Surat Shaad terdiri dari 88 ayat dan termasuk kelompok Surah Makkiyyah.

Allah membuka Surah Shaad dengan mengontraskan keagungan Al Quran dengan kesombongan orang yang memusuhi para Nabi. Di ayat lain ditegaskan keagungan Al Quran yang tidak terjangkau oleh akal dan kemampuan manusia sbb:

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Al Israa’ 17:88)

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (Al Hasyr 59:21)

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (Al ‘Ankabut 29:49)

Allah kemudian menjelaskan detail kesombongan mereka yang memusuhi para Nabi sbb:

  1. Mereka mempertanyakan kedatangan Rasul dan menganggapnya sbg ahli sihir (4). Hal ini juga disebutkan di ayat lain:

Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka.” Orang-orang kafir berkata, “Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata.” (Yunus 10:2)
2. Mereka mempertanyakan pesan Tauhid, “Mengapa tuhan itu harus satu, tidak banyak?” (5)
3. Mereka juga mempertanyakan tujuan diturunkannya Al Quran dan apakah benar Al Quran itu dari Tuhan (8)

Allah kemudian menjawab keragu2an mereka ini dengan menyatakan bhw Al Quran sungguh2 diturunkan dari Allah SWT, Dzat satu-satunya yang memiliki sifat sbb:

  • Dzat yang mampu menurunkan azab kpd hambaNya (8)
  • Dzat yang Maha Perkasa dan Maha Pemberi yang menurunkan rahmat kpd hambaNya (9)
  • Dzat yang kekuasaanNya meliputi langit dan bumi serta segenap apa yang ada di antaranya (10)
  • Dzat yang telah mengutus para Nabi kpd kaum Nuh, ‘Aad, Fir’aun dan Tsamud, dan menurunkan azab kpd mereka karena keingkarannya (12-14)
  • Dzat yang pasti akan mendatangkan kehancuran bagi alam semesta di hari kiamat, hanya dengan satu teriakan saja (sangkakala malaikat Israfil) (15-16)

Kisah Nabi Daud dan Amanah bagi Pemegang Kekuasaan (Umara)

Ayat 17 menjelaskan Nabi Daud as yang sangat taat kpd Allah walaupun beliau diberi kekuatan dan kekuasaan.

Menurut Ibnu Abbas, Daud as membagi waktu mingguannya menjadi 3:

  1. Sepertiga untuk urusan kerajaan
  2. Sepertiga untuk menjalankan sidang peradilan
  3. Sepertiga untuk berkhalwat, beribadah dan membaca Zabur di dalam mihrab

Ketaatan Daud as disebutkan di dalam satu hadits berikut:

Shalat yang paling disukai Allah SWT adalah shalatnya Daud as. Ia menggunakan separuh malam untuk tidur, sepertiga malam untuk sholat malam, dan seperenam malam sisanya digunakan untuk tidur kembali.
Puasa yang paling disukai Allah adalah puasanya Daud as, sehari berpuasa sehari tidak.
Ia tidak melarikan diri bila bertemu musuh dan dia adalah seorang yang selalu mengembalikan segala urusan kepada Allah SWT. (HR Bukhari dan Muslim)

Di ayat selanjutnya, Allah menjelaskan bbrp karuniaNya thd Nabi Daud as sbb:

  • Menundukkan gunung2 untuk bertasbih bersamanya setiap pagi dan sore (18)
  • Memerintahkan burung2 utk berkumpul dan beribadah kpd Allah (19)
  • Memimpin kerajaan yang kuat (20). Menurut Ibnu Katsir, kerajaan Daud saat itu adalah kerajaan terkuat di dunia
  • Dikaruniakan hikmah dan kebijaksanaan dlm menyelesaikan perselisihan (decisive judgement) (21)

Di ayat 21-24, Allah menerangkan contoh kebijaksanaan Daud as dlm menyelesaikan perselisihan. Dikisahkan, dua orang masuk ke rumah Daud as dengan memanjat dinding mihrab shg membuat Daud as terkejut karena mereka datang di waktu Daud sedang beribadah.

Dikisahkan, keduanya berselisih dalam serikat usaha. Salah satu dari mereka memiliki 99 ekor kambing, sedangkan satu orang lainnya memiliki hanya 1 ekor kambing. Saat itu karena terburu-buru, Daud as hanya mendengarkan orang pertama, sehingga memutuskan orang kedua harus menyerahkan 1 ekor kambing milik dia satu-satunya kepada orang pertama.

Tidak lama kemudian Allah menegur Daud as. Beliau akhirnya membatalkan keputusan sebelumnya dan menetapkan bhw orang pertama tdk berhak menuntut bayaran 1 ekor kambing dari orang kedua.

Di ayat 24-25 digambarkan bagaimana Daud as yang bersujud memohon ampun dan bertaubat krn sikapnya yang tidak adil dalam memutuskan perkara kedua orang tsb. Allah SWT kemudian menerima taubat beliau, dan Allah menyebut Daud as sbg “hamba yang memiliki kedudukan yang dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.”

Dari kisah Daud as di atas, Allah implisit berpesan kepada kita, bahwa hambaNya yang mulia dan dekat denganNya, bukanlah mereka yang bebas dari dosa, atau yang tidak pernah berbuat dosa, melainkan hambaNya yang segera memohon ampunan ketika sadar berbuat dosa. Inilah yang dimaksud di ayat lain sbb:

Dan bersegeralah (bergegaslah) kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (Ali Imran 3:133)

Sebagai penutup kisah Daud as, di ayat 26 Allah implisit menjelaskan syarat utama seorang Umara (orang yang diberi kekuasaan atau pemimpin negara) dlm bentuk perintah kepada Daud as untuk menjaga keadilan dalam memutuskan masalah, serta hati-hati agar tidak mengikuti hawa nafsu (mencari keuntungan pribadi atau kelompok).

Allah kemudian mengancam mereka yang diberi kekuasaan tetapi tidak bisa berlaku adil dengan:

  1. Disesatkan dari jalan Allah (dijauhkan dari menerima petunjuk Allah, hilangnya common sense dan dibutakan hati nuraninya) – siksa dunia
  2. Azab yang berat di akhirat – siksa akhirat

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab