Kisah Musa as (3)

Kisah Musa: Bani Israil Meninggalkan Mesir

Melanjutkan kisah Musa as sebelumnya, setelah berbagai bencana menimpa Fir’aun dan negeri Mesir, spt angin topan, hujan belalang, katak, kutu, darah, dan musim kemarau, Allah memerintahkan Musa as utk mengajak Bani Israil pergi meninggalkan negeri Mesir pada malam hari (77).

Sebagai informasi, menurut kitab Perjanjian Lama, peristiwa ini terjadi setelah Allah menurunkan siksaNya, berupa mewafatkan seluruh anak sulung bangsa Mesir, termasuk anak sulung Fir’aun, shg akhirnya Fir’aun mengizinkan Musa as dan Bani Israil meninggalkan Mesir. Diceritakan, para pembesar Fir’aun tdk setuju dg keputusan Fir’aun shg dikerahkanlah pasukan yang dipimpin oleh Fir’aun sendiri utk mengejar Musa as dan rombongan Bani Israil, hingga mereka ditenggelamkan di laut Merah. Wallahu a’lam.

Saat matahari terbit, pasukan Fir’aun pun berhasil mengepung Nabi Musa as dan Bani Israil dari belakang, sementara laut Merah di hadapan mereka, hingga kemudian Allah memerintahkan Musa utk memukulkan tongkatnya ke laut Merah, sbgmn dijelaskan di ayat2 berikut:

Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit.
Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.”
Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (Asy Syu’araa’ 26:60-63)

Setelah semua Bani Israil sampai di seberang laut Merah, maka laut pun ditutup kembali. Fir’aun beserta tentaranya tenggelam dg disaksikan oleh Musa as dan Bani Israil, dijelaskan di ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan (Al Baqarah 2:50)

Di ayat lain, dinyatakan bhw Allah sengaja menyelamatkan jasad Fir’aun sbg tadabur bagi kita atas siksa Allah yang diturunkan kpd hambaNya yg menolak risalahNya:

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (Yunus 10:92)

Sbg informasi, dalam bukunya, ”La Bible, le Coran et la Science” yg terbit 1976, Dr. Maurice Bucaille bersama timnya melakukan penelitian thd jasad Fir’aun (Ramses II) dan setelah meneliti kandungan garam pada jasad Fir’aun, beliau menyimpulkan bhw penyebab tewasnya adalah krn tenggelam digulung ombak. Beliau sendiri akhirnya masuk Islam.

Peristiwa tenggelamnya Fir’aun ini adalah permulaan perjalanan Musa as membimbing Bani Israil yang banyak menuntut dan mudah kembali menjadi kafir.

Di ayat lain disebutkan bhw tdk lama setelah mereka selamat dari kejaran Fir’aun, mereka meminta dibuatkan berhala sbg bentuk tuhan yang dapat mereka lihat langsung krn kecenderungan mereka thd Paganisme:

dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata, “Hai Musa. buatlah untuk Kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala)”. Musa menjawab, “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)” (Al A’raaf 7:138).

Ayat 80-81 menerangkan perjalanan Musa as membawa kaumnya ke gunung Thur tempat beliau pertama kali menerima wahyu. Di sana, Bani Israil berikrar kpd Allah utk taat melaksanakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Allah pun menjanjikan Bani Israil negeri yang makmur sbg tempat tinggal mereka.

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (Al Baqarah 2:40)

Allah memberikan banyak nikmat selama pengembaraan Bani Israil ini, spt manna (roti manis) yang diturunkan dari langit spt hujan, salwa (burung puyuh) yang berjatuhan dari langit juga, air bersih utk minum, dan awan yang menaungi mereka sepanjang perjalanan. Hal ini disebutkan dlm ayat berikut:

Dan mereka Kami bagi menjadi 12 suku yang masing2 berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”. Maka memancarlah dari padanya 12 mata air. Sesungguhnya tiap2 suku mengetahui tempat minum masing2. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman), “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami karuniakan kepadamu”. Mereka tidak Menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri. (Al A’raaf 7:160)

Allah kemudian menegaskan Rahman RahimNya kpd hambaNya (yakni Bani Israil), bhw ridha dan karuniaNya akan diturunkan selama mereka mau bertaubat, menjaga keimanan (tauhid) dan beramal saleh serta terus berusaha berjalan di jalan yang benar, yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya (82).

Peristiwa Patung Anak Sapi

Ketika Musa meninggalkan kaumnya pergi ke gunung Thur utk menerima Taurat, mereka terpengaruh oleh Samiri yang merupakan salah satu org yg berpengaruh, membuat patung anak sapi dari logam mulia untuk disembah dg dalih sbg perantara doa mereka dg Allah SWT (83-86). Menurut ar-Razi, patung anak sapi ini dbuat lubang angin dan rongga shg menghasilkan suara mirip suara sapi kalau terkena angin.

Musa as kecewa krn kaumnya cepat sekali lupa akan besarnya nikmat Allah atas mereka (diselamatkan dari Fir’aun, manna, salwa, awan dll) (86-88). Allah menegur Bani Israil krn kezaliman mereka menyembah sesuatu yg tdk punya akal, tdk bisa berbicara dan tdk bisa membawa manfaat atau pun kemudharatan apa pun kpd mereka (89).

Kemudian diceritakan dilema yang dihadapi Harun as ketika menghadapi kaumnya, shg dia tdk bisa berbuat banyak atas perilaku kaumnya yg kembali musyrik. Situasi saat itu, sebagian besar Bani Israil sdh terpengaruh oleh Samiri. Kalau Harun as memaksakan melarang mereka menyembah patung anak sapi tsb, sementara posisi dia saat itu tdk sekuat Musa as, maka dikhawatirkan akan terjadi perpecahan di antara Bani Israil (94).

Musa as kemudian mengusir Samiri keluar dari rombongan Bani Israil, dan melarang menemui / mendekati dirinya. Patung anak sapi tsb dibakar dan abunya dibuang ke laut (97). Di ayat lain, dijelaskan Musa as memerintahkan Bani Israil bertaubat dg membunuh diri mereka:

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al Baqarah 2:54)

Tidak cukup dengan perintah taubat kpd mereka yang musyrik terpengaruh Samiri, Allah memerintahkan Musa memilih 70 orang dari kaumnya (menurut bbrp mufasir, 6 org dari setiap 12 suku Israil, jadi total 72 orang) untuk bermunajat bersama di waktu yg ditentukan di gunung Thur, memohon taubat atas perilaku musyrik yang dilakukan oleh teman2nya. Sebagian mufasir berpendapat, mereka yg walaupun tdk ikut2 menyembah patung sapi ini tetap dihukum berdosa krn membiarkan dan tdk memperingatkan sesama kaumnya yang terpengaruh Samiri tsb.

Dan Musa memilih 70 orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka (tiba-tiba) diguncang gempa bumi, Musa bermunajat, “Duhai Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Sesunggunya ini adalah cobaan-Mu, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.” (Al A’raaf 7:155)

Kisah patung anak sapi ini ditutup dg penegasan Allah, bhw Dialah satu-satunya Tuhan yang patut disembah, tdk ada Tuhan selain Allah – Dzat Yang Maha Kuasa, Yang IlmuNya meliputi segala sesuatu (98).

Catatan tambahan:

Dalam perjalanannya, ternyata Bani Israil berkali-kali melanggar perjanjian taat kpd Allah, yang puncaknya mereka menolak ketika diperintahkan berperang utk memasuki negeri yang dijanjikan ini (Baitul Maqdis). Allah kemudian menghukum mereka dg mengharamkan memasuki kota ini selama 40 tahun.

Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” (Al Maa’idah 5:22)

Allah berfirman, “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama 40 tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (Al Maa’idah 5:26)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab