Muhasabah Diri

Jangan menjadi seorang yang mengharap kebaikan akhirat tanpa beramal untuknya, dan jangan menunda-nunda taubat dengan memperpanjang angan-angan (untuk bertaubat).

Jangan pula menjadi orang yang berbicara tentang dunia dengan ucapan-ucapan seorang zahid yang hatinya tidak tertambat kepadanya, sedangkan dalam kenyataannya dia melakukan perbuatan orang-orang yang sangat menginginkannya. Bila diberi sebagian darinya, tidak pernah dia merasa kenyang. Dan bila diberi sedikit, dia tidak merasa puas.

Dia tidak mampu mensyukuri apa yang dikaruniakan kepadanya, namun selalu menghendaki tambahan dari yang masih tersisa. Melarang orang lain melakukan dosa, tapi dia sendiri tidak berhenti melakukan dosa; dan menyuruh orang lain berbuat kebaikan, tapi dia sendiri tidak mengerjakannya. Dia — katanya — mencintai orang-orang saleh, tetapi tidak meniru amal mereka; dan membenci orang-orang yang berbuat maksiat, tetapi dia sendiri salah seorang dari mereka. Dia takut mati disebabkan banyak dosa-dosanya, tetapi tidak menahan diri darinya.

Bila jatuh sakit, dia menyesali dirinya, tetapi bila telah kembali sehat, dia merasa aman berbuat sia-sia. Dia berbangga hati bila beroleh 'afiat, tetapi segera berputus-asa jika mendapat cobaan. Bila ditimpa musibah, dia berdoa (karena) terpaksa, tetapi bila beroleh kemakmuran, dia berpaling dengan angkuhnya.

Nafsunya mengalahkannya dalam hal yang masih diragukannya, tetapi dia tak mampu mengalahkan nafsunya dalam hal yang telah diyakininya.[1]

Dia merisaukan dosa orang lain meskipun lebih kecil daripada dosanya sendiri; dan mengharap bagi dirinya pahala yang lebih besar daripada nilai perbuatannya sendiri. Bila merasa cukup kaya, segera dia berbesar hati dan merasa sombong. Akan tetapi bila jatuh miskin, segera berputus asa dan merasa hina, bermalas-malasan bila mengerjakan kebaikan, tetapi merengek melewati batas bila memohon sesuatu.

Bila tergoda oleh sesuatu yang membangkitkan syahwat nafsunya, dia segera mendahulukan maksiat dan mengundurkan taubat. Dan bila bencana menimpa, hampir-hampir dia keluar dari berbagai ikatan agamanya.

Sangat pandai memperingatkan orang lain (dari perbuatan buruk), tapi dia sendiri tidak meninggalkanya. Berlebih-lebihan dalam menasihati orang lain (dalam hal yang baik), tapi dia sendiri tidak mengerjakannya.

Amat banyak ucapannya, namun sedikit sekali amal baiknya. Bersaing memperebutkan sesuatu yang fana, tapi sangat mudah melepaskan yang baka. Yang benar-benar menguntungkan justru dianggapnya memberatkan, tapi yang sesungguhnya merugikan dianggapnya menguntungkan. Dia takut mati, tapi tidak segera menggunakan kesempatan yang tinggal sedikit.

Dia lebih suka bersenang-senang bersama orang-orang kaya daripada berzikir bersama orang miskin. Selalu memenangkan dirinya atas orang lain dan tidak pernah mengalahkan dirinya sendiri demi kepentingan orang lain. Dia membimbing orang lain, tapi menyesatkan dirinya sendiri.

Maka dia pun ditaati, tapi dia sendiri selalu menentang Tuhannya. Mengambil haknya sendiri sepenuhnya, tapi dia tidak memenuhi kewajibannya. Takut kepada makhluk, tapi tidak menghiraukan Tuhannya. Tak segan dia melawan-Nya dengan mengganggu makhluk-Nya....

(Dikutip dari "Nahjul Balaghah - Mutiara Kearifan Ali bin Abi Thalib r.a." oleh Muhammad Bagir. Penerbit Noura. 2015)

Photo credit: Rachid Oucharia


  1. Dia yakin bahwa hidup sederhana mendatangkan kebahagiaan, dan perbuatan baik menyebabkan kemuliaan, namun tidak mampu memaksa diri melaksanakannya. Sebaliknya, dia tidak sanggup menolak dorongan nafsunya bila melihat kesenangan yang dia sendiri meragukan keuntungannya. ↩︎