Al-Muzammil 73 : 8-20
Refleksi Perjuangan Dakwah Rasulullah saw
- Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.
- (Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.
- Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.
Di awal dakwah Nabi saw di Mekkah, Allah SWT memberikan bekal berupa kesiapan ruhani sebagai berikut:
- Melaksanakan ibadah dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan (8). Yakni bangun malam, sholat Tahajud dan membaca Al-Qur’an secara perlahan serta merenungkan maknanya
- Memurnikan ketauhidan, hanya menyembah semata kepada Allah SWT, Tuhan yang menguasai seluruh penjuru bumi dan langit (9)
- Menghadirkan Allah SWT setiap saat sebagai Dzat Yang Maha Melindungi kita dari segala bahaya dan keburukan (9)
Di samping kesiapan ruhani, Allah SWT juga membekali Rasulullah dengan kesiapan mental sebagai berikut:
- Bersabar atas ucapan, cemoohan dan perbuatan orang-orang yang masih belum menerima seruan Islam (10)
- Menjauhi dan menyelamatkan diri dengan cara yang baik bila mereka melakukan hal-hal yang membahayakan jiwa Nabi saw dan umat Islam (10)
- Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar.
- Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala.
- Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih.
- Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan.
Allah SWT kemudian menegaskan bahwa mereka yang menentang akan menerima adzab di hari Akhir, walaupun mereka tampak menang menghadapi Nabi saw dan kaum Muslim di dunia. Pada saat ayat ini turun, Nabi saw dan umat Islam belum diperintahkan untuk melawan dan memerangi mereka karena pada masa awal tersebut kekuatan kaum Muslim masih sangat lemah.
- Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir'aun.
- Maka Fir'aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.
- Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban.
- Langit(pun) menjadi pecah belah pada hari itu. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana.
Kepada kaum kafir Mekkah, Allah SWT menantang logika cara berpikir mereka.
-
Bahwasanya diutusnya seorang Rasul adalah hal yang sudah pernah terjadi (15). Mereka (kaum kafir Mekkah) sudah lama mengetahui dan meyakini kisah para Rasul terdahulu seperti Musa as
-
Bahwasanya mereka pun tahu bahwa setiap penentang Rasul pasti kalah, sebagaimana Fir’aun yang dikalahkan Allah SWT walaupun kekuasaan Fir’aun jauh lebih besar daripada kaum Kafir Mekkah (16)
-
Maka atas dasar apa kaum Kafir Mekkah ini tidak mengikuti seruan Nabi saw? Atas dasar apa pula mereka yakin dapat mengalahkan pertolongan Allah SWT kepada RasulNya? (17) Padahal Allah SWT sudah berjanji di ayat berikut untuk menolong RasulNya dan Dia tidak pernah mengingkari janjiNya (18):
Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu. (Al-An'am 6:34)
- Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya.
Di akhir rangkaian ayat di atas, Allah SWT menegaskan bahwa kisah para Rasul dengan umatnya tidak lain menjadi peringatan bagi umat-umat di kemudian hari, agar mereka selalu mengingat risalah Tauhid yang dibawa oleh Rasul utusan Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Dihapuskannya Kewajiban Qiyamul-Lail
- Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sholat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang sedang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari Saad bin Hisyam dari Aisyah ra, turunnya surah Al-Muzammil ini awalnya merupakan perintah wajib melaksanakan sholat Tahajud. Hal ini dilaksanakan oleh umat Islam saat itu. Sebagian sahabat melaksanakannya dengan sungguh-sungguh hingga mereka sholat sepanjang malam, sedangkan sebagian lainnya mengerjakan dengan susah payah. Akhirnya setelah berjalan 12 bulan, diturunkanlah ayat terakhir di atas yang mengubahnya menjadi sholat sunnah bagi umat Muslim. Sementara bagi Rasulullah saw, qiyamul-lail tetap menjadi kewajiban hingga beliau wafat.
Allah SWT juga menerangkan di ayat lain bahwa ajaran Islam bukanlah diturunkan untuk membuat kehidupan menjadi susah dan berat:
Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Al-Hajj 22:78)
Adapun keringanan tidak mengerjakan Qiyamul-lail ini disebutkan pada ayat 20 disebabkan oleh hal-hal berikut:
- Kondisi sakit
- Kondisi fisik dan keterbatasan waktu karena bekerja
- Mereka yang sedang berperang membela kebenaran di jalan Allah
Allah SWT kemudian mengingatkan kaum Muslim agar tidak meninggalkan ibadah-ibadah utama yang lain, yakni:
- Mendirikan sholat fardlu 5 waktu dan sholat sunnah yang lain
- Menunaikan zakat
- Menyisihkan sebagian harta yang baik sebagai infaq, yang diibaratkan sebagai pinjaman kepada Allah
Di akhir ayat 20, Allah SWT juga menenangkan kaum Muslim agar tidak berkecil hati bagi yang belum dapat melaksanakan ibadah qiyamul-lail ini karena amal kebaikan sekecil apa pun pasti akan mendapatkan balasan kebaikan pahala terbaik dari Allah SWT.
Kita juga diperintahkan memperbanyak istighfar karena sesungguhnya Allah SWT Maha Mengampuni segala kekhilafan dan keterbatasan manusiawi hambaNya. Juga Dia Tuhan Yang Maha Penyayang kepada hambaNya yang beriman dan bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah sesuai perintahNya.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa qiyamul-lail (sholat malam dan membaca Al-Qur’an pada tengah malam) sangat dianjurkan untuk dilaksanakan semampu kita.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.
Photo credit: Juliana
Diselesaikan pada 20200820