Luasnya Ilmu Allah dan Adab Penuntut Ilmu (Kisah Musa as dan Khidir)

Kisah Nabi Musa as dan Khidir ini bersumber dari ayat 60-82 dan hadits Nabi yang cukup panjang yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Ubay bin Ka’ab. Pesan utama dari pertemuan kedua orang saleh ini adalah diperlihatkannya keluasan ilmu Allah, dimana Musa as ditegur Allah SWT krn mengatakan bhw tdk ada orang lain selain dirinya yang lebih berilmu (pada masa itu). Allah kemudian memerintahkan Musa as berguru kpd Khidir yang disebut di ayat 65 sbg seorg manusia yang menerima anugerah sbb:

  1. Rahmat dari sisi Allah, berupa hidayah, kematangan, kehati-hatian, dan sikap hati bijaksana
  2. Ilmu dari sisi Allah yang langsung diajarkan oleh Allah SWT tanpa perantara, berupa pengetahuan ghaib dan hikmah (ilmu Laduni)

Pertemuan kedua orang saleh ini melambangkan adanya dua alam keilmuan, yakni 1) ilmu syariat, hukum dan kemasyarakatan yang dikaruniakan Allah kpd Musa as, dan 2) ilmu hakikat, makrifat dan adab hati yang dianugerahkan Allah kpd Khidir. Keduanya sama-sama berasal dari Allah SWT, yang diturunkan melalui wahyu dan ilham kpd rasul dan hamba pilihanNya.

Kisah ini dimulai dari perjalanan Musa as bersama seorang muridnya; mereka berjalan jauh utk menemui Khidir – seorg manusia biasa (bukan Rasul, tdk menerima kitab, dan tdk memiliki umat), hingga akhirnya bertemu dg Khidir (60-64).

Kemudian Musa as bertanya dg merendah, ”Bolehkah aku mengikutimu, supaya kamu mengajarkan ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kpdmu?” (66).

Khidir awalnya menolak permintaan Musa as krn syaratnya harus bisa menjaga kesabaran terhadap sesuatu yang tidak / belum diketahui*(“Bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu”)* (68). Akan tetapi Musa as tetap memaksa dg mengatakan, ”Insya Allah kamu akan mendapati aku sbg org yang sabar, dan aku tdk akan menentangmu dlm sesuatu urusan pun” (69). Akhirnya Khidir membolehkan dg syarat, Musa as tdk boleh bertanya apa pun selama perjalanan sampai Khidir menjelaskannya (70).

Musa as mengikuti perjalanan Khidir dimana Khidir melakukan 3 hal berikut:

  1. Khidir sengaja melubangi perahu yang ditumpanginya (71-73)
  2. Khidir sengaja membunuh seorg anak yang ditemuinya (74-76)
  3. Khidir suka rela memperbaiki rumah yg hampir roboh walaupun mereka tdk dijamu oleh warga sekitarnya (77)

Musa as ternyata tdk dapat menahan diri utk tdk bertanya ttg 3 perbuatan Khidir tsb, shg akhirnya Khidir menyudahi pertemuan mereka dg mengatakan, ”Inilah perpisahan antara aku dg kamu; kelak akan aku beritahu kpdmu tujuan perbuatan2 tadi yang kamu tdk dapat sabar terhadapnya.” (78).

  1. Khidir melubangi perahu. Perahu tsb milik org miskin, sengaja dilubangi agar perahu tsb tdk diambil oleh penguasa zalim di daerah tsb (79)
  2. Khidir sengaja membunuh seorg anak. Kedua orangtuanya adalah org beriman, sengaja dibunuh agar tdk membawa mereka kpd kesesatan dan kekafiran (80), dan Allah akan menggantinya dg anak lain yang lebih suci dan lebih sayang kpd mereka (81).
  3. Khidir memperbaiki rumah yg hampir roboh. Rumah tsb milik dua org anak yatim dari seorg ayah yang saleh. Khidir memperbaikinya agar harta warisan simpanan ayah mereka terjaga dan dapat dimanfaatkan nanti setelah mereka dewasa (82).

Khidir kemudian mengatakan, bhw semua yang dilakukannya adalah krn bimbingan Allah, dan bukan krn keinginannya semata (82). Ini menegaskan, bhw beliau diberi pengetahuan ghaib dan hikmah yang langsung diajarkan oleh Allah SWT sbgmn disebutkan di ayat 65 di atas.

Sebelum berpisah, Khidir menerangkan kpd Musa as, betapa teramat luasnya ilmu Allah yg tdk berhingga dg mengatakan,

”Ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah tidak lebih dari berkurangnya air laut ini oleh patukan burung tsb.”

Di dalam Al Quran, luasnya ilmu Allah ini digambarkan sbb:

Katakanlah, “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Al Kahfi 18:109)

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Luqman 31:27)

Ada bbrp hikmah pelajaran dari kisah ini:

  • Org yang berilmu hendaknya bersikap tawadhu’, low profile. Ilmu adalah milik Allah SWT, tdk ada seorang manusia pun yang pantas mengklaim bahwa dirinyalah yang paling berilmu daripada org lain. Ilmu Allah amatlah luas, dan Allah SWT dapat menganugerahkan ilmu kepada hamba yang dikehendakiNya tanpa harus org tsb mempelajarinya.
  • Adab santun dlm berguru. Murid harus bersabar, bersedia mendengar penjelasan guru dari awal hingga akhir dan mengikuti proses belajar tsb walaupun dia belum sepenuhnya memahami maksud dan tujuannya
  • Ilmu harus dicari dengan istiqamah dan sabar, walaupun jarak kita dengan sumber ilmu harus ditempuh perjalanan yg panjang.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab