Surah Luqman terdiri atas 34 ayat dan termasuk dalam kelompok Surah Makkiyyah.

Al-Qur'an yang Mengandung Hikmah

Allah membuka surah ini dengan penegasan bahwa Al-Qur'an mengandung Hikmah (2). Di ayat lain disebutkan pula:

Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (Az-Zukhruf 43:4)

Alif laam raa. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah. (Yunus 10:1)

Demi Al Quran yang penuh hikmah (Yasin 36:2)

Makna Hikmah

Hikmah pada Nabi dan Rasul

Kata Hikmah ini menarik karena selain sebagai ingredient dari Al-Qur'an seperti diterangkan pada ayat-ayat di atas, tetapi kata ini juga sering disebutkan berdampingan dengan kata Al-Kitab (wahyu, ayat-ayat Allah) seperti pada ayat-ayat berikut:

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqarah 2:129)

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Al-Baqarah 2:151)

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya (Musa as) Al-Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (Ali-Imran 3:48)

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Al-Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Al-Jumu'ah 62:2)

...dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu (Isa as) menulis, Hikmah, Taurat dan Injil... (Al Maaidah 5:11)

Ibnu Abbas di dalam tafsirnya berpendapat bahwa Hikmah adalah pengetahuan yang mendalam atas makna ayat-ayat Allah di dalam kitabNya. Pemahaman ini dibekalkan kepada para Rasul, sebagai karunia tambahan (add-on) agar para Rasul dapat menerangkan ayat-ayat Allah itu kepada umatnya, dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka.

Hikmah pada selain Nabi dan Rasul

Pada beberapa ayat lain, dijelaskan bahwa Hikmah ini tidak hanya diberikan kepada para Nabi dan Rasul, melainkan juga kepada hamba pilihanNya selain para Nabi dan Rasul:

Allah menganugerahkan Hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi Hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al-Baqarah 2:269)

Dijelaskan pula, Hikmah yang diberikan kepada Luqman Al-Hakim:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan Hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (Luqman 31:12)

Pada ayat lain, juga dijelaskan Hikmah diberikan kepada Musa as pada saat masih tinggal di Mesir, bertahun-tahun sebelum beliau diangkat menjadi Rasul:

Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya Hikmah dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-Qasas 28:14)

Orang yang dikaruniai Hikmah ini tidak pula otomatis dirinya menjadi suci dari dosa (ma'shum). Hal ini diterangkan pada ayat berikut:

Kemudian Al-Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu (bersegera) berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Fatir 35:32)

Melanjutkan contoh Musa as pada Surah Al-Qasas di atas, dikisahkan bahkan setelah menerima Hikmah beliau masih khilaf, tidak sengaja membunuh seorang Mesir sehingga beliau menyesal dan bertaubat.

Dan Musa masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata, "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)."
Musa mendoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku." Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Musa berkata, "Ya Tuhanku, demi nikmat (Hikmah) yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa." (Al-Qasas 28:15-17)

Menurut Ibnu Hatim dalam tafsirnya (1/237), Imam Mawardi dalam An-Nukat wa al-Uyun (1/192) dan Abu Hayyan dalam Al Bahr Al Muhith (1/626), Hikmah adalah pemahaman atas ayat-ayat Allah di dalam Al-Qur'an yang diturunkan ke dalam hati hamba pilihanNya, bagaikan cahaya yang menerangi dan menghapus segala keraguan atas makna ayat-ayatNya.

Hikmah inilah yang disebutkan sebagai salah satu dari tiga syarat dalam perintah berdakwah pada ayat berikut:

Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan (1) Hikmah dan (2) pengajaran yang baik, dan (3) berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. (An-Nahl 16:125)

Sikap Manusia terhadap Al-Qur'an

Mereka yang Menjadikan Al-Qur'an sebagai Petunjuk

Allah SWT kemudian menerangkan bahwa Al-Qur'an yang mengandung Hikmah ini akan menjadi petunjuk (guidance) - hanya bagi mereka yang berbuat kebaikan (bertakwa) (3) sebagaimana disebutkan pula di ayat lain:

(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Ali Imran 3:138)

Selanjutnya dijelaskan siapa mereka yang berbuat kebaikan (bertakwa) ini:

  1. Mereka mendirikan sholat dan banyak mengingat Allah
  2. Mereka membersihkan hartanya (dalam bentuk zakat dan infaq)
  3. Mereka meyakini kepastian akan adanya hari Akhir

Mereka ini dikatakan tidak akan sesat, tetap mendapat petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT serta menerima balasan surga (5).

Mereka yang Mengabaikan Al-Qur'an

Di dalam tafsirnya, Muqatil bin Sulaiman (wafat 767 M) menerangkan, bahwa pada periode Mekkah, terdapat seorang bernama Nadhir bin Harits. Dia menceritakan kepada masyarakat Quraisy saat itu kisah pahlawan dan raja-raja Persia dari buku-buku yang dibelinya ketika mengunjungi negeri Persia.

