Kisah Musa as (2)

Dialog Fir’aun dan Musa as Mengenai Ketuhanan

Fir’aun bertanya kpd Musa mengenai siapa Tuhan yang disebut Musa – yang sebelumnya tdk pernah dikenal oleh Fir’aun (49). Musa as menjawab, bhw Tuhan nya adalah Dzat yang memiliki sifat yang tdk mungkin bisa disamakan oleh siapa dan apa pun, termasuk Fir’aun, yakni:

  1. Tuhan yg menciptakan segala yang hidup dan menganugerahi mereka dg sifat, insting dan hati nurani (50)

  2. Tuhan yg menciptakan bumi sbg tempat tinggal manusia, menurunkan air hujan yang dengannya ditumbuhkan berbagai macam tanaman (53) dan menjadi makanan bagi ternak peliharaan (54)

  3. Tuhan yg menciptakan manusia dari tanah, dan yang menjadi tempat kembalinya manusia serta membangkitkannya pada hari Akhir (55)

Allah kemudian menerangkan bhw telah diperlihatkan kebesaran dan kekuasaanNya kpd Fir’aun dlm bentuk azab atas Fir’aun dan bangsa Mesir (56) sbg bukti kebenaran sifat2 Tuhan yang dijelaskan Musa as di ayat sebelumnya, dimana Fir’aun tdk mampu menolak / mencegah azab2 tsb walaupun dirinya mengaku sbg tuhan.

  1. Diturunkannya angin topan, hujan belalang, katak, dan kutu di kota Mesir

  2. Berubahnya air – sungai nil, kolam, air minum dan keperluan mandi dll – menjadi darah yang kental dan berbau amis

    Maka Kami kirimkan kepada mereka angin topan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. (Al A’raaf 7:133)

  3. Didatangkannya musim kemarau yang panjang, yg menyebabkan banyak tanaman mati dan berkurangnya bahan makanan. Hal ini disebutkan di ayat berikut:

    Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. (Al A’raaf 7:130)

  4. Menurut sumber Perjanjian Lama, Allah juga menurunkan azab berupa dicabutnya nyawa seluruh anak sulung bangsa Mesir saat itu – termasuk anak sulung Fir’aun. Azab ini yang membuat Fir’aun akhirnya memperbolehkan Musa as dan Bani Israil meninggalkan Mesir.

Musa Mengalahkan Ahli Sihir Fir’aun

Kemudian, Musa as memperlihatkan mukjizat tongkat menjadi ular. Fir’aun menganggapnya itu adalah sihir yang juga bisa dilakukannya. Dijelaskan juga, saat itu Fir’aun menganggap tujuan Musa adalah utk mengajak Bani Israil makar, mengusir bangsa Mesir keluar dari negerinya (57) sbgmn disebutkan di ayat lain:

Pemuka-pemuka kaum Fir’aun berkata, “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu…” (Al A’raaf 7:109-110).

Akhirnya atas usul pemuka Fir’aun, diputuskanlah utk menggelar adu sihir di depan umum, dg mendatangkan ahli2 sihir dari seluruh penjuru negeri (58). Musa pun meminta agar dilakukan pada hari raya, pagi menjelang siang, agar lebih banyak orang yang menyaksikan dan menerima dakwahnya. Permintaan ini disetujui oleh Fir’aun (59).

Pemuka-pemuka itu menjawab, “Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai.” (Al A’raaf 7:111-112)

Pada hari yang ditentukan, berkumpullah para ahli sihir terbaik Fir’aun. Diterangkan pula, bbrp tukang sihir Fir’aun sebenarnya ada yang ragu dan merasa bhw yg mereka hadapi bukanlah sihir biasa (62).

Musa as mempersilahkan mereka utk melempar sihirnya lebih dahulu (60-66). Diceritakan Musa as awalnya merasa takut dg ular2 ciptaan sihir tsb shg Allah menenangkannya, dg menyatakan bhw pasti dia yang akan menang (67-68).

Akhirnya Musa as melempar tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular dan memakan seluruh ular ciptaan sihir tsb (69). Di sini, tampak jelas, bhw sihir yang sifatnya tipuan mata tdk akan bisa menang melawan mukjizat bersifat materi dan real. Kejadian ular Musa memakan seluruh ular-ular ciptaan sihir tidak mungkin merupakan sihir juga, krn memakan hingga habis adalah bukti nyata yg bersifat material yang tdk mungkin dilakukan secara tipuan mata.

Di ayat lain, dijelaskan bhw baik ahli sihir Fir’aun dan juga para pembesar dan Fir’aun sendiri merasa malu krn dikalahkan oleh Musa,

Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. (Al A’raaf 7:119)

Berimannya Ahli Sihir Fir’aun

Mengetahui sihir mereka dikalahkan, para ahli sihir Fir’aun segera bersujud dan berkata, ”Kami beriman kpd Tuhannya Musa dan Harun (70).

Menurut ar-Razi, para ahli sihir Fir’aun ini segera menyerah dan bersujud krn pengetahuan spiritual mereka yg tinggi shg cepat mengenali bhw yg dilakukan Musa sama sekali bukanlah sihir.

Fir’aun kemudian murka kpd ahli sihirnya, menganggap mereka bersekongkol dg Musa as utk melakukan makar. Fir’aun mengancam menghukum mereka dg dipotong tangan dan kaki serta disalib (71).

Mereka (para ahli sihir ini) tetap teguh dalam keimanannya, tdk takut bahkan kalau harus dibayar nyawa sekalipun, sbgmn dijelaskan di ayat lain:

Ahli-ahli sihir itu menjawab: “Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. (Al A’raaf 7:125)

Para ahli sihir tsb mempertanyakan mengapa mereka dihukum hanya karena mengakui kebenaran Nabi Musa yang dibuktikan melalui mukjizat ular, dan pasrah menerima apa pun hukuman yang dijatuhkan Fir’aun kpd mereka (72). Disebutkan di ayat lain:

Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.” (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (Al A’raaf 7:126)

Keteguhan iman mereka digambarkan ketika mereka memilih dihukum mati ttp dlm keadaan beriman dan beramal saleh dg balasan surga yg kekal; daripada meninggal kemudian dlm keadaan berdosa dg balasan siksa yg pedih (tdk mati, tdk pula hidup di neraka Jahannam) (73-76).

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab