Al A'raaf 7 : 52-64
Mereka yang Mengabaikan Al Quran dan Rasul
Allah SWT menyatakan bahwa Al-Qur'an mengandung prinsip-prinsip kebenaran dan hikmah (dasar pengetahuan), guidance (petunjuk) dan rahmat bagi orang beriman (52). Kandungan pokok Al-Qur'an ini dijelaskan pada ayat lain dengan struktur kalimat yang mirip sebagai berikut:
Inilah ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (Luqman 31:3-4)
Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (Az-Zukhruf 43:5)
Kemudian digambarkan profil kelompok yang sudah menerima Islam di hari kiamat, tetapi mereka di dunia tidak acuh dan mengabaikan risalah Allah yang ada di dalam Al Quran dan sunnah Nabi saw (53) Mereka ini dikatakan tidak mendapatkan syafaat (pertolongan) – baik melalui doa Rasulullah maupun dari keutamaan Al Quran. Mengenai syafaat ini, Nabi SAW bersabda dalam hadits sahih berikut:
Bacalah al-Qur’an karena ia akan memberikan syafaat kepada para “sahabatnya” (HR Muslim, no. 1337)
Fenomena ini juga disebutkan di ayat lain, ketika Nabi saw mengeluhkan sebagian umatnya yang mengabaikan Al-Qur'an:
Berkatalah Rasul, "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan." Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqan 25:30-31)
Di ayat di atas, dinyatakan pula, bahwa sikap abai umat terhadap Rasul dan kitab yang dibawa oleh para Rasul adalah juga dialami oleh para Rasul sebelum Nabi saw. Bukanlah tanggung jawab Rasul menjadikan mereka semua menjadi beriman, melainkan Allah-lah yang memberi mereka hidayah kepada jalanNya yang lurus, sebagaimana diterangkan pada banyak ayat, di antaranya:
Sesungguhnya kamu (Muhammad saw) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Al-Qashash 28:56)
Dijelaskan kemudian, mereka ini kelak di akhirat akan ditinggal sendirian; tuhan-tuhan (berhala, atau yang diagungkan selama di dunia, seperti kehormatan, karir, harta, dan keturunan) ternyata tidak dapat membawa manfaat apa pun, juga tidak bisa menyelamatkan mereka di akhirat. Sedemikian menyesalnya mereka sehingga mereka memohon agar bisa dikembalikan ke dunia agar dapat mengerjakan amal-amal dan petunjuk di dalam Al-Qur'an yang sebelumnya mereka abaikan (53).
Adab dalam Berdoa
Pada ayat-ayat berikutnya, dijelaskan beberapa adab atau akhlak dalam berdoa. Allah SWT menjelaskan adab pendahuluan yang perlu dihadirkan sebelum doa itu dimulai, yakni:
- Ingatlah kepada siapa kita berdoa. Yakni kepada Dzat yang kekuasaanNya Maha Luas, Maha Meliputi dan melingkupi segenap aspek kehidupan manusia dan alam semesta seisinya (54).
- Doa tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus diiringi oleh ketaatan melaksanakan perintah dan menjauhi segala laranganNya (54).
Kemudian pada ayat (55) dan (56) barulah dijelaskan adab pada saat berdoa yang menggambarkan kerendahan kita sebagai hamba yang lemah di hadapan Tuhan yang Maha Luas dan Maha Meliputi kekuasaanNya sebagai berikut:
- Berdoalah dengan merendahkan diri
- Berdoalah dengan suara yang halus dan lembut
- Menghindari berdoa dengan melampaui batas kepantasan (atas apa yang diminta dan cara memintanya)
- Berdoalah dengan penuh harapan diperkenankan dan rasa khawatir takut bila tidak dikabulkan
Allah kemudian memerintahkan agar kita menghindari segala bentuk kezaliman dan perbuatan merusak, serta memperbanyak berbuat kebajikan sebagai jalan untuk mempercepat diperkenankannya doa kita (56).
Proses Dibangkitkannya Manusia dari Mati
Allah menerangkan di ayat (57) bahwa proses dihidupkannya manusia nanti di hari kebangkitan dari matinya adalah sama/mirip dengan dihidupkannya tanaman/rumput yang sebelumnya sudah mati karena panas kemarau menjadi hidup kembali hanya karena disirami hujan (walaupun tanah tersebut tidak ditanami ulang).
