Meneladani Daud as

Al-Qur'an menyebutkan Daud sebagai sosok yang dianugerahi kerajaan, hikmah, kebijaksanaan,[1][2] diberi petunjuk,[3] ilmu,[4] hamba Allah yang taat dan memiliki kekuatan,[5] dan raja yang memiliki kedudukan yang dekat di sisi Allah dan ahli surga.[6] Masa hidupnya diperkirakan 1040–970 SM.

Daud as digambarkan dikaruniakan Allah dengan berbagai keutamaan sebagai berikut:

1. Pemberani dan memiliki fisik yang kuat

Hal ini tampak dalam kisah Daud yang berhasil mengalahkan Jalut. Ketika itu Raja Thalut berperang melawan Jalut yang terkenal kuat dan tak terkalahkan. Saat suasana di medan perang semakin genting, Raja Thalut pun membuat sayembara, “Barang siapa yang dapat mengalahkan Jalut, maka dia akan kuangkat sebagai anak menantu yang akan mewarisi tahta kerajaan.”

Mendengar pengumuman itu, Daud yang kala itu masih remaja mengajukan diri untuk melawan Jalut. Daud pun berhasil mengalahkan Jalut dengan melontarkan batu yang kemudian melesat dengan cepat. Batu itu tepat mengenai dahi Jalut yang menyebabkan dia meninggal saat itu juga.

Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan (sesudah meninggalnya Thalut) dan hikmah serta mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (Al-Baqarah 2:251)

Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). (Shaad 38:18)

Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dikisahkan fisik Daud as yang prima sehingga beliau meninggal tidak didahului oleh sakit. Malaikat maut datang ke rumahnya dan mencabut nyawa Nabi Daud langsung dalam keadaan sehat.[7]

2. Hamba yang sangat taat kepada Allah

Selain beliau diangkat sebagai Rasul dan menerima kitab Zabur, di dalam beberapa hadits, Nabi saw menyatakan bahwa ibadah shaum dan qiyamul lail yang paling dicintai Allah adalah shaum dan sholat malam seperti yang dilakukan oleh Daud as.

Shalat yang paling disukai Allah ialah shalatnya Daud, dan shaum yang paling disukai Allah adalah shaumnya Daud. Dia tidur sampai tengah malam, lalu bangun sepertiganya (mengerjakan salat), dan tidur seperenamnya. Dan dia shaum sehari dan buka sehari, dia tidak pernah lari bila bertemu dengan musuh (dalam peperangan) dan ia adalah seorang yang amat taat kepada Allah. (HR Bukhari)

Di dalam hadits lain, Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abu Ad-Darda’ ra, bahwa Nabi saw menerangkan salah satu doa Daud as yang mencerminkan kecintaan beliau kepada Allah SWT:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْألُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَالعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ . اللَّهُمَّ اِجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِليَّ مِنْ نَفْسِيْ وَأَهْلِي ، وَمِنَ المَاءِ البَارِدِ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu amal ibadah yang menjadikan cintaMu tercurah kepadaku. Ya Allah, jadikanlah kecintaan kepadaMu lebih aku cintai daripada kepada diriku, keluargaku dan air yang sejuk.

Bila Rasulullah saw mengingat Nabi Daud as beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah. (HR Tirmidzi 3412)

3. Memiliki jiwa seni yang tinggi dan suara yang indah

Di dalam ayat lain, dikisahkan Daud as bertasbih berirama bersama-sama dengan burung, gunung dan alam sekitarnya:

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi (Shaad 38:18)

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud," dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan. (Saba' 34:10-11)

Ibnu Katsir menyebutkan, bahwa Allah mengaruniakan Daud suara yang sangat merdu yang belum pernah dikaruniakan pada orang lain. Disebutkan bahwa orang-orang yang mendengarnya akan meloncat-loncat seperti menari. Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Daud dapat melantunkan ayat-ayat di dalam kitab Zabur dengan tujuh puluh jenis suara. Suaranya yang merdu membuat orang yang sedih dan sakit menjadi lupa akan kesedihan dan penyakitnya.

4. Raja Bani Israil

Di dalam sejarah Yahudi disebutkan Daud as menjadi Raja pada Kerajaan Yehuda di Hebron 1010–1002 SM, dan kerajaannya menguasai seluruh Israil pada 1002–970 SM

Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan (sesudah meninggalnya Thalut) dan hikmah dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya... (Al-Baqarah 2:251)

Di ayat lain, juga disebutkan Daud as adalah raja yang adil bijaksana dalam menyelesaikan perselisihan (sosok pemersatu):

Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (Shaad 38:20)

Dikisahkan juga, Daud as diberi ujian dalam memberi keputusan perkara atas 2 orang yang bersengketa. Beliau kemudian bertaubat sebagaimana disebutkan pada ayat berikut:

Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shaad 38:24-26)

5. Pekerja Keras dan Berkarya

Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (Saba' 34:13)

... dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. (Saba' 34:10-11)

Di dalam satu hadits disebutkan,

Tidak ada seorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud as memakan makanan dari hasil usahanya sendiri. (HR Bukhari)

Telah dimudahkan bagi Nabi Daud as membaca kitabnya. Dia memerintahkan agar pelana hewan-hewan tunggangannya disiapkan, maka dia membaca kitabnya sebelum pelana hewan tunggangannya selesai disiapkan, dan dia tidak memakan sesuatu kecuali dari hasil usaha tangannya sendiri. (HR Bukhari 3164)

Ibnu Katsir menyebutkan Allah melunakkan besi untuk Daud sehingga dia dapat memintalnya dengan tangannya sendiri tanpa alat atau api. Disebutkan bahwa Daud kemudian menjual baju perang buatannya dengan harga setara 6000 dirham. Dikisahkan juga, baju perang besi hasil buatannya memiliki keistimewaan, yakni terdiri atas bulatan-bulatan besi sehingga pemakainya dapat bergerak bebas sekaligus terlindungi dari senjata musuh.

Meneladani Daud as

Dari rangkaian ayat dan hadits Nabi saw di atas, implisit Allah SWT mengajarkan kita untuk menggabungkan dua sisi kehidupan berikut:

  1. Kehidupan dunia, berkarya dan berkiprah di dunia. Dicontohkan, Daud as sebagai seorang petarung ulung, pemberani, memiliki fisik yang sehat dan kuat hingga akhir hayat, raja yang adil, seniman dan pengrajin besi.
  2. Kehidupan akhirat. Daud as adalah juga hamba yang sangat taat dalam beribadah (yang sampai disebut Rasulullah sebagai sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah) - yang sangat dekatnya dengan Allah serta mengharap cinta Allah tercurah kepadanya, serta mencintai Allah melebihi cinta kepada diri dan keluarganya.

Menjadi penguasa, petarung ulung dan pemberani, memiliki fisik yang sehat dan kuat, pekerja profesional bahkan menjadi seniman sekalipun, tidak serta merta menjadikan seseorang menjauh dari ketaatan dalam beribadah dan kecintaan kepada Allah SWT. Daud as menunjukkan bisa mengumpulkan seluruh kualitas tersebut menjadi satu.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Photo credit: Dan Gold


  1. Al-Baqarah 2:251 ↩︎

  2. Shaad 38:20 ↩︎

  3. Al-An'am 6:84 ↩︎

  4. An-Naml 27:15 ↩︎

  5. Shad 38:17 ↩︎

  6. Shad 38:25 ↩︎

  7. Suatu hari, Daud ke luar dan kediamannya pun telah dikunci. Tiba-tiba istrinya mengintip dan melihat ada seorang lelaki berdiri di ruang tengah. Istrinya melihat dan memeriksa keadaan rumahnya. Istri Daud melihat seorang laki-laki yang berdiri tegak di tengah rumah, dan terheran-heran, bagaimana orang ini masuk, padahal seluruh pintu dan jendela terkunci dengan rapat.
    Dia bertanya kepada penghuni rumah dan pelayannya bagaimana orang ini bisa masuk. Dia takut terhadap kemarahan Daud jika memergoki ada seorang laki-laki di rumahnya. Istrinya bertanya-tanya, "Siapakah lelaki yang berada di dalam kamar? Dari mana lelaki itu bisa masuk padahal pintu terkunci? Demi Allah, ini dapat mencemarkan nama baik Daud."
    Daud as pulang tidak lama setelah itu. Sementara laki-laki tersebut tetap berdiri sama seperti semula tanpa rasa khawatir dan takut. Biasanya orang-orang akan takut jika bertemu dengan raja, lebih-lebih untuk memasuki kediamannya.
    Lalu Daud bertanya kepada lelaki tersebut, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah yang tidak pernah merasa takut dengan para raja dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi diriku!”
    Daud as berkata, "Demi Allah, engkau adalah malaikat pencabut nyawa. Kalau begitu, aku ucapkan selamat datang kepadamu untuk melaksanakan perintah Allah." Kemudian Nabi Daud pun bergegas menuju kamar tempat ruhnya akan dicabut.
    Daud as meninggal dan jenazahnya diurus oleh anaknya (yang juga diangkat sebagai Rasul) Sulaiman as. Kisah ini terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. ↩︎