Nadhir berkata kepada orang-orang Quraisy, "Sesungguhnya Muhammad menceritakan kepada kalian tentang kisah bangsa Ad dan Tsamud. Aku ingin menceritakan kepada kalian kisah Rostam dan Isfandiar (pahlawan Persia) dan cerita para Kisra (raja-raja Persia)." Orang-orang Quraisy pun sangat tertarik, antusias dan menikmati kisah-kisah yang disampaikan oleh Nadhir tersebut serta tidak mau mendengarkan Al-Qur'an.

Allah kemudian menurunkan ayat 6 sebagai peringatan kepada kaum Quraisy:

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (6)

Dari ayat di atas dan ayat-ayat selanjutnya, Allah memperingatkan profil orang yang mengabaikan Al-Qur'an di atas sebagai berikut:

  1. Mereka menjadikan teks dari sumber-sumber selain Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, menjadikannya sebagai tandingan seakan-akan teks tersebut adalah Al-Qur'an (6)
  2. Mereka menjadikan agama Allah dan wahyuNya sebagai cemoohan (6)
  3. Mereka tidak peduli dan bersikap arogan terhadap Al-Qur'an, menolak mendengarkan/memahami ayat-ayatnya (7)

Allah kemudian menegaskan bahwa mereka ini akan menerima siksa azab yang pedih (6-7), sebagai kontras atas balasan surga yang kekal bagi orang yang beriman dan beramal saleh (8-9).

Alam Semesta sebagai Bukti Adanya Dzat Yang Maha Menciptakan

Allah SWT kemudian menerangkan beberapa fenomena alam sebagai bukti atas kehadiranNya sebagai Tuhan Pencipta alam semesta (10):

  • Diciptakannya langit yang luas terbentang tanpa satupun tiang penyangga, sebagaimana disebutkan pula di ayat lain:

    Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang sejauh matamu memandangnya, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (Ar-Ra'd 13:2)

  • Diciptakannya gunung sebagai pasak yang menstabilkan tanah di permukaan bumi, seperti disebutkan pada ayat lain:

    Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasaknya? (An-Naba 78:6-7)

    Ayat ini merupakan salah satu bukti kebenaran Al-Qur'an, karena pengetahuan mengenai peran gunung terhadap kestabilan permukaan bumi ini baru diketahui pada abad 19.

    Menurut teori lempeng tektonik, kulit bumi berupa 12 lempeng lithosfer setebal 5 sampai 100 km mengepung di atas substratum plastis (astenosfer), yang tebalnya sampai 3000 km. Lempengan tersebut bergerak secara horizontal dan saling bertabrakan dari waktu ke waktu dan terlipat ke atas dan ke bawah, melahirkan gunung-gunung (seperti tabrakan lempeng India dan lempeng Eurasia menghasilkan formasi rantai pegunungan Himalaya yg terbentuk mulai 45 juta tahun yang lalu).

    Fase akhir terbentuknya gunung ditandai dengan terbentuknya jalur-jalur magma di bawahnya yang masuk jauh ke dalam bumi. Hal inilah yang kemudian diketahui memperlambat pergerakan lempeng lithosfer.

    Pada tahun 1960 ditemukan bukti bahwa benua-benua sebenarnya tidak diam, melainkan bergerak dengan kecepatan 1 cm per tahun di khatulistiwa, dan 9 cm per tahun di jalur pegunungan. Tanpa gunung, gerakan lithosfer ini akan lebih cepat dan tabrakan antar lempang akan lebih drastis dan mungkin membahayakan kehidupan.

  • Diciptakannya berbagai jenis hewan

  • Diturunkannya air hujan yang kemudian menyuburkan tanah dan menumbuhkan berbagai tanaman yang bermanfaat bagi manusia

Di ayat selanjutnya, Allah kemudian menantang kepada orang-orang Musyrik, apakah ada di antara tuhan berhala sesembahan mereka yang mampu menciptakan tandingan apa yang telah diciptakan Allah. Ini mirip dengan dialog Ibrahim as dengan kaumnya berikut:

Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?" (Al-Anbiya 21:66)

Nasihat Luqman Al-Hakim kepada Anaknya

Allah mengisahkan Luqman Al-Hakim, seorang manusia biasa yang dikaruniai Hikmah. Dari berbagai riwayat, digambarkan Luqman Al-Hakim adalah seorang budak berkulit hitam, berasal dari Nubia, Sudan. Kedua bibirnya tebal dan kulit telapak kakinya pecah-pecah. Dia dikenal sebagai seorang yang saleh dan hidup pada masa Nabi Daud as.

Ayat 12-19 menerangkan nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya.

Bersyukur kepada Allah

Bersyukurlah kepada Allah, karena syukur tidak lain adalah untuk kebaikan manusia sendiri. Allah yang Maha Kaya dan Terpuji tidak membutuhkan syukur manusia (12). Hal yang sama diterangkan pada ucapan Sulaiman as berikut:

..."Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (An-Naml 27:40)

Bagi mereka yang bersyukur, Allah menjanjikan tambahan nikmat pada ayat berikut:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim 14:7)

Jangan Mempersekutukan Allah SWT

Jangan sekali-kali kamu mempersekutukan Allah SWT dengan apa pun (syirik), karena perbuatan tersebut sangat besar dosanya di hadapan Allah (13). Allah akan mengampuni semua penghuni neraka kecuali mereka yang berbuat syirik dan belum bertaubat.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (An-Nisa 4:48)

Di ayat lain juga diterangkan bahwa dosa syirik akan menghapus seluruh amalan manusia:

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (Al An’am 6:88)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, (yakni) "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Az-Zumar 39:65)

Adab terhadap Orangtua

Luqman Al-Hakim melanjutkan nasihatnya untuk berbuat baik terhadap ibu dan bapak:

  1. Hormati dan berbuat baiklah kepada orangtuamu, terutama Ibu yang mengalami kesulitan berlapis-lapis, sejak mengandung hingga menyusui (14) - yang mencapai 30 bulan seperti disebutkan pada ayat berikut:

    Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah 30 (tiga puluh) bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (Al Ahqaf 46:15)

  2. Bersyukurlah kepada Tuhanmu atas segala karuniaNya, dan berterimakasihlah kepada kedua orangtuamu yang telah menjaga dan merawatmu sejak kecil (14).

  3. Jangan ikuti mereka kalau mereka mengajakmu mempersekutukan Allah (syirik), dengan tetap memperlakukan dengan baik dan menjaga hubungan baik dengan mereka, sebagaimana sikap Ibrahim as yang tetap hormat dan berbakti kepada bapaknya (Azar) walaupun dia seorang yang musyrik (15).

Kalau kita perhatikan ayat 14 ini, perintah untuk berterimakasih kepada orangtua ternyata diletakkan berdampingan setelah perintah bersyukur kepada Allah SWT. Hal ini pertanda sangat tingginya kedudukan orangtua.

...Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (14)

Struktur yang mirip diulangi pada ayat-ayat berikut:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al Isra' 17:23)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak. (An-Nisa 4:36)

Nabi SAW pun bersabda, dari Abdullah bin Umar ra:

"Ridha Allah itu di dalam ridha orang tua dan kemarahan Allah itu di dalam kemarahan kedua orang tua." (HR al-Tirmidzi)

Dari keterangan di atas jelaslah, bahwa tidak ada alasan apa pun bagi seorang anak untuk boleh mengabaikan bakti dan akhlak mulia kepada orangtuanya, walau orangtuanya Musyrik sekalipun. Allah SWT pun menjanjikan balasannya sejak di dunia sebagai berikut:

"Barangsiapa ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, maka hendaklah ia berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan menyambung silaturrahim". (HR. Ahmad)

Balasan Amal

Melanjutkan nasihat Luqman Al-Hakim. Berhati-hatilah dalam berbuat, karena setiap perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi, sekecil apa pun pasti akan diperhitungkan di hari Akhir. Luqman Al-Hakim menggambarkan, bahkan amal seperti biji sawi yang tersembunyi di dalam batu dan berada di langit ataupun di dalam perut bumi, akan tetap masuk dalam perhitungan Allah SWT yang Maha Mengetahui lagi Maha Halus (16).

Tiga Kewajiban Utama

Luqman Al-Hakim kemudian menerangkan 3 kewajiban utama kepada anaknya (17):

  1. Mendirikan sholat dan memperbanyak dzikir mengingat Allah SWT
  2. Mengajak orang lain berbuat baik dan mengingatkan mereka dari perbuatan mungkar
  3. Bersabar bila ditimpa musibah

Adab dalam Bermasyarakat

Kemudian Luqman Al-Hakim melanjutkan nasihatnya terkait etika dalam bermasyarakat:

  1. Jangan bersikap sombong atau membuang muka terhadap siapa pun (18)

  2. Jangan pula berjalan dengan angkuh, bersikap seolah-olah sebagai Tuhan Sang Pencipta dan Pemilik bumi dan langit (18). Di ayat lain disebutkan juga,

    Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (Al Isra' 17:37)

  3. Berjalanlah dengan wajar, tidak menarik perhatian, tidak terburu-buru dan tidak pula terlalu lambat atau tampak lesu/loyo (19)

  4. Rendahkan dan lunakkan suara kamu. Jangan berbicara dengan suara tinggi, parau dan terburu-buru seperti suara keledai (19).

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.