Al Maaidah 5 : 104-115
- Apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab, "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.
- Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Masih melanjutkan perilaku kaum musyrik yang mengharamkan 4 jenis hewan karena sudah menjadi tradisi, ayat 104 menjelaskan penolakan mereka terhadap syariat Allah dengan mengatakan, “Cukuplah apa yang diajarkan oleh orangtua dan nenek moyang kami terdahulu”.
Secara umum, Allah kemudian memerintahkan kepada kita – orang beriman untuk menjaga diri dengan saling menasihati sesama orang beriman dalam melaksanakan ketaatan kpd Allah agar tidak terpengaruh oleh tradisi kaum musyrik (105). Dalam salah satu hadits diriwayatkan, ketika Rasulullah ditanya makna ayat ini, beliau berkata,
Jika manusia melihat sebuah kemungkaran tetapi tidak mau mengubahnya, maka Allah hampir saja meratakan siksaNya kepada mereka semua (HR Imam Ahmad)
Hukum mengenai Kesaksian dan Wasiat
- Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu, "(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa".
- Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) membuat dosa, maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah, "Sesungguhnya persaksian kami labih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang yang menganiaya diri sendiri".
- Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Ayat 106-108 menjelaskan beberapa hukum mengenai kesaksian dan wasiat:
- Anjuran utk berwasiat - baik dalam perjalanan maupun tidak
- Menghadirkan saksi dalam berwasiat
- 2 orang saksi harus muslim dan adil
- Non muslim dibolehkan dalam kondisi darurat dan dibutuhkan
- Dibolehkannya menahan orang yang memiliki kewajiban menunaikan sebuah hak (spt karena utang dan qishash)
- Diperbolehkannya pelapor membela diri atau mendapatkan haknya dengan bersumpah
- Dalam masalah warisan, ahli waris yang paling berhak diterima sumpah/kesaksiannya adalah yang paling dekat hubungannya dengan si mayat.
Pertanggungjawaban Rasul kepada Allah
- (Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka), "Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?". Para rasul menjawab, "Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib"
Ayat 109 menjelaskan adanya sesi tanya jawab antara Allah dengan para RasulNya, mengenai apa yang sdh mereka sampaikan dan bagaimana hasil dakwah mereka. Hal ini dijelaskan di bbrp ayat lain:
Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami) (Al A’raaf 7:6)
Salah satu dialog nya adalah ketika Allah bertanya kepada Nabi Isa as di ayat 116:
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (Al Maaidah 5:116)
Mukjizat Nabi Isa as
- (Ingatlah), ketika Allah mengatakan, "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata, "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata".
- Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku". Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)".
Allah kemudian menerangkan beberapa mukjizat Nabi Isa as (110-111):
- Berbicara ketika masih bayi
- Menerima hikmah, Taurat dan Injil
- Membuat burung hidup dari tanah liat
- Menyembuhkan orang yang buta sejak lahir
- Menyembuhkan sakit kusta
- Menghidupkan orang mati
- Diselamatkan dari kepungan Bani Israil yang ingin membunuh beliau
Menurut riwayat, banyaknya mukjizat Nabi Isa terkait dengan kesehatan dan kematian adalah untuk mengungguli ilmu kedokteran yang pada saat itu sedang berkembang.
Peristiwa Al Maaidah
- (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata, "Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?". Isa menjawab, "Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman".
- Mereka berkata, "Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu".
- Isa putera Maryam berdoa, "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama".
- Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia".
Ayat 112-115 menceritakan kisah permintaan pengikut Isa as (Al Hawariyyun) untuk diturunkan hidangan dari langit untuk menambah keimanan dan agar hati mereka tenang (mantap).
Permintaan ini sebenarnya kurang pantas karena seperti meragukan Allah dan Nabi Isa, padahal mereka sudah beberapa kali menyaksikan mukjizat Isa as sebelumnya dan ini permintaan yang mirip diminta kepada Nabi Musa as (manna-salwa). Tetapi karena didesak akhirnya Nabi Isa pun berdoa dan dikabulkan oleh Allah dengan syarat, siapa yang masih kafir setelah itu (turunnya hidangan), maka sungguh Allah akan mengazabnya dengan azab yang tdk pernah Allah timpakan kpd seorang pun di antara umat manusia (seluruh alam)
Para mufasir seperti ar-Razi, Zamakhsari, Thabari, dan Ibnu Katsir banyak berpendapat mengenai detail peristiwa ini. Seperti diturunkan sekaligus dengan mejanya, dengan penutup kain warna merah dan terjadi pada hari minggu serta diperingati sebagai hari raya setelah mereka berpuasa 30 hari.
Dalam sebuah hadits yang disebutkan oleh Imam as-Suyuthi, hidangan itu turun dari langit berupa roti dan daging ikan. Mereka diperintahkan untuk tidak berbuat khianat atau menyimpannya untuk besok. Lalu mereka melanggarnya shg mereka diubah menjadi kera dan babi. Wallahu a’lam.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.