Al-Isra’ 17 : 31-44

Perbuatan yang Sangat Dibenci Tuhan

Pada ayat 31-38 diterangkan beberapa perbuatan tercela yang disebut Allah SWT sebagai:

kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu (38)

1. Membunuh Anak Keturunan karena Takut Miskin

  1. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.

2. Mendekati Perbuatan Zina

  1. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

Jangan dekati zina, jangan juga dekati penyebab dan pendorongnya. Nabi saw menekankan besarnya dosa zina ini yang hanya setingkat di bawah dosa musyrik:

Tidak ada dosa yang lebih besar di sisi Allah setelah syirik, dari dosa sperma yang diletakkan seorang laki-laki di dalam rahim yang tidak halal baginya. (HR Ibnu Abi ad-Dunya)

3. Membunuh tanpa alasan yang benar

  1. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.

Alasan yang benar ini diterangkan di dalam hadits berikut:

Tidak halal darah seorang Muslim yang bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, kecuali karena tiga hal: (1) pembunuh, (2) pezina yang telah menikah, (3) orang yang meninggalkan agama yang meninggalkan jamaah. (HR Bukhari dan Muslim).

Allah SWT juga memberi dua pilihan hukuman atas pembunuh kepada ahli warisnya melalui sabda Nabi saw:

Barangsiapa salah seorang kerabatnya terbunuh setelah perkataanku ini, maka keluarganya memiliki dua pilihan: (1) mengambil diyat atau membunuh (orang yang membunuhnya). (HR Abu Dawud dan Nasa'i)

Perlu diperhatikan, hukum dapat berubah mengikuti perkembangan masyarakat, seperti Umar ra yang memperkenalkan hukum penjara untuk menggantikan hukum potong tangan bagi pencuri. Di dalam kondisi masyarakat modern yang sudah memiliki perangkat hukum, maka membunuh karena alasan apa pun tidak diperbolehkan kecuali atas keputusan pengadilan.

4. Memakan atas Harta Anak Yatim

  1. Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.

Memakan harta anak yatim maksudnya tidak amanah dalam menggunakan harta anak yatim, menggunakannya untuk kepentingan selain dirinya. Allah SWT memerintahkan agar tidak menyerahkannya sebelum mereka dewasa (agar tidak dimanipulasi oleh orang lain), di dalam ayat berikut:

Dan janganlah kamu memakannya (harta anak yatim) melebihi batas kepatutan, dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (menyerahkannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka bolehlah dia makan harta itu menurut cara yang patut. (An-Nisaa' 4:6)

5. Tidak Jujur dalam Takaran dan Jual Beli

  1. Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Hal ini disebutkan pula dalam beberapa ayat berikut:

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu (Ar-Rahman 55:9)

Atau dakwah Nabi Syu'aib kepada kaumnya,

Dan Syu'aib berkata, "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Huud 11:85)

Memenuhi akad (kontrak), menepati janji, memenuhi takaran dan timbangan merupakan pilar peradaban masyarakat. Hal ini juga merupakan pilar penting dalam interaksi antar-manusia yang melahirkan rasa saling percaya.

6. Akhlak Buruk dalam Menerima Informasi

  1. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan-jawabnya.

Berikutnya, Allah SWT memerintahkan agar menahan diri, tidak cepat mengambil kesimpulan - termasuk mengikuti sesuatu yang tidak kita ketahui persis kebenarannya, cepat berprasangka buruk dan menuduh, serta berbicara tanpa landasan pengetahuan dan keyakinan terhadap kebenarannya.

Terkait amalan ibadah, di ayat ini Allah SWT memerintahkan kita untuk memahami syarat, rukun, hukum dan hikmah di balik ibadah tersebut sebelum kita mengamalkannya.

Khususnya dalam media sosial, di bawah ini beberapa prinsip kehati-hatian yang selaras dengan ayat di atas:

  • Apa yang kita sampaikan baik secara lisan, tertulis maupun digital (medsos) akan dimintakan pertanggungan-jawabnya kelak di Akhirat. Media sosial adalah alam nyata yang berlaku dosa dan pahala di dalamnya, bukan alam virtual yang kita bisa melakukan apa saja tanpa dikenakan konsekuensi apapun.

  • Menghindari forward berita/informasi bila kita tidak benar-benar mengetahui kesahihan dan akurasi berita/informasinya (berita ilmiah diperiksa kebenarannya melalui jurnal ilmiah, berita umum diperiksa kebenarannya melalui sumber berita yang kredibel, pesan agama diperiksa kebenarannya melalui kitab rujukan yang kredibel / muktabar).

  • Menghindari forward pesan nasehat agama terkait suatu amalan sampai kita sudah menguasai ilmunya dan istiqamah melaksanakannya[1].

  • Tidak berkomentar bila belum mengetahui persis duduk permasalahannya. Termasuk di dalamnya berkomentar atas suatu berita hanya dengan membaca judulnya. Juga membuat click bait atas judul berita agar menarik dibaca (karena mendorong prasangka pembacanya). Mengenai prasangka ini, Allah menyebutkan:

    Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Hujuraat 49:12)

Di akhir ayat, Allah menekankan bahwa pendengaran, penglihatan dan hati - yang merupakan channel kita dalam menerima informasi - akan dimintai pertanggungan-jawabnya di Akhirat. Bila pendengaran, penglihatan dan hati (yang menjadi channel dan motivasi dalam berbuat) dimintakan tanggung jawab, maka anggota tubuh lain (yang menjadi pelaksananya) akan menjadi saksi kelak di Akhirat:

Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (An-Nuur 24:24)

7. Adab dalam Berjalan dan Berkendara

  1. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

Allah SWT kemudian memberi tuntunan cara berjalan (dan berkendara) yang menunjukkan sikap rendah hati. Di ayat lain, akhlak ini disebutkan sebagai salah satu ciri "'ibaadurrahman" (hamba Tuhan Yang Maha Penyayang):

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (Al-Furqan 25:63)

Beberapa penerapan yang sesuai dengan ayat ini adalah:

  • Berjalanlah dengan sederhana dan wajar. Tidak terlalu cepat, terlalu lambat atau dibuat-buat. Di ayat lain disebutkan:

    Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Luqman 31:19)

  • Gunakanlah pakaian yang tidak mencolok dan tidak mudah menjadi bahan gunjingan orang lain. Sesuaikan pakaian dengan adat kebiasaan masyarakat sekitar - dengan tetap menjaga batas kebolehan dan larangan syariat

  • Bila menggunakan kendaraan, kendarailah dengan wajar dan tidak tampak mencolok

  1. Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu.

Di sini Allah menegaskan bahwa tujuh hal di atas merupakah perbuatan yang amat dibenci - yang akan menghalangi seseorang masuk ke dalam surgaNya.

Dosa Terbesar: Menyekutukan Allah

  1. Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).
  2. Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).
  3. Dan sesungguhnya dalam Al-Qur'an ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).
  4. Katakanlah, "Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 'Arsy".
  5. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.

Ayat 39-44 menerangkan khusus mengenai dosa terbesar, yakni menyekutukan Allah dengan apa pun. Dosa ini tidak terampuni / habis oleh api neraka, pelakunya akan kekal di dalam neraka, kecuali sudah bertaubat sebelum meninggal. Dipaparkan di ayat berikut:

Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda'wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Maryam 19:90-91)

Termasuk di dalamnya dosa musyrik ini adalah:

  • Tidak mengadakan tuhan-tuhan lain yang disandingkan dengan Allah SWT atau sebagai perantara kepada Allah SWT (39)
  • Tidak memperanakkan Allah, meyakini bahwa Allah memiliki anak laki-laki atau mengambil anak perempuan dari para Malaikat (40)

Di ayat lain dijelaskan bahwa perilaku syirik ini akan menghapuskan amal:

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." (Az-Zumar 39:65-66)

Dia yang Maha Sempurna, Dia yang Maha Penyantun lagi Maha Pengampun

  1. Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Bahasan mengenai tujuh perbuatan yang sangat dibenci di atas dan menyekutukan Allah ditutup dengan penjelasan bahwa seluruh dzat yang ada di bumi dan langit - baik yang tampak maupun yang tidak tampak, baik yang berukuran sangat besar seperti gugusan galaksi maupun kecil sebesar atom sekalipun, semuanya bertasbih kepada Allah tanpa kecuali. Hanya saja manusia tidak dapat mengerti dan mendengarnya. Sebagian ulama seperti Ar-Razi berpendapat bahwa tasbih benda-benda mati adalah majasi, atau tasbih dilaalah, yakni keberadaan mereka menunjukkan adanya Allah. Namun menurut al-Qurthubi dan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini benar-benar bertasbih berdasarkan ayat berikut:

Bersabarlah atas apa yang mereka katakan; dan ingatlah akan hamba Kami, Daud yang mempunyai kekuatan; sungguh dia sangat taat (kepada Allah). Sungguh, Kamilah yang menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud as) pada waktu petang dan pagi. (Shaad 38:17-18)

Pendapat ini juga diperkuat oleh sabda Nabi saw:

Tidak ada jin, manusia, pohon, batu, tanah kering dan segala sesuatu yang mendengar suara muazin, kecuali menjadi saksi baginya pada hari Kiamat kelak (HR Ibnu Majah dan Malik)

Bagian akhir ayat 44, dinyatakan bahwa:

Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (44)

Maknanya, walaupun Allah SWT memiliki kekuasaan yang maha luas dan sempurna, yang meliputi segala yang ada di bumi dan langit, namun sesungguhnya Dia juga Tuhan yang Maha Penyantun (yang menangguhkan siksaNya untuk memberi kesempatan hambaNya bertaubat) dan Maha Pengampun kepada hambaNya yang lemah dan tidak dapat lepas dari khilaf dan dosa. Implisit melalui ayat ini Allah juga berpesan bahwa sekalipun seorang hamba melakukan ketujuh dosa di atas - bahkan termasuk dosa syirik sekalipun, namun selama dia memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah SWT, maka dosa-dosanya tersebut akan diampuni Allah SWT.

Katakanlah, “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Az-Zumar 39:53)

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk pun; akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (Fatir 35:45)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: mohammad alizade

Diselesaikan pada 20211227


  1. Adapun hadits "balighul anni walaw ayah - sampaikanlah dari diriku (Rasulullah) walaupun satu ayat." Satu ayat yang kita sampaikan adalah satu ayat yang kita mengetahui ilmunya, dimana pemahaman suatu ilmu baru dikatakan sempurna bila sudah diamalkan. Pengamalan (yang didahului dengan mengetahui syarat, rukun, hukum dan hikmahnya) inilah yang dimaksudkan ayat 36 di atas sebagai “mempunyai pengetahuan tentangnya.”
    Hal yang sama juga berlaku ketika menyampaikan (forward) tausiah seorang Ustadz, kita hindari forward tausiah tersebut sampai kita menguasai ilmunya dan sudah mengamalkannya secara istiqamah.
    Hal ini juga berlaku bagi Ustadz tersebut dalam berdakwah. Dia sebaiknya membatasi materi dakwahnya pada hal-hal yang dia kuasai ilmunya dan sudah diamalkan secara istiqamah. ↩︎