Ar Ra'ad 13 : 16-29

Perumpamaan Mereka yang Mempersekutukan Allah

Ayat 16 menceritakan orang-orang yang mengambil tuhan-tuhan lain selain Allah dengan harapan tuhan-tuhan tandingan tersebut akan melindungi mereka dari musibah dan bencana alam (kalau di Indonesia, contohnya seperti praktek memberi sesajen/melarung agar panen berhasil dll). Allah menegaskan betapa tidak pantasnya mereka menuhankan sesuatu yang sama sekali tidak berkuasa dan tidak dapat mendatangkan manfaat melainkan hanya atas izin Allah.

Mereka ini dijelaskan di dalam 2 perumpamaan berikut (16):

  1. Orang yang buta, yakni mereka yang hatinya buta, dibutakan dari menerima kebenaran, sebagaimana digambarkan di ayat berikut:

    Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj 22:46)

    Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). (Ar Ruum 30:53)

  2. Orang yang berjalan dalam kegelapan, yakni mereka yang panca-indera dan kemampuan berpikirnya sudah tertutup atau menolak berpikiran terbuka dan jernih menerima kebenaran (risalah Tauhid).

    Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (An Nuur 24:40)

Kemudian Allah menerangkan amal-amal mereka yang musyrik ini juga dengan perumpamaan berikut (17):

  1. Buih yang muncul dari air yang mengalir. Yakni amal yang seharusnya membawa kebaikan bagi mereka yang mengerjakannya (air yang mengalir) tetapi karena kemusyrikan mereka, akhirnya amal tsb sia-sia menjadi hanya buih yang tidak berarti dan tidak bermanfaat di akhirat.

  2. Buih yang muncul dari logam yang dicairkan. Amal yang seharusnya membawa manfaat bagi yang mengerjakan (logam yang bermanfaat untuk perhiasan dan alat-alat) tetapi ternyata menjadi seperti buih yang tidak ada manfaatnya karena tidak didasari oleh ketauhidan kepada Allah

Allah pun menggambarkan perasaan menyesal mereka ini di akhirat, sehingga disebutkan, kalau saja mereka memiliki kekayaan sepenuh isi bumi dan ditambahkan lagi sebesar isi bumi itu, mereka rela menukarnya agar bisa selamat dari siksa neraka Jahanam (18).

Allah kemudian menegaskan bahwa mereka yang buta terhadap kebenaran ini sebenarnya karena mereka tidak menggunakan akal rasio mereka untuk mengakui bahwa bisa jadi sesuatu yang selama ini diyakini benar ternyata tidak benar, bahwa bisa jadi apa yang diserukan oleh para Nabi dan Rasul adalah kebenaran yang sebenarnya (19). Mereka yang menggunakan akal ini disebut sebagai Ulul Albab yang diterangkan pada ayat selanjutnya.

Ciri Orang yang Berakal (Ulul Albab)

Allah menjelaskan mereka yang tidak buta dan berakal ini memiliki ciri berikut:

  1. Mereka memenuhi janji Allah, mengikuti fitrah mereka, janji tauhid mereka ketika di alam ruh (20), yakni:

    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:,“Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Al A’raaf 7:172)

  2. Mereka tidak cedera janji, melanggar perjanjian dan kesepakatan dengan org lain, seperti dalam jual beli dan bentuk muamalah lainnya

  3. Mereka mencintai sesama manusia, menjalin silaturrahmi dengan sesama

  4. Mereka menjauhkan diri dari perbuatan dosa karena takutnya kepada Allah dan balasan di hari akhir kelak (21)

  5. Mereka sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan dengan berharap ridho Allah SWT

  6. Mereka mendirikan sholat, melaksanakan pada waktunya dan menyempurnakan rukun-rukunnya

  7. Mereka menginfakkan sebagian rezeki yang dikaruniakan mereka – baik terang-terangan maupun diam-diam tanpa riya’

  8. Mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, membalas perbuatan tidak baik orang lain kepada dirinya dengan perbuatan baik (22), sebagaimana diterangkan di ayat berikut:

    Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (Al Furqaan 25:63)

Allah menjelaskan di ayat berikutnya, bahwa mereka ini dijanjikan surga ‘Adn. Selain itu mereka diberi nikmat tambahan berupa dimasukkan ke dalam surga bersama-sama dengan orang-orang terdekat yang salih seperti orangtua, istri/suami dan anak cucu mereka sambil disambut salam dan doa dari para malaikat (23-24).

Selanjutnya, Allah menerangkan nasib kesudahan mereka yang menyekutukan Allah, melanggar janji tauhid mereka dengan Allah dan memutuskan silaturrahmi serta membuat kerusakan di dunia, yakni berupa nasib buruk di dunia dan siksa neraka di akhirat (25).

Kemudian kita diperintahkan juga agar tidak silau dengan kelapangan rezeki orang lain, termasuk kepada mereka yang kaya tetapi kafir serta membuat kerusakan, karena Allah sudah menetapkan rezeki bagi setiap manusia. Ditegaskan pula, bahwa sebaik-baiknya kesenangan di dunia adalah sangat sedikit jika dibandingkan dengan kesenangan nikmat di akhirat (26).

Ciri Orang yang Bertaubat

Allah menerangkan jalan-jalan hidayah bagi hambaNya yang ingin bertaubat sbb (27):

  1. Mereka beriman kepada Allah dengan iman yang benar

  2. Mereka membiasakan mengingat Allah. Setiap saat dzikrullah sehingga menenangkan jiwa mereka (28). Disebutkan di ayat lain,

    Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun. (Az Zumar 39:23)

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Al Anfaal 8:2)

  3. Mereka melakukan amal saleh karena keimanan mereka kepada Allah SWT (29)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab