Sikap Yusuf dlm Menerima Jabatan

Allah kemudian menceritakan kisah Yusuf yang menafsirkan mimpi Raja (Penguasa) Mesir saat itu (Al Aziz) sbg salah satu mukjizat beliau (43-54).

Menarik disini melihat respon pertama Yusuf ketika diminta menghadap Raja Mesir. Beliau menitipkan pesan kpd utusan Raja, “Tanyakanlah kpd Raja, bgmn halnya dg tuduhan menggoda istrinya yg mengakibatkan saya dihukum penjara” (50).

Di sini, tampak bhw yg pertama dilakukan Yusuf saat itu (sebelum menerima menghadap Raja) adalah meminta Raja meninjau ulang kasusnya, dan memastikan bhw memang dia tdk bersalah (walaupun menjalani hukuman penjara). Akhirnya istri Al Aziz mengakui bahwa dialah yang menggoda Yusuf (51).

Hal lain yang menarik adalah perkataan Yusuf mengenai peristiwa tsb. Beliau mengatakan, bhw sebenarnya pun kalau tdk ingat Allah, dia sudah pasti terjerumus mengikuti nafsunya ketika digoda oleh istri Al Aziz (53). Beliau tdk mengingkari adanya nafsu yg menjadikan dia tertarik kpd istri Al Aziz tsb.

Kemudian Yusuf bertemu dg Al Aziz, dan diangkat menjadi tangan kanan, org kepercayaannya. Menarik lagi, ternyata Yusuf menolak dg halus tawaran tsb dan mengajukan dirinya sbg bendahara negara (mirip spt Menteri Keuangan) sesuai dg pengalaman/experience dan keahliannya, “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah org yang pandai menjaga (pengalaman/experience) dan berpengetahuan (skill/keahlian)”

Allah kemudian menegaskan bhw Dia tdk menyia-nyiakan pahala org yang berbuat baik spt Yusuf as (56). Ditegaskan pula, bhw betapa pun besarnya karunia Allah kpd Yusuf, tetap balasan di akhirat masih lebih baik daripada semua karunia yg diterima di dunia (57).

Sikap Tawakkal dan Pasrah Ya’qub as

Allah kemudian menceritakan pertemuan Yusuf dg saudara2nya. Ketika kakak2nya datang meminta bantuan bahan makanan, Yusuf as meminta agar adiknya (Bunyamin) bisa diajak ketika nanti mereka kembali sbg syarat bisa menerima bantuan bahan makanan dari Yusuf as (58-62). Ya’qub awalnya tdk setuju krn masih terbayang peristiwa hilangnya Yusuf dahulu ketika diajak oleh mereka, ttp akhirnya dg berat hati menerima adik Yusuf dibawa oleh saudara2nya (63-66). Menarik di sini, kalau kita perhatikan, bagaimana Ya’qub memasrahkan dirinya di tengah rasa putus asa dan tidak percayanya dia thd anak2nya krn khawatir terulangnya peristiwa hilangnya Yusuf dulu. Beliau mengatakan, “…namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.”

Ya’qub sadar bhw apa yang terjadi sudah ditetapkan Allah melalui takdirNya, termasuk dirinya, dan adalah hak Allah utk menetapkan suatu takdir walaupun itu tdk sesuai dg keinginan hambaNya (Ya’qub), serta tugas hamba adalah bertawakkal dan berserah diri kpd Allah atas segala takdirNya. Tugas hamba adalah menerima segala keputusan takdir Allah, tetap menjaga prasangka baik kpd Allah atas apa pun yang terjadi, dan tetap berserah diri kpd Allah, tdk putus asa utk terus berusaha dan berdoa kpd Allah. Di ayat lain, prinsip ini pun dijelaskan sbb:

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah… (At Taghaabun 64:11)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya… (Al Hadiid 57:22)

Ketika rombongan anak2 Ya’qub sampai di tempat Yusuf as, Yusuf diam2 memberitahukan kpd adiknya, Bunyamin agar tdk perlu takut thd perlakuan kakak2nya (69). Yusuf pun sengaja menahan Bunyamin dg memasukkan gelas piala ke dalam karung Bunyamin (70-82). Diceritakan juga, bagaimana Yusuf menyembunyikan kejengkelannya ketika dikatakan oleh kakak2nya bhw Bunyamin sudah sering mencuri sebelumnya, padahal Yusuf tahu bhw kedudukan mereka di sisi Allah lebih buruk daripada Bunyamin krn perbuatan dan sikap mereka (77).

Akhirnya mereka kembali pulang dan menyampaikan bhw Bunyamin ditahan shg tdk bisa dibawa pulang kembali.

Mendengar berita tsb, Ya’qub mengatakan sambil menahan marah, “Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (83-84). Menurut riwayat, Ya’qub sampai buta matanya krn menangis terus menerus atas kehilangan Yusuf. Beliau pun mengatakan, “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (86).

Akhirnya Ya’qub memerintahkan anak2nya utk kembali menghadap Yusuf dan mencari cara agar bisa membawa pulang Bunyamin (87). Di sini, Ya’qub mengingatkan mereka (anak2nya) agar tdk berputus asa thd rahmat Allah krn sikap tsb membawa kpd kekufuran. Pesan yg sama juga dikatakan oleh Ibrahim as di ayat berikut:

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” (Al Hijr 15:56)

Ketika mereka kembali bertemu Yusuf, maka Yusuf pun menceritakan bhw dirinya adalah adik mereka yang dulu mereka buang ke dalam sumur (89-90). Yusuf pun kemudian memaafkan dan meminta mereka pulang membawa baju gamis Yusuf dan menutupkannya ke muka ayahnya (Ya’qub) agar beliau dapat melihat kembali (91-93). Diceritakan juga, melalui kekuasaan Allah, Ya’qub bisa mencium bau baju gamis Yusuf bahkan sejak rombongan anak2nya masih di jalan, baru keluar dari Mesir (94-95).

Ya’qub diceritakan akhirnya dapat melihat kembali setelah mukanya ditutup dg baju gamis Yusuf (96). Anak2nya mengakui kesalahan mereka dan meminta didoakan oleh Ya’qub agar dosa mereka diampuni oleh Allah SWT (97). Ya’qub pun memenuhi permintaan anak2nya ini (98).

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab