Al-Qiyamah 75 : 1-40
Surah ini termasuk kelompok Makkiyah. Dinamakan Al-Qiyamah karena dimulai oleh sumpah Allah menggunakan hari Kiamat, yang menunjukkan kedahsyatannya, pembuktian kejadiannya dan penyesalan bagi mereka yang mengingkarinya.
Mereka yang Mengingkari Hari Kiamat
- Aku bersumpah demi hari kiamat,
- dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).
Allah SWT membuka surah ini dengan bersumpah atas dua peristiwa berikut yang bertujuan agar manusia benar-benar memperhatikannya:
- Datangnya hari Kiamat yang pasti (1)
- Penyesalan sebagian manusia di hari Kiamat (2)
Mereka yang menyesali (nafs al-lawwamah) pada ayat 2 di atas adalah karena mengingkari kedatangan hari Kiamat yang disebutkan terjadi dalam 3 tahapan:
- Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
- Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
- Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.
- Ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?"
- Tahap pertama, mengingkari bahwa Allah SWT akan membangkitkan mereka kembali hidup, bahkan menyusun kembali sempurna tulang-tulang dari jasad yang sudah lama mati dan membusuk (3-4)
- Tahap kedua, disebabkan mereka mengingkari peristiwa kebangkitan di Hari Akhir, maka mereka terus berbuat maksiat. Mereka menyangka apa pun yang dilakukan tidak akan dimintakan pertanggungjawaban di kemudian hari, serta menganggap kehidupan hanyalah sekali (5)
- Tahap ketiga, pada akhirnya mereka menolak sama sekali ide akan datangnya Hari Kiamat yang akan menghancurkan alam semesta seluruhnya (6)
Peristiwa Hari Kiamat (1)
- Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
- dan apabila bulan telah hilang cahayanya,
- dan matahari dan bulan dikumpulkan,
Pada ayat selanjutnya, Allah SWT menerangkan tiga ciri kedatangan Hari Kiamat, sebagai berikut:
-
Kiamat akan datang dengan tiba-tiba dan sangat menakutkan (7). Di dalam satu hadits, digambarkan kedatangan Kiamat ini:
Dan Kiamat benar-benar terjadi di kala dua orang lelaki baru saja merentangkan selembar kain antara keduanya, dan belum lagi sempat berjual-beli ataupun melipat kain itu. Dan Kiamat benar-benar terjadi di kala seseorang baru saja pulang dengan susu yang diperahnya, dan belum lagi sempat mencicipinya. Dan Kiamat benar-benar terjadi di kala seseorang baru saja mengangkat makanannya ke mulut dan belum lagi sempat memakannya. (HR Bukhari 9/59 dalam sebuah hadits yang panjang)
Di ayat lain digambarkan pula, berbagai reaksi ketakutan manusia sebagai berikut:
Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap mengingkari (datangnya) hari yang menjadikan anak-anak beruban? Langit terbelah pada hari itu. Janji Allah pasti terlaksana. (Al-Muzammil 73:17-18)
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya. (Al-Hajj 22:2)
-
Bulan tidak lagi bersinar (8). Di ayat lain, disebutkan pada saat itu langit tertutup oleh kabut asap:
Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata; yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. (Ad-Dukhan 44:10-11)
-
Matahari dan Bulan bertabrakan (9). Dijelaskan pula, di ayat lain bahwa pada saat itu matahari digulung, bintang berjatuhan dan langit pecah berwarna merah:
Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan (At-Takwir 81:1-2)
Langit menjadi pecah pada hari itu. Adalah janjiNya pasti terlaksana (Al-Muzammil 73:18)
Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi (berwarna) merah mawar seperti (kilapan) minyak (Ar-Rahman 55:37)
Pada saat itu, digambarkan manusia yang masih hidup mengalami berbagai peristiwa:
- pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat berlari?"
- sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!
- Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.
- Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
- Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri,
- meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
-
Mereka berlari tak menentu mencari perlindungan (10), namun usaha mereka sia-sia (11). Allah SWT bahkan menegaskan bahwa di hari itu tidak ada tempat berlindung bagi makhluk apa pun, selain hanya dengan kembali kepadaNya semata (12)
-
Manusia menerima catatan amal baik dan buruknya (13) dan menjadi saksi atas dirinya sendiri (14-15) walaupun lisannya membantah kesaksian tersebut, sebagaimana juga digambarkan di ayat lain:
"Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al-Isra' 17:14)
Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (An-Nur 24:24)
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yasin 36:65)
Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab, "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan." Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. (Fussilat 41:20-22)
Adab Mempelajari Al-Qur'an
- Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.
- Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
- Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
- Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.
Ayat selanjutnya menerangkan adab dan etika dalam mempelajari Al-Qur'an, sebagaimana diajarkan Allah SWT kepada Nabi saw sebagai berikut:
-
Bacalah Al-Qur'an dengan tuma'minah dan tenang. Satu demi satu diselesaikan dengan khusyu' dan kesempurnaan. Tidak terburu-buru dikejar target karena ingin cepat menguasai (16). Implisit ayat ini juga memerintahkan agar merefleksikan makna Al-Qur'an secara mendalam dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan maknanya.
-
Sadarilah bahwa hanya atas izin Allah SWT semata, seseorang mampu menghafalkan Al-Qur'an dan membacanya dengan lancar dan tartil (17). Tidaklah pantas memamerkan kefasihan dan hafalan Al-Qur'an (terkecuali untuk hal-hal tertentu) karena tidak lain kemampuan itu adalah rahmat dan karunia Allah SWT kepadanya.
-
Bacalah Al-Qur'an dengan mencontoh bacaan Rasulullah dan para Sahabat dahulu - sebagaimana juga Rasulullah mengikuti bacaan Jibril pada saat menerima wahyu (18). Menurut Ibnu Abbas ra, ayat ini juga memerintahkan agar kita tidak berhenti pada mengikuti bacaannya saja, melainkan juga mengamalkan isi dari ayat yang dibaca.
-
Sadari juga, bahwa hanya Allah lah yang memberi pengertian dan pemahaman atas makna dan kandungan ayat-ayat Al-Qur'an (19). Tidaklah patut seseorang mengumbar pemahaman atas makna ayat-ayat ini agar dia tampak lebih menguasai, lebih pintar atau untuk merendahkan orang lain.
Rangkaian ayat di atas juga menegaskan bahwa Rasulullah saw adalah utusan Allah, yang dijaga dari lupa, salah baca dan keliru memahami atas ayat Al-Qur'an yang diwahyukan kepada beliau.
Peristiwa Hari Kiamat (2)
- Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,
- dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.
- Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
- Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
- Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,
- mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.
Melanjutkan kembali peristiwa Kiamat, diterangkan bahwa sebab utama manusia mengingkari kedatangan Hari Kiamat adalah karena kecintaan terhadap kehidupan dunia dan membenci kehidupan Akhirat (20-21).
Digambarkan pula di hari Kiamat, ada orang-orang yang berwajah cerah berseri (22) dan diberi priviledge untuk dapat memandang langsung wajah Allah SWT sebagai karunia Allah kepada mereka (23). Namun ada pula yang berwajah muram (24) dan sangat pesimis karena sudah mengetahui akan mendapatkan siksa di Akhirat (25). Hal ini juga digambarkan di ayat lain berikut:
Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. Dan mereka berkata, "Aduhai celakalah kita!" Inilah hari pembalasan. (Ash-Shafat 37:19-20)
Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah. (Al-Muddatstsir 74:8-10)
Argumentasi atas Mereka yang Mengingkari Hari Kiamat
- Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan,
- dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan?",
- dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia),
- dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan),
- kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.
- Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat,
- tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran),
- kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong).
Pada ayat-ayat selanjutnya, diterangkan dua argumentasi yang menantang logika dari mereka yang berkeras mengingkari Hari Kiamat / Hari Kebangkitan.
