Kisah Maryam dan Kelahiran Isa as

Maryam, ibunda Nabi Isa as dikenal sbg perempuan yang pilihan Allah yang saleh dan suci, sbgmn disebutkan di ayat berikut:

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).
Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (Ali Imran 3:42-43)

  • Maryam pergi menjauhkan diri dari keluarganya ke arah timur (16). Menurut Ibnu Abbas, ini menjelaskan mengapa kaum Nasrani menjadi arah timur (tempat kelahiran Isa as) sbg kiblat mereka
  • Malaikat Jibril menjelma di depan Maryam dlm bentuk manusia sempurna (17) dan menyampaikan berita bahwa Maryam akan mengandung seorg anak laki-laki (19).
  • Maryam bertanya, bagaimana mungkin dia bisa hamil padahal dia belum pernah kawin dan juga bukan pezina (20).
  • Jibril menyampaikan bhw itu semua adalah mudah bagi Allah (21).
  • Dengan kekuasaan Allah, Maryam hamil (22), dan pergi mengasingkan diri. Proses kehamilan ini diterangkan di ayat lain:

Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. (Al Anbiyaa’ 21:91)

dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat. (At Tahrim 66:12)

Di ayat lain juga diterangkan, proses penciptaan Isa as yang mirip dg Adam as:

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (Ali Imran 3:59)

  • Menjelang melahirkan, digambarkan rasa sakit dan perasaan malu yang dialami Maryam, shg merasa tanpa sadar mengeluh lebih baik meninggal daripada harus melewati proses melahirkan yg menyakitkan dan menanggung malu bertemu dg orang kemudian (23)
  • Allah kemudian menjawab keluhan Maryam ini dengan:
  1. Mengalirkan anak sungai dan menjadikan pohon kurma berbuah di dekatnya – utk mengurangi rasa sakit melahirkan (24-25)
  2. Memerintahkan agar mengatakan dia sdg bernazar berpuasa dan tdk berbicara dg siapa pun bila orang lain bertanya kpd dia – utk menghilangkan perasaan malunya (26)
  • Maryam pun kembali kpd kaumnya dan marah/sedih krn perbuatan dosa zina yang menurut mereka dilakukannya (27-29). Pada saat itu, Allah menunjukkan kebesaranNya dg menjadikan bayi Isa berbicara kpd mereka, menjelaskan dg detail siapa dirinya (30-33):
  1. Dia (Isa) adalah hamba Allah, manusia biasa
  2. Dia akan menjadi Rasul berikutnya bagi Bani Israil
  3. Dia akan membawa kitab sendiri (Injil)
  4. Dia akan diberkahi dimana pun berada
  5. Dia akan membawa syariat sendiri, spt sholat dan zakat
  6. Dia akan berbakti kpd ibunya (Maryam) – sama spt Yahya as
  7. Dia akan menjadi orang sifat tawadhu’ rendah hati, dan jauh dari sikap durhaka – sama
  8. Dia akan mendapat 3 kebaikan yakni: (1) dijaga dan dilindungi Allah pada saat dia lahir, (2) ketentraman dan ketenangan di saat wafatnya, dan (3) rasa aman dan tdk merasa khawatir/takut pada saat dia dibangkitan di Hari Akhir (15)

Ciri 6, 7, 8 di atas sama persis dg Nabi Yahya as yg digambarkan di ayat 14-15 sebelumnya.

Menurut Qurthubi, Isa as hidup sangat sederhana, jarang sekali makan daging, mengenakan pakaian dari wool kasar, duduk selalu di bawah / tanah, dan selalu tinggal berpindah2, tdk punya tempat tinggal tetap. Menurut Thabari dan Tha’labi, beliau menganggap pengikutnya sbg keluarganya yg sebenarnya – yakni mereka yang mendengar ayat2 Allah dan melaksanakannya.

Pendapat Kaum Nasrani thd Isa as

Di ayat 34, Allah menerangkan bhw apa yang diucapkan Isa as adalah benar, dan tdk seperti yang diperselisihkan orang Yahudi dan Nasrani. Allah kemudian menegaskan tidaklah pantas diriNya mempunyai anak (35). Isa as mengatakan kpd kaumnya, utk menyembah Allah sbg Tuhannya dan Tuhan mereka. Di ayat lain, disebutkan Isa as membantah pernah mendakwahkan dirinya sbg anak Allah sbb:

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab, “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (Al Maaidah 5:116)

Sebagai tambahan, ajaran Trinitas baru ditetapkan jauh setelah periode kehidupan Isa as, pada Konsili Nicea (th 325 M) dan Konsili Konstantinopel (th 381 M). Di dalam kedua konsili tsb ditetapkan bhw anak dan ruh kudus adalah sama dg Bapa dlm sifat ketuhanan, anak telah dilahirkan sejak azali dari Bapa, dan ruh kudus adalah berasal dari Bapa. Dalam Konsili Toledo th 589 M ditetapkan bhw ruh kudus juga berasal dari anak.

Kaum Yahudi dan Nasrani berselisih pendapat mengenai siapa Isa as sebenarnya (37). Menurut kaum Yahudi, Isa as adalah anak zina, penyihir, dan bapaknya adalah Yusuf an-Najjar (Yusuf si Tukang Kayu). Sedangkan kaum Nasrani sekte2 mereka berbeda pendapat juga mengenai Isa as, spt:

  • Sekte Nestorianisme -> Isa as adalah anak Allah
  • Sekte Melkite -> Isa as adalah salah satu dari Trinitas
  • Sekte Ya’qubiyah -> Isa as adalah Allah

Allah kemudian menerangkan bhw mereka – kaum Nasrani dan Yahudi ini dlm kesesatan yang nyata (38). Di akhirat, mereka dan akan menyesali krn kelalaian mereka tdk beramal saleh dan tdk beriman dg benar (39), padahal mereka sudah diberi kesempatan hidup, sbg khalifah Allah mewarisi bumi utk mencari bekal akhirat (40).

Dakwah Nabi Ibrahim as kpd Bapaknya

Ayat 41 menegaskan, bhw Ibrahim as adalah seorang yang membenarkan ayat2 Allah dan seorg Rasul yg mengajak kaumnya mengesakan Allah dan meninggalkan penyembahan berhala.

‘Azar sbg nama bapak Ibrahim ini hanya disebutkan sekali di Surah Al An’aam ayat 74. Bbrp mufasir spt Ibnu Katsir, Jalalayn, ar-Razi, dan Thabari berpendapat, ‘Azar ini adalah nama lain dari Terah, nama bapak Ibrahim yang disebutkan di dalam Injil (Genesis 11:25-32).

Dakwah Ibrahim kpd bapaknya, ‘Azar dijelaskan sbb:

  1. Mengajak menggunakan akal rasio, dg mempertanyakan mengapa menyembah patung yg tdk bisa mendengar, tdk bisa melihat dan tdk bisa berbuat apa pun utk menolongnya (42)
  2. Menyatakan dirinya sbg utusan Allah dan mengajak mengikuti jalan lurus ajaran Tauhid (43)
  3. Mengajak utk tdk menuruti kata-hati yang dipengaruhi syetan, yang selalu mengajak durhaka kpd Tuhan yang Maha Pemurah (44) dan menerangkan ancaman azab dari Tuhan yang Maha Pemurah tsb (45). Menarik di sini, bhw Ibrahim as menggambarkan Allah sbg Tuhan yang Maha Pemurah ketika berbicara dg bapaknya di ayat 44 dan 45. Ibrahim memperkenalkan Allah sbg Tuhan yang Maha Pemurah, yang mau mengampuni segala dosa setiap hamba kalau dia bertaubat, dan menahan azabNya, tidak serta merta menurunkan azabNya, sampai benar2 seorg hamba menolak menaati risalahNya.

Dikisahkan kemudian, ‘Azar menolak dakwah anaknya, Ibrahim as, dan mengancam akan merajam anaknya tsb serta mengusir dari rumahnya (46).

Ibrahim as tetap mendoakan keselamatan kpd bapaknya, dan bahkan berjanji utk memohonkan ampunan dan hidayah bagi bapaknya (47-48). Di ayat lain, disebutkan, bgmn Ibrahim as mendoakan bapaknya sesuai janjinya, sbb:

dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat (Asy Syu’araa 26:86)

Allah secara khusus mengklarifikasi, doa Ibrahim as kpd bapaknya ini adalah ketika bapaknya masih hidup yang masih mungkin berubah menerima risalah Allah.

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.
Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At Taubah 9:113-114)

Menurut ulama, ayat di atas menjadi dasar larangan kita mendoakan orang musyrik, walaupun mereka kerabat sendiri, kalau mereka sudah meninggal. Sementara mendoakan mereka selama mereka masih hidup agar diberi hidayah diperbolehkan.

Sebagai penutup dikisahkan, di perantauan Ibrahim dikaruniakan dua orang anak, Ishak dan Ya’qub yang keduanya diangkat sbg utusan Allah dan sebagian keturunan dari mereka juga diangkat sbg Rasul (dikenal sbg orang2 yang berakhlak baik dan mulia) (49-50). Ini adalah dikabulkannya doa Ibrahim di ayat berikut:

(Ibrahim berdoa), “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian…” (Asy Syu’araa’ 26:83-84)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab