Allah menjelaskan larangan riba dan adab menghutangkan di dalam Surah Al Baqarah ayat 275-281. Di dalam salah satu hadits Nabi SAW menjelaskan bahwa memakan keuntungan riba (membungakan pinjaman) adalah salah satu dosa besar.

“Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah itu?” Beliau menjawab, “(1) Syirik kepada Allâh, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq, (4) memakan riba, (5) memakan harta anak yatim, (6) berpaling dari perang yang berkecamuk, (7) menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. (HR Bukhari No. 3456; Muslim, No. 2669)

Riba Berbeda dengan Jual-Beli

Ayat 275

Orang-orang yang memakan (mengambil) riba, mereka tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah 2:275)

Orang yang bergelimang dengan riba akan mengalami insanity tertentu, kehilangan rasa malu melanggar perintah Allah dan rasa takut terhadap akhirat, yang kesemuanya tersebut disebabkan oleh keyakinan mereka bahwa riba adalah sama dengan jual-beli. Padahal ditegaskan Allah, bahwa riba (membungakan pinjaman) sangat berbeda dengan jual-beli (perdagangan).

Ayat 276

Allah menghapus riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (Al Baqarah 2:276)

Meminjamkan sejumlah uang atau barang seharusnya dilandasi oleh prinsip tolong menolong dengan sesama, sehingga tidak dibolehkan menetapkan bunga atau tambahan dari barang yang dipinjamkan sebagai syarat peminjaman. Itulah mengapa di ayat ini Allah mengontraskan praktek menyimpang ini dengan sedekah yang sama-sama seharusnya berprinsip dasar saling tolong menolong dengan sesama. Allah melarang keras riba karena sifatnya menganiaya pihak yang lemah (debitur), sedangkan sedekah diperintahkan dikerjakan sebanyak-banyaknya. Di ayat lain dijelaskan jaminan Allah menambahkan rezeki bagi hambaNya yang berinfak / bersedekah:

Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba’ 34:39)

Di akhir ayat, Allah menyatakan ketidaksukaanNya, Dia menahan berkahNya, rahmatNya dan pertolonganNya atas mereka yang menolak meninggalkan riba dan memilih tetap dalam kekafiran, kegelapan hati, mementingkan keinginan hawa nafsunya, dan mereka yang tetap memilih membiarkan dirinya bergelimang dosa, berbuat dosa dan menumpuk dosa setiap hari daripada taat dan tunduk mengikuti hukum perintah dan larangan Allah SWT.

Ayat 277

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al Baqarah 2:277)

Allah SWT memberikan resep bagi mereka yang hendak meninggalkan praktek riba, sebagai jaminan atas kekhawatiran mereka yang ingin meninggalkan dunia gemerlap karena keuntungan duniawi riba yang tampak besar:

  1. Beriman kepada Allah. Memiliki tekad hati yang kuat dan bulat untuk meninggalkan riba karena larangan Allah SWT semata. Menundukkan hati, taat kepada larangan Allah. Memasrahkan diri kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa rezeki datangnya dari Allah, dan rezeki serta pertolonganNya amat dekat bagi hambaNya yang mendekatkan diri kepadaNya dengan ikhlas dan lurus, sebagaimana disebutkan di ayat lain:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat. (Al Baqarah 2:214)

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (At Thalaq 65:2-3)

  1. Mengerjakan amal saleh. Apa pun pekerjaan pengganti yang dilakoni dan apa pun bisnisnya, haruslah ada aspek amal salehnya, yakni menambah kebaikan kepada sesama manusia dan pahala di sisi Allah. Di dalam ayat lain disebutkan:

Tidak ada balasan (yang pantas) bagi kebaikan kecuali kebaikan (pula). (Ar Rahman 55:60)

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al A’raaf 7:56)

  1. Mendirikan sholat. Konsisten tetap mengingat Allah kapan pun dan dimana pun. Juga tidak terlena oleh kenikmatan dunia ataupun putus asa karena penderitaan dan cobaan dunia.

  2. Menunaikan zakat. Selalu menjaga kebersihan harta dan profit yang diperoleh. Mengusahakan cara-cara mencarinya dan membelanjakannya sebersih mungkin tidak melanggar larangan Allah SWT; serta mengalokasikan / menyisihkan sebagian harta sebagai jatah bagi yang berhak menerima zakat dan infaq.

Bagi orang-orang yang rela meninggalkan riba DAN melaksanakan keempat perintah Allah di atas, Allah menjanjikan tiga bentuk balasan bagi mereka:

  1. Mereka diberikan pahala sebagai bekal bagi kehidupan mereka di akhirat kelak

  2. Diangkatnya rasa khawatir dari jiwa mereka. Hati mereka akan tenang dan ridho dengan apa dan berapa pun yang diberikan Allah kepada mereka.

  3. Diangkatnya rasa sedih, tidak mudah sedih dan kecewa terhadap apa pun yang menimpa mereka. Mereka sadar dan yakin sepenuhnya bahwa janji Allah adalah PASTI, dan pertolongan Allah teramat dekat bagi mereka yang mengikhlaskan jiwa dan hidupnya untuk mengabdi kepadaNya.

Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang; (sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar Ruum 30:5-6)

Ayat 278

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (Al Baqarah 2:278)

Allah kemudian mengingatkan bagi mereka yang sudah meninggalkan riba dan bertakwa (mengamalkan keempat perintah Allah di atas), agar jangan sekali-kali berpikir untuk kembali melakukan riba, semanis apa pun iming-iming dan imbalannya.

Ayat 279

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (Al Baqarah 2:279)

Bagi mereka yang menolak meninggalkan riba, Allah mengancam dengan sanksi berupa Allah dan rasulNya akan memerangi mereka. Mereka akan dibutakan hati dan kehidupannya dari mendekat kepada iman yang benar kepada Allah SWT, serta sangat berat mengikuti syariat dan sunnah dari Rasulullah SAW.

Riba dengan tambahan yang berlipat-lipat ditegaskan juga di dalam ayat berikut:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Ali Imran 3:130)

Di dalam satu hadits disebutkan,

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, penulisnya dan dua saksinya”, dan Beliau bersabda, “Mereka itu sama.” (HR Muslim No. 4177)

Akan tetapi bagi mereka yang benar-benar mau bertaubat meninggalkan riba, maka Allah memerintahkan untuk menagih pokoknya saja dan merelakan tidak mengambil tambahan bunga lainnya.

Ayat 280

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (Al Baqarah 2:280)

Adab Menghutangi Orang Lain

Allah menjelaskan adab memberi hutang kepada orang lain, yakni permudahlah orang yang berhutang dalam bentuk pemberian waktu penangguhan pembayaran hingga mereka mampu. Allah pun menjelaskan bahwa merelakan sebagian atau seluruh hutang tersebut tidak ditagih, merelakannya sebagai sedekah adalah lebih baik baik keduanya (yang memberi hutang dan yang berhutang) daripada menagih terus menerus yang menjadi sumber dosa, prasangka buruk, perusak silaturahmi dan kebohonan bagi keduanya.

Ayat 281

dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al Baqarah 2:281)

Sebagai penutup, Allah menerangkan kepada kita orang beriman, untuk menjaga diri (dan keluarga kita) dari azab siksa pada hari akhirat kelak. Yakni hari dimana pintu amal dan ampunan sudah tertutup, dimana kita tidak bisa berbuat apa-apa terhadap pahala dan dosa perbuatan kita di dunia.

Selama kita belum meninggalkan riba maka setiap hari pula kita menambah catatan amal kita dengan dosa besar.

Masing-masing dari kita PASTI akan diberikan balasan yang sempurna, adil, sekecil apa pun, atas segala amal yang kita kerjakan. Namun Allah masih membuka pintu ampunan selama belum datang sakaratul maut atau tanda-tanda besar hari kiamat.

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al Hadiid 57:21)

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan walaupun seberat dzarrah (atom), niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan walaupun sebesar dzarrah (atom), niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Al Zalzalah 99:7-8)

Penutup

Berpindah dari pekerjaan yang ribawi dan syubhat ke pekerjaan yang bersih adalah salah satu bentuk hijrah. Bagi mereka yang berhijrah ini Allah pun mengetahui kekhawatiran mereka dan memberikan jaminan sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An Nisaa’ 4:100)

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Mulk 67:15)

Semoga kita menjadi hambaNya yang diselamatkan di dunia dan akhirat. Aamiin.

Maha Benar Allah dengan Segala FirmanNya.

Wallahu a’lam.