Al Mu'minuun 23 : 74-118
Mereka yang Mengingkari Kehidupan Akhirat
- Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus).
Kepercayaan akan kepastian adanya akhirat sangat penting. Orang yang mengingkarinya dikatakan sebagai tersesat dan menyimpang jauh dari jalan lurus (74).
Di dalam banyak ayat disebutkan mengingkari kehidupan akhirat sebagai salah satu sebab utama dan pangkal kekafiran:
(Orang beriman adalah) orang-orang yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, serta mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). (An Naml 27:3-4)
Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, niscaya kesal hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati. (Az Zumar 39:45)
Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya. (Al Israa’ 17:45-46)
- Andaikata mereka Kami belas kasihani, dan Kami lenyapkan kemudharatan yang mereka alami, benar-benar mereka akan terus menerus terombang-ambing dalam keterlaluan mereka.
- Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.
- Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu tempat azab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa.
Ayat berikutnya menjelaskan kerasnya penolakan mereka terhadap adanya kehidupan akhirat, sehingga digambarkan bahkan kalau pun Allah mengangkat kesulitan mereka dan melapangkan kehidupan mereka di dunia, hati mereka tidak akan berubah menjadi beriman, tidak akan tunduk meyakini akhirat dengan merendahkan diri kepada Allah SWT (75-76). Barulah ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka akan spontan putus harapan terhadap akhir kehidupan mereka di neraka (77).
Allah adalah Tuhan yang Menciptakan Alam Semesta
- Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.
- Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang biakkan kamu di bumi ini dan kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan.
- Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?
Allah menegaskan Dia sebagai Dzat yang menciptakan dan mengatur manusia dan alam semesta, yang dijelaskan mulai dari yang paling dekat dengan manusia (organ tubuh dan hati hingga alam semesta) sebagai berikut:
-
Dialah yang menciptakan segala yang ada pada diri manusia termasuk organ2 utama: pendengaran, penglihatan dan hati. Allah mengingatkan agar mensyukuri nikmatNya (78).
-
Dialah yang menciptakan manusia secara individu dan menjadikan anak keturunan yang hidup di berbagai tempat. Allah mengingatkan bahwa kita semua – seluruh generasi – akan dikumpulkan menghadap Allah (79).
-
Dialah yang mengatur alam semesta beserta proses2 di dalamnya, termasuk proses kehidupan dan kematian, serta proses pertukaran siang dengan malam. Allah mengingatkan kita untuk menjadi Ulil Albab, Scientist / Eksplorer yang mentadabburi dan meneliti fenomena alam ini (80), sebagaimana diterangkan di ayat berikut:
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Al Imran 3:191)
Mereka yang Tidak Percaya akan Kebangkitan pada Hari Akhir
- Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan yang diucapkan oleh orang-orang dahulu kala.
- Mereka berkata, "Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?
- Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!"
Ayat 81-83 menerangkan mengenai mereka yang tidak percaya bahwa Allah akan membangkitkan manusia yang telah mati nanti di hari akhir. Keraguan ini disebutkan beberapa kali di dalam Al-Qur'an sbb:
Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat? (An Nazi’at 79:11)
Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan (kembali)? (Ash Shaffaat 37:16, 53)
Dan mereka berkata, “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” (Al Israa’ 17:49)
- Katakanlah, "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?"
- Mereka akan menjawab, "Kepunyaan Allah". Katakanlah, "Maka apakah kamu tidak ingat?"
- Katakanlah, "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?"
- Mereka akan menjawab, "Kepunyaan Allah". Katakanlah, "Maka apakah kamu tidak bertakwa?"
- Katakanlah, "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?"
- Mereka akan menjawab, "Kepunyaan Allah". Katakanlah, "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?"
- Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.
Kepada mereka ini, Allah memberikan argumen bahwa proses membangkitkan manusia itu sangat mudah dibandingkan dengan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang lain, yakni:
- Dialah Allah yang memiliki bumi dan segala isinya (84-85)
- Dialah Allah yang memiliki 7 lapis langit dan ‘Arsy yang besar (86-87)
- Dialah Allah yang Maha Kuasa, yang kekuasaanNya meliputi segala sesuatu, dan Maha Melindungi makhlukNya (88-89)
- Dialah Allah yang mengutus para Rasul yang menerangkan ayat2Nya dan memberi bukti dalam bentuk berbagai mukjizat (90)
Mudahnya Allah membangkitkan manusia dari tulang belulang ini dijelaskan juga di ayat lain sebagai berikut:
Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Luqman 31:28)
Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (An Naazi’aat 79:13-14)
Di ayat lain, dijelaskan juga, bahwa sebenarnya proses dibangkitkannya makhluk hidup yang sudah mati pun sudah terjadi saat ini di dunia, dalam bentuk kembali tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan dari tanah mati yang tandus:
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Al A’raaf 7:57)
Argumentasi adanya Tuhan yang Maha Esa
- Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,
- Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nampak, maka Maha Tinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan.
Ayat berikutnya menjelaskan argumentasi rasio bahwa tidak mungkin ada Tuhan lebih dari satu; karena bila demikian, setiap tuhan akan memiliki ciptaannya masing-masing, dan mereka akan berperang satu sama lain (91). Hal ini diterangkan juga di ayat lain:
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (Al Anbiyaa’ 21:22)
Dijelaskan pula, Tuhan yang Maha Esa itu pastilah Dzat yang mengetahui segala sesuatu yang tidak tampak maupun yang tampak oleh manusia (92).
Sikap Rasululllah SAW Menghadapi Perlakuan Kaum Musyrik Mekkah
- Katakanlah, "Ya Tuhanku, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancamkan kepada mereka,
- ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim".
- Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka.
- Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.
- Dan katakanlah, "Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.
- Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku"
Ayat berikutnya menjelaskan Rasulullah SAW yang memohon agar umatnya (termasuk kaum musyrik Mekkah) tidak disiksa selama beliau berada di tengah-tengah mereka, betapa pun kerasnya mereka menentang dakwah beliau (93-95)
Menghadapi perlakuan buruk dari kaum Musyrik Mekkah, Allah memerintahkan beliau:
-
Membalasnya dengan tindakan yang lebih baik seperti memaafkan, karena akan membawa perdamaian, saling menyayangi dan empati (96) sebagaimana dijelaskan juga di ayat berikut:
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Fushshilat 41:34)
Sebagai tambahan, di Tafsir Jalalayn disebutkan bahwa ayat ini diturunkan di Mekkah sebelum ayat perintah berperang, dimana berarti bila kezaliman sudah menjadi-jadi, maka diperintahkan umat Islam untuk melakukan perlawanan melalui jihad perang.
-
Memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan syetan dan perbuatan jahat mereka (kaum Musyrik Mekkah) (97-98)
Keadaan Manusia Setelah Mati
Ayat berikutnya menerangkan keadaan manusia pada fase-fase menjelang dan setelah kematiannya:
- (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),
- agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.
-
Ketika kematian datang. Disebutkan bahwa orang yang kafir akan menyesali dirinya dan meminta dikembalikan ke dunia utk beramal (99-100) sebagaimana juga diterangkan di ayat berikut:
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (Al Munaafiquun 63:10)
Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim, “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.”… (Ibrahim 14:44)
Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (As Sajdah 32:12)
-
Di hari Kiamat, manusia akan dibangkitkan dan diperhitungkan amal perbuatannya (101-103)
- Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.
- Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.
- Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.
-
Manusia akan menerima balasannya dalam bentuk nikmat surga dan siksa neraka.
- Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.
- Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?
- Mereka berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat.
- Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim".
- Allah berfirman, "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.
- Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia), "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.
- Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka,
- Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang".
- Allah bertanya, "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?"
- Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung".
- Allah berfirman, "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui"
- Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?
Para penghuni neraka akan mengakui kesalahan mereka dan berdoa agar dikeluarkan dari neraka, namun doa mereka ditolak oleh Allah (104-108). Allah kemudian mengatakan kepada mereka, betapa ruginya mereka karena waktu dunia itu amat singkat dibandingkan akhirat (dunia hanya seperti ½ – 1 hari dibandingkan akhirat). Kalau saja mereka tahu dunia itu sangat singkat, sudah pasti tentu mereka akan beriman (112-114).
Mengenai perbandingan waktu dunia dan akhirat ini digambarkan di ayat lain sbb:
Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (Al Hajj 22:47)
Sedangkan mereka yang beriman dan beramal saleh, yang dulu menjadi bahan ejekan orang-orang kafir, Allah memasukkan mereka ke dalam surga karena kesabaran mereka (109-111).
Seharusnyalah kita menyadari bahwa tidak mungkin Allah menciptakan manusia sia-sia tanpa maksud dan tanpa diperhitungkan amal perbuatannya (115).
- Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.
- Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.
- Dan katakanlah, "Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik".
Terakhir, Allah menutup gambaran kondisi akhirat ini dengan penegasan bahwa Dialah Tuhan yang Maha Tinggi (Yang menciptakan dan menghancurkan, Yang menghidupkan dan mematikan), yang Maha Esa, yang memiliki ‘Arsy yang mulia (116). Dia akan memberikan balasan siksa kepada mereka yang menyekutukanNya (117), dan memberi ampunan dan rahmat kepada hamba yang memohon ampun dan merendahkan diri di hadapanNya (118).
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.