Argumentasi Pertama: Analogi Kiamat dengan Sakaratul Maut
Ayat 26-33 menjelaskan peristiwa sakaratul maut yang pasti akan dialami oleh setiap manusia. Kalau kita perhatikan maka tampak simetris susunan ayat Al-Qur'an dalam menjelaskan sakaratul maut ini dengan penjelasan Hari Kiamat pada awal surah sebelumnya (ayat 7-13):
| Peristiwa Kiamat | Analogi Peristiwa Sakaratul Maut |
|---|---|
| Maka apabila mata terbelalak (ketakutan) (7) | Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan (26) |
| Pada hari itu manusia berkata, "Ke mana tempat berlari?" sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! (10-11) | Dan dikatakan (kepadanya), "Siapakah yang dapat menyembuhkan?" Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia) dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan) (27-29) |
| Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya (12-13) | Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al-Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong) (31-33) |
Implisit di sini, Allah mempertanyakan logika rasional kita:
- Bagaimana mungkin alam semesta tidak ada batas akhir keberadaannya, sementara semua yang ada di dalamnya, termasuk manusia - memiliki usia hidup yang terbatas (fana). Maka tiada lain, pastilah suatu saat alam semesta ini mencapai akhirnya, yang dikenal sebagai Kiamat
- Bagaimana mungkin manusia tidak gentar dan mengingkari Hari Kiamat ini, padahal mereka sudah menyaksikan berkali-kali pada diri orang lain, dan pasti dirinya akan mengalami Kiamat kecil sakaratul maut yang mirip dengan peristiwa Kiamat besar kehancuran alam semesta? Maka mengapa masih tetap menolak kepastian datangnya Hari Kiamat?
- Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu,
- kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu.
- Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?
Allah SWT kemudian memperingatkan kembali, betapa besar kerugian dan penyesalan yang mereka alami ini, dengan menyatakan "Kecelakaan bagimu (orang-orang kafir)" yang diulang sampai 4 kali pada ayat 34-35. Na'udzubillah min dzaalik.
Argumentasi Kedua: Proses Penciptaan dan Tumbuh-Kembang Makhluk
- Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),
- kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,
- lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.
- Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
Ayat selanjutnya menjelaskan bagaimana perkembangan manusia yang berasal dari sperma yang berkembang di dalam rahim, menjadi segumpal darah hingga berkembang menjadi manusia sempurna dan berpasangan sehingga proses ini diulang kembali dari awal (37). Hal ini dijelaskan lebih detail pada ayat berikut:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) (1) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan (2) kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Al-Hajj 22:5)
Di ayat lain, sebagaimana akhir ayat di atas, diterangkan proses tumbuh-hidupnya rumput dan pepohonan dari tanah yang tandus tidak berkehidupan sebagai proses yang mirip dengan kebangkitan manusia kelak di hari Akhir:
Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (Az Zukhruf 43:11)
Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). (Ar-Rum 30:19)
Sebenarnya peristiwa dibangkitkannya manusia dari matinya pernah terjadi pada masa Nabi Musa as (kisah Al-Baqarah) sebagaimana disebutkan pada ayat berikut:
Lalu Kami berfirman, "Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!" Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti. (Al-Baqarah 2:73)
Di sini, Allah SWT pada ayat penutup surah ini, seakan-akan kembali mempertanyakan logika rasional kita,
"Bukankah (Allah yang menciptakan manusia dari setetes mani) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (40).
Atau dengan kata lain,
Bukankah sangat masuk akal, bahwa Pencipta segala sesuatu dengan daya cipta yang hebat ini tentulah tidak sulit bagiNya untuk menghidupkan kembali salah satu ciptaanNya (manusia) yang sebelumnya pernah hidup?
Inilah yang mungkin dimaksudkan Allah SWT ketika meminta kita merenungkan kebenaranNya dengan memperhatikan tanda-tanda kebesaran dan kehadiranNya yang terbentang di alam semesta, termasuk di dalam diri kita - manusia sendiri:
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin; dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Az-Zariyat 51:20-21)
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.
Photo credit: Joseph Barrientos
Diselesaikan pada 20190117