Samudera Al-Qur'an

Usai mengucap hamdalah yang merupakan pembuka setiap kitab dan menghaturkan shalawat yang merupakan penutup setiap pembicaraan, aku membangunkanmu dari tidurmu.

Wahai orang yang merutinkan diri membaca Al-Qur’an, yang menjadikan studi Al-Qur’an sekadar pekerjaan, yang menelan makna Al-Qur'an dari teks dan kalimatnya saja, hingga kapan engkau akan tetap berputar-putar di tepi samudera sambil menutup kedua mata dari melihat barang-barang mulia dan langka di dalamnya?

Tidakkah engkau ingin menaiki kapal untuk mengamati keajaiban-keajaibannya?
Tidakkah engkau ingin pergi ke pulau-pulaunya untuk menikmati keindahan-keindahannya?
Tidakkah engkau ingin menyelam ke samudera terdalam agar kau tak hanya puas dengan keindahan-keindahan luarnya saja?
Sampai kapan engkau terus membiarkan diri tetap terhalang melihat permata dan mutiara samudera karena puas melihat keindahan pantai dan tepinya saja?
Tidakkah sampai kepadamu bahwa Al-Qur’an adalah samudera yang sangat luas nan dalam? Dari samudera itulah ilmu generasi awal dan akhir digali, sebagaimana digalinya hari-hari dan waktu-waktunya dari perputaran pantainya.
Tidakkah engkau merasa iri melihat orang-orang yang menghadang gelombangnya sehingga mendapatkan belerang merah?
Tidakkah engkau merasa iri melihat orang-orang yang menyelam ke dalamnya untuk mengeluarkan batu yaqut merah, permata berkilau, dan zabarzad hijau, kemudian engkau berenang menyusuri pantai-pantainya, mendapatkan minyak ambar, kayu menyan terbaik, bersandar di pulau-pulaunya, memanggil hewan-hewan langka di dalamnya, dan menemukan barang-barang mulia lain seperti al-tiryaq al-akbar (antitoksin) dan misik adzfar.

Inilah aku membimbingmu seraya memenuhi hak persaudaraanmu, dan berharap kesediaanmu mengajak orang lain berwisata, menyelam, dan berenang di tengah samudera Al-Qur’an.

Dikutip dari Jawahirul Qur'an oleh Abu Hamid al-Ghazali al-Thusi.

Photo credit: pxhere.com