Agar ujian terasa ringan, engkau harus mengetahui bahwa Allahlah yang memberimu ujian. Dzat yang menetapkan beragam takdir atasmu adalah Dzat yang selalu memberimu pilihan terbaik. (Ibu Atha’illah al-Iskandari)

Kau harus sadar bahwa Allah yang mengujimu, bukan yang lain. Dia yang lebih mengetahui maslahatmu daripada dirimu sendiri. Kesadaran ini akan menjadi sebab kebahagiaan, kesenangan, hiburan, ketawakkalan, dan kesabaranmu. Dzat yang menetapkan berbagai perkara yang ditakdirkan untukmu, seperti penyakit, hilangnya harta dan anak, atau yang lainnya, adalah Dzat yang memilihkan untukmu perkara terbaik yang sesuai denganmu.

Dalam kehidupan ini pun kau kerap menyaksikan bahwa orang yang selalu berbuat baik kepadamu bisa saja sewaktu-waktu bersikap buruk dan berbuat kasar kepadamu. Sekalipun demikian, kau tetap sabar menghadapi sikap buruknya karena mungkin saja kekasaran dan keburukan sikapnya itu didasari niat baik dari dalam lubuk hatinya.

Demikian pula seorang hamba, jika ia mengetahui bahwa Allah SWT Maha Pemurah, Maha Lembut dan Maha Melihat kepadanya, setiap petaka dan ujian yang dijatuhkan kepadanya tidak perlu dipedulikan karena Allah tidak menghendaki darinya kecuali kebaikan. Dengan kesadaran itu, ia akan berbaik sangka kepada Allah dan yakin bahwa itu adalah pilihanNya untuknya. Ia harus yakin bahwa dalam ujian itu terkandung maslahat tersamar bagi dirinya yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah.

Allah SWT berfirman,

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah 2:216)

Abu Thalib Al-Makki berkata tentang ayat ini, “Seorang hamba benci kemiskinan, kekurangan, kelemahan dan bahaya, padahal itu lebih baik baginya di hari akhir. Mungkin ia suka kekayaan, kesehatan, dan popularitas, padahal di sisi Allah itu lebih buruk baginya dan lebih jelek akibatnya.”

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al Baqarah 2:155-157)

Cobaan pasti akan dialami oleh setiap orang yang beriman, dalam bentuk:

  • Ketakutan dan berbagai emosi kejiwaan
  • Penyakit fisik
  • Kekurangan harta
  • Kehilangan jiwa
  • Kekurangan bahan pangan

Allah menjelaskan bahwa penawar dari cobaan di atas adalah dengan sikap sabar, yakni mentalitas Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, meyakini bahwa semua yang ada di dunia adalah bersifat sementara, ada awal dan ada akhir, serta semua yang ada adalah milikNya semata, manusia hanya mempunyai hak pakai atas segalanya.

Bagi mereka yang mampu bersikap sabar dalam melewati ujian tersebut, maka Allah menjanjikan balasan dalam bentuk kebaikan sbb:

  1. Keberkahan yang sempurna pada setiap yang ada pada diri dan kehidupannya. Apa yang ada menjadi manfaat bagi diri dan orang-orang di sekitarnya. Juga apa yang ada menjadikan hatinya tenang dan menambah ketakwaannya kepada Allah
  2. Rahmat dari Allah SWT yang berlimpah, baik di dunia maupun di akhirat
  3. Kehidupan yang selalu dalam hidayah. Pertolongan petunjuk dari Allah SWT dalam menentukan berbagai pilihan di dalam kehidupannya.

Dalam redaksi yang mirip, sabar ini diterangkan juga di ayat lain sebagai penolong kaum beriman dalam kehidupannya – selama dilakukan bersama-sama dengan ketaatan mendirikan sholat:

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah 2:153)

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Al Baqarah 2:45-46)

Di ayat ini dijelaskan juga sikap khusyu’ yang menjadi satu paket dengan sabar dan sholat, sebagai prasyarat untuk bisa sukses berhasil menghadapi cobaan. Khusyu’ ini sama maknanya dengan sikap “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun” pada ayat sebelumnya, yakni mentalitas yang meyakini semua yang ada, termasuk diri kita ini adalah milikNya dan akan kembali kepadaNya, menemui Allah SWT.

Sebagai kesimpulan, berikut ini adalah hal yang dapat kita jadikan sebagai bekal menghadapi cobaan, obat penawar pedihnya cobaan yang pasti dialami oleh setiap hambaNya sbb:

  1. Meyakini bahwa Dia yang menurunkan cobaan adalah Dzat yang sama yang telah memilihkan segala yang terbaik bagi diri dan kehidupan kita
  2. Meyakini bahwa Allah lebih mengetahui yang terbaik bagi kita. Yang kita cintai dan inginkan bisa jadi sangat buruk bagi kita, dan yang kita benci dan takuti bisa jadi sangat baik dan menyelamatkan diri kita
  3. Paket sabar-sholat-khusyu’. Menjalankan sikap sabar dan taat mendirikan sholat dengan keyakinan bahwa kita hanya memiliki hak pakai. Semua yang ada – termasuk diri sendiri – adalah milik Allah SWT dan pasti akan kembali kepadaNya.

Bagi mereka yang lulus dalam cobaan Allah, Dia mengaruniakan kepada mereka keberkahan yang sempurna, rahmatNya yang melimpah dan kehidupan yang selalu dalam hidayah petunjukNya.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Sumber sebagian dikutip dari Al Hikam – Kitab Tasawuf Sepanjang Masa. Turos Pustaka. 2012)