Allah menggambarkan penyesalan mereka yang lanjut usia namun lengah beramal dalam perumpamaan berikut:

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (Al-Baqarah 2:266)

Digambarkan seorang yang memasuki usia tua, sementara masih banyak tanggungannya (anak-anaknya, urusan bisnisnya, tanah, aset dll). Dia sebenarnya sdh mempersiapkan segala keperluan untuk masa tuanya.

Hingga tiba-tiba dicabutlah sebagian kenikmatan tersebut dengan tiba-tiba (diibaratkan kebun yang terbakar habis). Di saat itulah dia menyesal karena setelah dihitung-hitung baru tersadar amat sedikit bekalnya utk 'melanjutkan perjalanan' berikutnya ke akhirat, sementara dirinya sudah melemah tidak lagi seperti dulu. Penyesalan mereka yang sudah bekerja keras, kerja profesional, bersungguh-sungguh di dunia tetapi melalaikan amal bekal akhiratnya diterangkan juga pada ayat berikut:

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. (Al-Ghasiyah 88:2-5)

Allah kemudian mengontraskan keadaan ini dengan orang yang mempersiapkan bekal di ayat sebelum dan sesudahnya...

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (Al-Baqarah 2:265)

Mereka yg menginvestasikan hartanya di jalan Allah maka hartanya akan selalu membawa keberkahan serta ketenangan jiwa bahkan ketika mereka berada di dalam kondisi yang sulit sekali pun.

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran 3:134)

Pada ayat selanjutnya, Allah SWT mengingatkan juga agar kita memilih yang baik-baik dalam menginfakkan sebagian harta kita.

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al-Baqarah 2:267)

Senada dengan ayat di atas, Allah SWT juga memerintahkan kita untuk menginfakkan bukan hanya yang baik-baik, melainkan juga harta yang dicintai untuk diinfakkan:

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Ali Imran 3:92)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam