekafiran mereka. Dia yang menciptakan, Dia yang mengaturnya, dan Dia pula yang akan menghancurkannya pada hari kiamat nanti (2). Mereka yang kafir ini dijelaskan memiliki ciri sbb:

  1. Mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat
  2. Mereka menghalang-halangi orang lain dari mendekat / mengenal jalan kebenaran dan agama Tauhid
  3. Mereka berusaha membuat dan senang bila orang ragu2 thd jalan kebenaran dan agama Tauhid ini.

Allah pun kemudian menegaskan bhw setiap Rasul pasti diutus untuk berdakwah menggunakan bahasa kaumnya. Bahasa di sini bisa bermakna eksplisit bahasa yang digunakan utk berkomunikasi, bisa juga berarti lebih luas sbg apa pun yg bisa menjadi media menyampaikan pesan agar mudah diterima masyarakat, spt budaya, atau juga masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat Rasul tsb diturunkan. Ayat ini implisit Allah menerangkan salah satu prinsip dlm berdakwah yakni menggunakan prinsip asimilasi kultural, menggunakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat yang didakwahi, menyerap budaya setempat selama budaya tsb tdk mengubah niat ibadah atau menjurus kpd sesuatu yg musyrik atau dilarang secara syariat. Namun demikian, perlu diperhatikan ada ibadah2 ritual khusus spt sholat yg bacaan dan gerakannya tdk bisa diasimilasikan ke budaya lokal krn sudah ditentukan oleh Nabi SAW, walaupun aspek2 lainnya, spt pakaiannya (menggunakan peci, sarung), tempatnya (desain masjid, panggilan menggunakan pengeras suara dan beduk) akan lebih baik kalau bisa menyerap budaya setempat, shg dakwah yang disampaikan kontekstual dan lebih membumi, mudah diterima oleh masyarakat setempat (4).

Sedikit tambahan, model dakwah inilah yang dilakukan oleh para Wali Songo dahulu ketika menggubah bbrp lagu dan puisi dlm bhs Jawa dan Cirebon yang berisi pesan2 dakwah. Juga, Muhammadiyah yang berdakwah melalui pendidikan dan kesehatan yang saat itu menjadi masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.

Allah kemudian menerangkan contoh dakwah yang dilakukan oleh Nabi Musa as yang diutus kpd Bani Israil (5). Musa as diterangkan menggunakan bahasa kaumnya yakni membebaskan dari masalah terbesar Bani Israil saat itu, yakni tertindas di bawah kekuasaan Fir’aun yang kejam, yang menyiksa mereka dg sadis dan menyembelih anak2 laki2 mereka (6).

Selanjutnya Allah menegaskan secara umum, bhw siapa pun hambaNya yang bersyukur (termasuk kpd Bani Israil utk bersyukur krn sudah beriman dan diselamatkan dari Fir’aun), maka sdh menjadi ketetapan Allah, bhw pasti akan ditambahkan nikmat karunia Allah kpd mereka. Tetapi kalau ingkar thd nikmat (misalnya disia-siakan atau dipakai utk sesuatu yg membawa mudharat), maka ingat2lah akan adanya azab Allah yang sangat pedih, di dunia dan/atau di akhirat (7). Adapun thd orang2 yang tetap ingkar, maka Allah menegaskan itu semua tdk mempengaruhi apa2 thd Allah, walaupun semua org yang ada di bumi mengingkari nikmat Allah (8).

Mengenai mereka yang ingkar ini, Allah mencontohkan kesudahan kaum Nuh, ‘Ad dan Tsamud (9-15), yakni:

  1. Mereka dimasukkan ke dlm neraka Jahannam yang menghinakan (16-17)
  2. Amal mereka hilang spt abu yang ditiup angin keras (18)
  3. Mereka diberi azab yang membinasakan. Ditegaskan pula, bhw sebenarnya amat mudah bagi Allah, Dzat yang menciptakan langit dan bumi utk membinasakan kaum yang zalim dan menggantinya dg kaum yang baru (19-20), sbgmn juga disebutkan di bbrp ayat lain, spt:

…Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang bergantung (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini. (Muhammad 47:38)

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian. (An Nisaa’ 4:133)

Orang Kafir, Syetan dan Orang Beriman di Akhirat

Allah menceritakan dialog antara pemimpin2 kaum kafir dengan para pengikutnya di Padang Mahsyar. Para pengikut mereka bertanya, apakah para pemimpin yang dulunya kuat dan sombong tsb bisa menyelamatkan mereka (sedikit saja) dari azab Allah? Akhirnya para pemimpin tsb menjawab tdk bisa, dan tdk ada celah sedikit pun utk melarikan diri dari azab Allah saat itu (21).

Kemudian syetan berpidato di hadapan mereka, yang disebutkan dg indah di ayat 22:

“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” (22)

Di sini, syetan mengatakan dg jujur hal sebenarnya yg dia akui kebenarannya (agar menjadi pelajaran bagi kita):

  1. Janji Allah – yang disampaikan melalui Rasul dan tertulis di dalam kitab2Nya, termasuk Al Quran adalah selalu benar.
  2. Syetan menggoda manusia melalui janji2, ambisi, pemenuhan cita2 dan mimpi yang tanpa batas, dan keserakahan, agar mendapatkan kesuksesan dunia, harta yang melimpah, dll.
  3. Syetan tdk bisa berbuat apa2 thd manusia, kecuali hanya mengajak dan menggoda manusia melalui nafsu dan sifat tamak manusia
  4. Syetan tdk usah dicerca/disalahkan. Semua dosa yang kita perbuat adalah murni kita yang accountable, bertanggungjawab dan sadar dlm melakukannya.
  5. Syetan dan manusia yang mengikuti syetan, pada hari Akhir, tdk dapat saling menolong satu sama lain.
  6. Syetan tdk pernah membenarkan manusia menuhankan dirinya atau menjadikan kenikmatan duniawi sbg tandingan dlm ibadah dan penghambaan kita kpd Allah SWT.

Allah kemudian memberikan kontras, nasib org yg beriman dan beramal salih. Mereka dimasukkan ke dalam surga dan kekal di dalamnya sesuai izin Allah (23).

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab


Sedikit mengulang, kisah syetan/iblis yang diberi penangguhan ini, diceritakan di Surah Al A’raaf 7:11-15 berikut:

  1. Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.

  2. Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.

  3. Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.

  4. Iblis menjawab, “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.

  5. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.