Allah SWT menyebutkan ini berkali-kali di dalam Al-Qur'an sebagai jawaban bagi mereka yang tidak meyakini dibangkitkannya kembali seluruh makhluk pada Hari Akhir kelak:
Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (Az Zukhruf 43:11)
Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). (Ar-Rum 30:19)
Pada ayat (58) Allah SWT menyebutkan bahwa peristiwa dibangkitkannya manusia dari matinya adalah sesuatu yang mudah bagi Allah, sebagaimana mudahnya Dia dalam menjadikan proses kembali-tumbuhnya rumput dari mati-kekeringan secara berulang-ulang dan menjadi siklus alam yang berulang terus menerus.
Menurut Ibnu Abbas, ayat (58) ini adalah analogi perbandingan amal orang beriman (tanah yang subur) dengan amal orang kafir (tanah yang tandus).
Seorang hamba yang beriman (tanah subur), amalnya (hujan) akan mendapatkan pahala berlipat (menumbuhkan tanaman yang banyak). Sedangkan mereka yang kafir (tanah tandus), walaupun banyak beramal (hujan lebat) amal mereka akan hampa, sedikit sekali (tanaman yang tumbuh sedikit sekali atau tidak ada).
Pendapat Ibnu Abbas ini sejalan dengan perumpamaan pada ayat berikut:
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (Al Baqarah 2:265)
Dan kami hadapi segala amal (kebaikan) yang mereka (org kafir) kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Al Furqaan 25:23)
Perjuangan Dakwah Nabi Nuh as
Ayat 59-64 menceritakan kisah Nabi Nuh as yang secara ringkas sebagai berikut:
-
Nabi Nuh as menyerukan ketauhidan. Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia (59)
-
Nabi Nuh as dianggap oleh kaumnya sebagai orang yang gila dan sesat (60-61), walaupun sebenarnya mereka menolak karena Nuh as berasal dari kalangan orang biasa, bukan dari kalangan yang terhormat (63). Penolakan ini juga dilakukan oleh umat lain terhadap Rasul mereka:
Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, "Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka." Orang-orang kafir berkata, "Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata. (Yunus 10:2)
(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, "Ini adalah suatu yang amat ajaib." (Qaf 50:2)
Maka mereka berkata, "Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila." (Al-Qamar 54:24)
Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab, "Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. (Al-Mu'minun 23:24)
-
Akhirnya Allah menurunkan azab berupa banjir besar. Di akhir ayat (64), disebutkan, bahwa mereka yang mengingkari Nabi Nuh as ini adalah mereka yang buta (mata hatinya) - hati mereka sudah sama sekali tertutup dari seruan beriman kepada Allah SWT. Di ayat lain, diterangkan pula:
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). (Ar Ruum 30:53)
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj 22:46)
Tambahan Kisah Nabi Nuh as
-
Nuh adalah Nabi yang dikenal sabar dalam berdakwah dan sabar dalam menghadapi penolakan orang-orang terdekatnya (istri dan anaknya) selain juga penolakan kaumnya (QS. Huud 11:40). Menurut Ibnu Abbas, beliau diangkat rasul pada usia 40 tahun, dan menghabiskan 950 tahun untuk berdakwah. Pun, mereka yang beriman sangat sedikit. Sebagian Mufasir menyatakan hanya 13 org, ada pula yang menyatakan 40 orang.
-
Proses pembuatan kapal oleh Nabi Nuh as dilakukan berdasarkan pengawasan dan petunjuk wahyu, sebagaimana diterangkan di ayat berikut:
Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. (Huud 11:37)
Dijelaskan juga di ayat lain, bahwa kapal Nuh as menggunakan kayu dan paku (pasak).
Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku (Al-Qamar 54:13) -
Kesabaran Nabi Nuh as dalam berdakwah dan menghadapi kezaliman kaumnya ini extra ordinary. Walaupun sudah berdakwah 950 tahun, istri dan anaknya menolak beriman. Namun demikian beliau tetap tidak menceraikan istrinya. Juga beliau tidak mengusir anaknya. Di saat banjir sudah tinggi pun, beliau masih mengajak anaknya di saat terakhir sebelum akhirnya dia ditenggelamkan oleh banjir. Bahkan setelah banjir surut, beliau pun masih juga mendoakan anaknya karena sayangnya, sampai akhirnya Allah SWT menegur beliau yang disebutkan pada ayat berikut:
Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”
Allah berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan. (Huud 11:45-46).
Beberapa detail mengenai Nuh as dan kaumnya dapat dilihat di sini.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.
Photo credit: @brucebmax
Revisi 20190323