Berbakti kepada Orangtua

Berbuat Baik dan Merendah kepada Orangtua

Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orangtuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Al-‘Ankabut 29:8)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. (Al-Isra' 17:23)

Manusia diperintahkan untuk berbuat kebaikan kepada orangtuanya. Namun, tetap taat kepada Allah SWT adalah nomor satu. Jadi mereka boleh tidak diikuti bila mereka mengajak kepada mengingkari Allah SWT.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Al-Isra' 17:24)

Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia merangkul (dan menyiapkan tempat untuk) kedua orangtuanya seraya berkata, “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” Dan dia menaikkan kedua orangtuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (Yusuf 12:99-100)

Tidak hanya berbuat baik, melainkan juga merendahlah di hadapan mereka. Buat mereka bangga dengan kita. Buat mereka aman dan nyaman bersama dengan kita. Kasih sayangi mereka seperti kita menyayangi anak kita sendiri.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. (Luqman 31:14)

Berbuat baik kepada orangtua, diutamakan dan harus eksklusif kepada ibu, karena pengorbanan ibu yang eksklusif dalam mengasuh sejak di dalam kandungan hingga lahir, disusui selama dua tahun.

Bersyukur dan Passive Income Pahala

Di dalam surah Al-Ahqaf 46:15-19 diterangkan mengenai bersyukur kepada Allah SWT yang disandingkan dengan bersyukur kepada orangtua sebagai salah satu amal yang utama.

  1. Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”

Bersyukur diperintahkan tidak hanya kepada Allah SWT (pertama), melainkan (kedua) kepada orangtua. Jalan untuk bersyukur tidak selalu mudah sehingga kita diperintahkan untuk berdoa, memohon pertolongan agar ditunjukkan jalan-jalan cara untuk:

  1. Bersyukur kepada Allah SWT
  2. Bersyukur kepada orangtua
  3. Berbuat kebajikan yang diridhai Allah - agar istiqamah, tepat sasaran, menjadi kebaikan
  4. Beramal jariah, yakni amal kebajikan yang pahala dan manfaatnya mengalir terus sampai ke anak-cucu (passive income pahala)
  1. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima amal baiknya yang telah mereka kerjakan dan (orang-orang) yang Kami maafkan kesalahan-kesalahannya, (mereka akan menjadi) penghuni-penghuni surga. Itu janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.

Maka bagi mereka yang melaksanakan berbuat baik kepada orangtua, bersyukur kepada Allah dan orangtua serta melakukan berbagai kebaikan di atas, Allah SWT menjanjikan:

  1. Amal dan pekerjaan/usaha yang diterima Allah SWT, usaha yang diridhoi Allah SWT
  2. Kesalahan dan dosa-dosa kecil yang diampuni dengan tidak mengurangi pahala
  3. Menjadi ahli surga
  1. Dan orang yang berkata kepada kedua orangtuanya, “Ah!” Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan (dari kubur), padahal beberapa umat sebelumku telah berlalu? Lalu kedua orangtuanya itu memohon pertolongan kepada Allah (seraya berkata), “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu benar.” Lalu dia (anak itu) berkata, “Ini hanyalah dongeng orang-orang dahulu.”
  2. Mereka itu orang-orang yang telah pasti terkena ketetapan (azab) bersama umat-umat dahulu sebelum mereka, dari (golongan) jin dan manusia. Mereka adalah orang-orang yang rugi.

Adapun mereka yang berbuat buruk kepada orangtua, walaupun sebatas ucapan mengeluh, "Ah!" sementara orangtuanya mengajak kepada kebenaran, dan bahkan mereka juga menolak beriman kepada Allah, maka mereka pasti mendapatkan azab di dunia (sebagaimana umat terdahulu). Dikatakan juga, mereka termasuk orang yang merugi karena hasil usaha di dunia tidak menghasilkan, juga di akhirat sama sekali tidak ada.

  1. Dan setiap orang memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan balasan amal perbuatan mereka dan mereka tidak dirugikan.

Allah SWT menegaskan bahwa perhitungan amal tidaklah sesederhana hitam-putih, bakti-durhaka, taat-ingkar, melainkan gradasi di antara ekstrim-ekstrim tersebut pun tetap diperhitungkan, seperti setengah bakti, seperempat durhaka, seperlima taat, sepersepuluh ingkar dst. Allah memastikan bahwa semua amal perbuatan dibalas sesuai tingkat-tingkatnya.

Yahya as dan Isa as yang Sangat Berbakti

”Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak, dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa, dan sangat berbakti kepada kedua orangtuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka. Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali. (Maryam 19:12-15)

Melalui Nabi Yahya as, kita dicontohkan profil manusia yang sangat berbakti kepada orangtuanya, plus:

  • Penyayang kepada sesama
  • Taat dan bertakwa kepada Allah
  • Low profile, tidak sombong
  • Tidak durhaka kepada Allah

Dia (Isa as) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam 19:30-33)

Melalui Nabi Isa as, kita juga dicontohkan sosok yang mirip dengan Nabi Yahya as, yakni berbakti kepada ibunya, plus:

  • Diberkahi Allah dimana saja berada
  • Taat kepada Alalh (melaksanakan sholat dan menunaikan zakat)
  • Low profile
  • Tidak durhaka kepada Allah (celaka)

Kepada kedua rasul ini, Allah menutup ayat di atas dengan kalimat, dan kesejahteraan bagi diri mereka pada hari lahirnya, hari wafatnya, dan hari dia dibangkitkan hidup kembali. Hal ini mungkin karena keduanya dibunuh - walaupun Nabi Isa as diselamatkan dengan diserupakan salah seorang muridnya dengan wajah Isa as.[1]

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Photo credit: Matt Bennett


  1. Sebagai tambahan informasi, Hal ini dijelaskan di ayat dan hadits berikut:
    Mereka mengatakan telah membunuhnya, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi diserupakan bagi mereka orang yang dibunuh itu dengan Nabi Isa as. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentangnya, yakni tentang Nabi Isa as benar-benar dalam keragu-raguan tentang hal, yakni pembunuhan, itu. Mereka tidak mempunyai sedikit pun pengetahuan menyangkut hal itu, yakni tentang pembunuhan Nabi Isa as, dan apa yang mereka katakan kecuali mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin. (An-Nisa' 4:157)
    Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ibnu Abbas di dalam tafsirnya:
    Ketika Allah hendak mengangkat Isa as ke langit, beliau menemui para muridnya, dan ketika itu di rumah ada 12 muridnya (al-Hawariyyun). Kemudian Isa as mengatakan, “Siapakah diantara kalian yang wajahnya digantikan seperti wajahku, lalu dia akan dibunuh menggantikan aku, dan dia akan mendapatkan surga yang derajatnya sama denganku.
    Lalu berdirilah seorang pemuda yang paling muda usianya, “Saya.”
    “Duduk.” Kata Isa as.
    Nabi Isa as mengulang lagi tawarannya, dan pemuda itu angkat tangan dan menyatakan “Saya.”
    Nabi Isa as tetap menyuruhnya untuk duduk. Pada kali yang ketiga, pemuda ini angkat tangan, “Saya.” Lalu Isa as mengatakan, “Baik, kamu orangnya.”
    Lalu dia diserupakan dengan Isa as dan Isa as diangkat melalui lubang angin yang ada di atap, menuju langit.
    Kemudian datanglah orang yahudi yang mencarinya, mereka langsung menangkap manusia yang mirip itu, dan langsung membunuhnya, lalu menyalibnya. ↩︎