Ayat 20-30 menjelaskan argumentasi yang menegaskan Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Menciptakan dan sekaligus satu-satunya Tuhan yang pantas disembah dan ditaati.

Argumen terhadap Keberadaan Tuhan Yang Maha Menciptakan

Kita diminta untuk memperhatikan berbagai proses di alam seperti peredaran matahari dan bulan yang menjadikan malam dan siang, turunnya hujan dan subur bertumbuhnya berbagai tanaman dan hewan, juga lautan dengan segala isinya. Semuanya itu sebagai bukti adanya Dzat yang sengaja menciptakan dan mengatur proses-proses di alam semesta itu dengan maksud (intention) untuk kepentingan manfaat dan keberlangsungan kehidupan manusia; dan bagaimana Allah telah menundukkan alam semesta ini bagi kepentingan manusia, menyempurnakan nikmatNya memenuhi kebutuhan lahir dan batin manusia (20). Hal ini dijelaskan dalam banyak ayat-ayat lain, diantaranya:

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Al-Mulk 67:15)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (kehadiran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al-Baqarah 2:164)

Allah SWT kemudian menggambarkan mereka yang tetap menyembah berhala dengan alasan bahwa ritual penyembahan tersebut sudah menjadi tradisi turun menurun. Allah SWT mempertanyakan nalar logika mereka; bagaimana mungkin seluruh proses alam di atas dapat diatur oleh berhala sesembahan yang bahkan bergerak pun tidak bisa. Mengapa tetap keukeuh mengikuti sesuatu yang jelas-jelas absurd? (21)

Sebagai kontras atas perilaku jahiliah di atas, Allah SWT menerangkan bahwa mereka yang beriman, mengakui Allah SWT sebagai Tuhan Pencipta yang pantas disembah, yang sepenuhnya berserah diri kepada Allah SWT dan berbuat kebaikan (beramal saleh) sesungguhnya berpegang pada tali yang kokoh karena mendapatkan balasan atas amal salehnya di dunia dan juga akhirat (22). Balasan amal di dunia ini dinyatakan dalam ayat-ayat berikut:

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (Ar-Rahman 55:60)

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Ibrahim 14:7)

Menghadapi para penyembah berhala ini, kemudian dijelaskan beberapa pedoman kepada para Rasul dalam berdakwah kepada mereka:

  1. Jangan bersedih hati karena berkali-kali mengalami penolakan dan perlakuan yang buruk dalam berdakwah. Tugas Rasul adalah menyampaikan risalah Allah SWT. Bukanlah tanggung jawab Rasul untuk memastikan dan menjamin umatnya ke dalam surga. Setiap jiwa akan bertanggung jawab atas amal perbuatannya masing-masing (23).

    Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan." (Yunus 10:41)

    Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Al Maa'idah 5:92)

    Katakanlah, "Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." (An Nuur 24:54)

    Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah, "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan" (Asy-Syu'ara'26:216)

  2. Jangan berputus asa dan tidak perlu heran dengan kondisi mereka yang tetap baik-baik saja (bahkan tampak bertambah kesukesan dunianya) walaupun tampak jelas ingkarnya kepada Allah SWT. Ditegaskan, Allah SWT sebenarnya membiarkan mereka untuk bersenang-senang sementara sampai pada batas tertentu (24), sebagaimana disebutkan pada beberapa ayat sbb:

    Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (Al-Hijr 15:3)

    Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (Ali-Imran 3:178)

Argumen terhadap Keesaan Allah SWT

Setelah menerangkan argumen akan keberadaan Tuhan yang Maha Menciptakan alam semesta ini, kemudian diterangkan bahwa Tuhan ini bukan hanya Tuhan yang Maha Menciptakan dan Maha Kuasa, melainkan juga Dia Esa, tidak berbilang dan tidak membutuhkan bantuan apa pun dari siapa pun dalam menjalankan kekuasaanNya.

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa sebenarnya setiap manusia (termasuk mereka yang kafir sekalipun) semua mengakui adanya sosok Tuhan yang memiliki kemampuan di atas kemampuan dirinya, yang menjadi tempat mereka meminta pertolongan dalam kesulitan dan musibah (25). Hal ini diterangkan juga pada ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Al-A'raf 7:172)

Selanjutnya diterangkan, profil Allah SWT, Tuhan yang Haq, Tuhan sebenarnya yang pantas disembah, yang tidak ada tandingannya dan tidak pantas disandingkan dengan apa pun, Dzat yang Maha Besar lagi Maha Tinggi (30) yakni sebagai berikut:

  • Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji, Dzat yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi (26). Pesan dengan redaksi yang sama juga disebutkan pada ayat lain:

    Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al Hajj 22:64)

  • Dialah yang Maha Luas IlmuNya, yang bahkan bila setiap batang pohon di bumi dijadikan pena dan seluruh air di lautan yang sangat banyak itu menjadi tintanya, serta masih ditambahkan tujuh laut lagi sebagai tintanya, maka niscaya air laut itu akan habis sebelum ilmu Allah selesai dituliskan (27). Hal senada diterangkan pula di ayat berikut:

    Katakanlah, "Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (Al-Kahfi 18:109)

  • Dia yang menciptakan dan membangkitkan seluruh manusia dengan sangat mudah, semudah menciptakan dan membangkitkan satu jiwa saja (28). Hal ini digambarkan di ayat lain:

    Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!" maka terjadilah ia. (Ya Sin 36:82)

    Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). (Ar-Rum 30:25)

    Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (An-Nazi'at 79:13-14)

    Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ar-Rum 30:27)

  • Dia yang mengatur perputaran matahari dan bulan pada garis edarnya masing-masing sehingga malam dan siang terjadi silih berganti (29), sebagaimana disebutkan pula di ayat-ayat berikut:

    Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Az-Zumar 39:5)

    Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. (Fatir 35:13)

    Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (Ibrahim 14:33)

Perintah Bertakwa dengan Sebenar-benarnya Takwa

Ayat selanjutnya menggambarkan perumpamaan mereka yang oportunis dalam bertakwa seperti orang yang berlayar di tengah lautan. Pada saat cuaca memburuk dan dalam kondisi kritis menghadapi ombak setinggi gunung, mereka segera berdoa kepada Allah dengan ikhlas dan berjanji akan memurnikan ketaatan kepadaNya agar diselamatkan dari ancaman ombak yang menenggelamkan. Namun setelah Allah SWT menyelamatkan mereka, ternyata hanya sebagian kecil yang memenuhi janjinya untuk menjaga ketaatan dan membenarkan ayat-ayat Allah. Sedangkan sebagian besar mereka kembali mengingkari perintah dan larangan Allah SWT (32). Perumpamaan ini diterangkan pula pada beberapa ayat berikut:

Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (Al-'Ankabut 29:65)

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih. (Al-Isra' 17:67)

Allah SWT kemudian memerintahkan kita untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, yakni ketaatan yang teguh kepada Allah SWT (33):

  1. Selalu waspada dan tidak terlena oleh gemerlap, keindahan dan kesenangan kehidupan dunia yang fana, seperti diterangkan pada ayat berikut:

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, sebagai perhiasan dan bermegah-megah di antara kamu serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di Akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al-Hadid 57:20)

  2. Selalu waspada terhadap godaan syetan. Di ayat lain disebutkan:

    (Syaitan) itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An-Nisa' 4:120)

Terakhir, Surah Luqman ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah SWT - Dialah Tuhan yang Maha Mengetahui setiap perkara dan Maha Mengenali makhluk-makhlukNya:

  • Dialah satu-satunya yang mengetahui kiamat yang menjadi akhir dari kehidupan dunia
  • Dialah satu-satunya yang memberi karunia kepada seluruh makhlukNya - diibaratkan dengan air hujan
  • Dialah satu-satunya yang mengetahui yang tersembunyi dan yang belum dilahirkan seperti janin di dalam rahim
  • Dialah satu-satunya yang mengetahui masa depan, termasuk apa yang akan dilakukan oleh setiap makhlukNya esok hari, juga dimana mereka akan mati

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.