Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al Kahfi 18:46)

Keluarga adalah ibarat perhiasan. Mereka dapat menjadi asset maupun liability kita di dunia maupun di akhirat.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At Tahrim 66:6)

Kita diperintahkan untuk berusaha dan berdoa menyelamatkan diri dan keluarga kita dari siksa neraka, dengan menjadikan keluarga sebagai asset:

Dan orang orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Furqan 25:74)

Pun, kita diperintahkan untuk waspada jangan sampai mereka menjadi liability yang menyeret kita ke dalam siksa neraka:

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At Taghabun 64:14)

Sebagai balasannya, Allah menjanjikan mengumpulkan orang beriman beserta keluarga besar mereka yang beriman di dalam surgaNya.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (At Thuur 52:21)